Habis Ekspos, Penyidik Polda NTT Enggan Umumkan Tersangka, Ketua Araksi NTT Tanya: Kenapa Takut?

Advertisements

“Kenapa takut diumumkan nama-nama tersangka? Khan kasus ini sudah diketahui publik sejak diusut tahun 2019 lalu oleh Polres TTS. Kemudian diambilalih Polda NTT 2020 lalu. Karena itu publik berhak tahu,” tandas Alfred Baun dengan nada heran.

Rumah Sakit Pratama (RSP) Boking di Kabupaten TTS

Korupsi Proyek Pembangunan Rumah Sakit Pratama Boking

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Ketua Aliansi Rakyat Anti Korupsi Nusa Tenggara Timur (Araksi NTT), Alfred Baun, mengaku sangat heran karena penyidik Polda NTT enggan mengumumkan nama para tersangka dalam kasus korupsi proyek pembangunan Rumah Sakit Pratama (RSP) Boking yang menelan dana senilai Rp 17,4 Miliar.

“Kenapa takut diumumkan nama-nama tersangka? Khan kasus ini sudah diketahui publik sejak diusut tahun 2019 lalu oleh Polres TTS. Kemudian diambilalih Polda NTT 2020 lalu. Karena itu publik berhak tahu,” tandas Alfred Baun dengan nada heran.

Proyek pembangunan RSP Boking bersumber dari DAK Afirmasi senilai Rp 17,4 miliar. Dikerjakan PT Tangga Batu dari Jakarta. Hasil audit BPKP NTT terdapat kerugian negara sebesar Rp 14 miliar.

Tampak salah satu sudut bangunan Rumah Sakit Pratama Boking sudah rusak, temboknya ambruk

“Tim ahli teknis dari Politeknik Undana sudah memeriksa fisik proyek pada tanggal 19 September 2019 lalu. Hasilnya, bangunan itu dikerjakan tidak sesuai bestek dan banyak kerusakan. Tembok pecah dan ambruk, plafon rubuh dan lantai keramik ambles,” ungkap Baun.

Hasil audit BPKP Perwakilan NTT dan pemeriksaan teknis oleh tim ahli dari Politeknik Undana sudah rampung dilakukan. Dan sudah diserahkan ke penyidik Polda NTT.

“Lalu apa lagi yang kurang? Semua bukti sudah dibeberkan dengan jelas. Mestinya penyidik Polda NTT tidak boleh ragu mengumumkan para tersangka kepada publik,” tandas Alfred Baun.

Hal lain lagi, beber Alfred Baun, ada oknum pejabat yang mencoret biaya item pekerjaan tembok penahan tebing yang mengelilingi gedung RS Pratama Boking.

“Saat terjadi pergerakan tanah, tembok rumah sakit retak bahkan ada yang ambruk. Lantai keramik ambles. Ini yang menyebabkan kenapa gedung rumah sakit itu berantakan dan hancur setelah dikerjakan,” jelas Alfred Baun. (k-1/tim)

Editor: Ade

Advertisements

Advertisements

Advertisements