Jenazah Penuh Jahitan Dalam Dua Cerpen Felix K. Nesi

Advertisements

Oleh: Gusty Fahik

Cerpen Felix K. Nesi, Kutukan Perempuan Celaka (basabasi.co (22/12/2017) menyajikan beberapa kondisi sosial yang sebagiannya sedang berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini. Jika cerpen ini disandingkan dengan cerpen lain karya Felix Nesi, misalnya cerpen Mayat-Mayat Yang Hilang (Koran Tempo 04/11/2017) atau beberapa cerpen lain dalam buku kumpulan cerpen Usaha Membunuh Sepi (Pelangi Sastra Malang, 2016), akan terlihat bahwa Felix Nesi punya kecenderungan yang sama dalam cerpen-cerpennnya. Kesamaan yang saya maksud di sini ialah kecenderungan Felix mengusung persoalan-persoalan sosial masyarakat NTT, lebih khusus masyarakat Timor dalam cerpen-cerpennya.

Dua cerpen terakhirnya, Kutukan Perempuan Celaka dan Mayat-Mayat Yang Hilang bahkan bertolak dari hal yang sama, yakni tradisi sunat dalam masyarakat Dawan-Timor. Bagi saya, dua cerpen itu memiliki kesinambungan, sebab dua cerpen ini menyajikan dua ritual yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari satu tradisi yang sama; tradisi sunat masyarakat Dawan.

Dalam Kutukan Perempuan Celaka, Felix menyajikan nain fatu, ritual yang wajib dilakukan sebelum seorang pemuda Dawan disunat, sedangkan dalam cerpen Mayat-Mayat Yang Hilang, Felix menyajikan sifon, ritual yang baru dilakukan setelah seorang pemuda Dawan disunat.

Sekilas, Felix seperti ingin menguraikan tradisi yang masih menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat Timor itu. Pro dan kontra terkait praktik sunat ini timbul ketika praktik ini dipertentangkan dengan konsep kesehatan modern. Ada kekhawatiran bahwa tradisi sunat ini berbahaya bagi kesehatan karena alat-alat yang digunakan tidak steril, dan ritual sifon yang dilakukan setelah sunat berisiko menularkan berbagai penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS.

Rupanya Felix tidak sedang ingin menulis pembelaan atau berupaya mengatasi pro-kontra yang muncul dari praktik tradisi masyarakatnya itu. Felix sedang menjadikan tradisi ini sebagai titik tolak berkisah untuk membawa pembaca menyelami aneka persoalan sosial yang berjalin kelindan dalam masyarakat Timor-NTT. Ia menjadikan tradisi ini sebagai gerbang masuk ke rumah NTT yang penuh persoalan sosial. Felix menjadikan kisah-kisah tragis seputar ritual nain fatu dan sifon untuk membeberkan persoalan lain yang tidak kalah menghentak.

BACA JUGA:  Parade Puisi Penyair Er Diku dari Atambua

Salah satu persoalan sosial yang sedang hangat terjadi dan ditemukan dalam dua cerpen di atas adalah kembalinya jenazah para pekerja migran asal NTT dengan kondisi penuh jahitan dan kehilangan sebagian organ dalam tubuh. Dalam cerpen Mayat-Mayat Yang Hilang, Felix memberi gambaran yang sangat singkat tentang kondisi jenazah para pekerja migran yang kembali tanpa organ dalam itu.

Pada dua kalimat pertama paragraf ketujuh belas cerpen itu Felix menulis “Memanglah akhir-akhir ini, banyak perempuan Timor yang mati. Baik mati saat melahirkan, maupun mati sebagai tenaga kerja di negeri seberang, dikirim pulang dalam peti mayat dengan isi perut kosong melompong.”

Hanya itulah yang tertulis. Tidak ada keterangan apapun, misalnya mengapa perut jenazah itu kosong melompong, atau untuk apa isi perut itu dikeluarkan. Baru pada cerpen Kutukan Perempuan Celaka, ada keterangan tambahan mengenai kasus yang sudah “disinggung” pada cerpen terdahulu. Ini terdapat dalam gambaran mengenai kondisi Ain Liko, perempuan janda tua renta yang bersedia menerima dan menampung tokoh Aku dalam rumahnya.

Felix menulis, “Ain Liko seorang janda tua renta, yang hidup dua batang kara bersama cucu perempuannya yang berusia enam tahun. Ia punya empat orang anak, tapi keempat anak itu telah menjadi tenaga kerja di luar negeri. Tiga di antaranya sudah pulang sebagai mayat yang penuh jahitan di tubuh; jahitan yang memanjang dari bawah perut sampai ke tenggorokan. Sekarang, tinggal satu anaknya yang masih hidup, masih hidup di Malaysia. Kami semua tahu, bahwa sebentar lagi anak itu juga akan pulang sebagai mayat, sebab konon bisnis organ tubuh sedang membaik”.

Keterangan tambahan yang diberikan Felix ada pada potongan kalimat terakhir “…bisnis organ tubuh yang sedang membaik.” Kiranya ada hubungan antara “isi perut yang kosong melompong, mayat yang penuh jahitan…yang memanjang dari ba wah perut hingga tenggorokan,” dengan “bisnis organ tubuh yang sedang membaik.” Organ-organ dalam para pekerja migran asal NTT yang telah menjadi jenazah itu rupanya telah diambil untuk dijadikan komoditi dalam bisnis perdagangan organ tubuh.

BACA JUGA:  PARADE PUISI - Aku Teracuni

Persoalan pekerja migran asal NTT lebih runyam dari yang disentil Felix dalam dua cerpen itu. Sebagian besar pekerja migran asal NTT berangkat ke negara/daerah tujuan kerja tanpa dokumen asli. Mereka berangkat dengan KTP dan Kartu Keluarga yang telah dipalsukan oleh sindikat perdagangan orang yang beroperasi di wilayah NTT. Ketiadaan dokumen asli ini tidak saja menyulitkan para pekerja untuk mendapat perlindungan hukum ketika bekerja di luar negeri, melainkan berimbas pula pada kondisi ketika ada yang kembali sebagai jenazah.

Ketika jenazah tiba di Kupang, pihak-pihak yang bertanggung jawab kesulitan menghubungi keluarga korban, sehingga pernah terjadi ada jenazah yang disimpan hingga tiga hari di terminal kargo bandara El Tari, Kupang. Alamat dan nomor kontak yang disertakan dalam pengiriman jenazah itu ternyata tidak bisa dihubungi.

Sebagian orang NTT telah dijual seperti budak. Data-data yang dikeluarkan Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (JRUK) Kupang menunjukkan jumlah korban perdagangan orang NTT yang kembali sebagai jenazah terus meningkat dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2016 jumlah jenazah TKI yang dikirim kembali NTT adalah 46 jenazah.

Tahun 2017, sebagaimana dituturkan Siwa, Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Balai Pelayanan Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang, jumlah TKI yang meninggal di Malaysia meningkat menjadi 62 orang. Dari 62 orang ini, hanya satu orang yang berangkat lewat prosedur resmi, sementara sisanya berangkat melalui jalur non-proseudral alias ilegal (https://regional.kompas.com/read/2018/01/04/17005731/selama-2017-62-tki-asal-ntt-meninggal-di-malaysia). Tahun 2018, menurut data J-RUK Kupang, hingga pertengahan Februari, sudah ada 10 TKI NTT yang diketahui meninggal dunia. Jumlah ini bertambah menjadi 13 orang pada pertengahan Maret 2018.

Laporan Tempo pada Juni 2015 menyebutkan dalam 4 tahun NTT menyumbang 27 ribu TKI, yang didominasi oleh perempuan dan anak-anak. Pada Agustus 2016, Tempo kembali menurunkan laporan bahwa NTT menjadi salah satu provinsi pemasok TKI ilegal terbesar di Indonesia. Mengutip keterangan Dedi Cahyanto, Staf Khusus Kepala BNP2TKI, Tempo menyebutkan pada tahun 2016 secara keseluruhan ada 1,3 juta TKI ilegal yang bekerja di luar negeri.

BACA JUGA:  PARADE PUISI NATAL Penyair Sonny Kelen dari Ledalero

Ada begitu banyak sebab mengapa jumlah TKI non-prosedural asal NTT yang berangkat ke luar negeri begitu tinggi. Direktur Eksekutif Migrant CARE, Wahyu Susilo menilai ada hubungan antara tingginya jumlah TKI non-prosedural dengan korupsi yang menggurita di kalangan pejabat dan aparat pemerintah di NTT (Tempo, 02/03). Ada beberapa kasus yang menunjukkan keterlibatan oknum aparat pemerintah dalam melanggengkan praktik perdagangan manusia di NTT seperti disebutkan Wahyu Susilo.

Faktor lainnya, hemat saya, bisa dilihat dalam cerpen Mayat-Mayat yang Hilang. Potret ketimpangan sosial masyarakat Timor akan dengan mudah terbaca di sana. Kondisi yang timpang itu dapat disebutkan misalnya tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Akibatnya, banyak anak muda memilih menjadi tukang ojek atau pengangguran sebelum akhirnya beranjak mencari kerja sebagai buruh migran. Persoalan lain ialah koneksi antara pencari kerja dengan pemberi kerja.

Kondisi terakhir ini tidak hanya menimpa mereka yang tidak memiliki latar pendidikan tertentu. Tokoh Aku yang adalah seorang sarjana lulusan perguruan tinggi di Jawa pun harus mengandalkan koneksi dengan sepupunya yang terpilih sebagai bupati untuk bisa menduduki jabatan lurah. Bagaimana nasib sarjana-sarjana lain yang barangkali punya kompetensi dan kualitas mumpuni tetapi tidak punya koneksi kekerabatan dengan mereka yang punya jabatan tinggi?

Jika kita berpegang pada pemahaman klasik bahwa karya sastra adalah tiruan/mimesis dari dunia nyata maka sangat mungkin kondisi ketimpangan sosial yang digambarakan Felix dalam cerpennya itu benar-benar terjadi di dalam dunia nyata. Felix telah mencoba membahasakannya dengan medium sastra dan memberi aroma fiksi atas apa yang sebetulnya terjadi dalam kenyataan sosial masyarakat.

Akhirnya, dalam dua cerpen ini, Felix K. Nesi tidak saja membawa pembaca untuk mengenal tradisi dan kosa kata-kosa kata bahasa Dawan. Ia justru sedang melemparkan ke hadapan pembaca beban-beban yang selama ini menindih masyarakatnya. Bisa jadi ia sedang mengambil tanggung jawab sosialnya sebagai penulis sastra, sesuatu yang sedang dirisaukan oleh sebagian kalangan di NTT ketika sastra dianggap tidak mampu mengubah kondisi sosial masyarakat.

Kupang, Maret 2018

Advertisements

Advertisements