GURU MENULIS – Saba Paul, Disiplin dan Arogansi Kekuasaan

Advertisements

OLEH: JOHN MAMUN SABALEKU

Tidak penting apakah seseorang punya kemampuan atau tidak yang penting manut. Sementara orang yang punya otak dan kemampuan dan taat aturan tersingkir dari gelanggang. Itulah yang terjadi di Lembata saat ini. Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang akan merusak tatanan dan kualitas birokrasi itu sendiri. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua ke depan.

Paul Sinakai Saba

Paulus Sinakai Saba adalah seorang PNS yang sudah malang melintang di berbagai jabatan birokrasi di Lembata. Ia menjadi PNS setelah lulus dari Jurusan Antropologi, FISIP Universitas Hasanudin Makassar Tahun 1998. Ia pernah menduduki jabatan Kabag Pemerintahan, Camat Wulandoni dua kali, Sekretaris Perindustrian, Sekretaris Kesbangpol dan terakhir Sekretaris Dinas Pariwisata.

Namun karir di birokrasi yang dia rintis dari nol ini, mengalami anomali ketika ia mengakhiri masa tugasnya sebagai Camat Wulandoni dan menempati pos baru sebagai sekretaris Kesbangpol. Dalam perjalanan dalam jabatan baru itu ia di nonjobkan bersama beberapa rekannya. Entah kesalahan apa gerangan yang dia lakukan, hanya pejabat yang memberhentikannya yang tahu. Akhirnya ia pun melakoni status sebagai staf di Setda Lembata.

Setelah menjalani statusnya sebagai staf sekian lama di Setda Lembata, pada tanggal 8 Agustus 2020 lalu, Paul d percayakan oleh atasannya menempati pos Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata. Kepercayaan yang diberikan ini tentu dia jalani dengan penuh rasa tanggungjawab.

Namun sejak tanggal 11 September 2020 lalu, ia kembali dinonjobkan tanpa alasan yang jelas. Praktis ia hanya satu bulan saja menempati pos Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dinas yang menjadi sorotan karena kasus Awalolong. Kejadian ini sontak menjadi pembicaraan ramai di Lembata.

Peristiwa lengsernya Paul dari jabatan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata, menurut informasi yang berkembang di media sosial, berawal dari persoalan disiplin.

Hari itu Senin 7 September 2020, Paul bersama kepala bidang dan staf Dinas Pariwisata, sedang menunggu Kepala Dinas Apol Mayan untuk apel pagi. Namun sang kadis tak kunjung tiba di kantor. Padahal waktu sudah nenunjukkan pukul 08.00 wita. Karena tidak ada berita Paul meminta kepala bidang dan staf menyiapkan barisan sambil menunggu kepala dinas. Namun sampai barisan sudah siap, kadis tidak kunjung tiba padahal waktu sudah menunjukan jam delapan lewat.

Akhirnya tanpa pretensi apa-apa, karena barisan sudah siap, Paul berinisiatif untuk memulai apel dengan dirinya sebagai pembina upacara. Lalu upacara bendera dimulai. Namun sampai di pertengahan upacara, sekitar pukul 08.15 wita, saat Paul sementara mengucapkan sila kedua Pancasila, sang kadis tiba dan keluar dari mobil dinas langsung menghentikan upacara bendera, sambil mengatakan kalau hanya dialah kadis. Tidak ada matahari kembar di dinas itu. Dan apel bendera pun bubar.

Setelah peristiwa itu, pesoalannya melebar. Paul lalu di BAP oleh Kabag Hukum Setda Lembata. Dengan itikad baik Paul memenuhi panggilan untuk menjalani pemeriksaan tanpa mengetahui kesalahan fatal apa yang dia buat. Saat pemeriksaan pun prosedure pemeriksaan juga tidak sesuai aturan namun Paul menjalani saja.

Sang pemeriksa langsung bertanya ke inti persoalan. Lalu Paul pun menjawab sesuai apa yang dia alami dan lakukan. Namun pertanyaan selanjutnya justru berupaya memojokan Paul. Akhirnya terjadi ketegangan dan pemeriksaan terhenti. Salah seorang pejabat kepegawaian yang hendak mengambil alih pemeriksan juga gagal, karena keadaan masih tegang. Akhirnya pemeriksaan tidak dilanjutkan, tanpa ada hasil pemeriksaan.

Namun tidak lama berselang sejak pemeriksaan itu, keluarlah surat untuk menonjobkan Paul dari jabatannya sebagai sekretaris dinas, terhitung mulai tanggal 11 September 2020. Kejadian ini patut kita sesalkan karena bukan soal jabatan yang penting tetapi soal kematangan dalam pengambilan keputusan terhadap status seorang PNS.

Sebab jika ditelusuri, kasus lengsernya Paul, adalah tumbal dari tidak disiplinnya seorang kadis. Karena itu patut diduga, daripada menanggung malu karena kurang disiplinnya diketahui, maka secepat mungkin kerikil yang menjadi batu sandungan dia singkirkan. Dan Paul terpaksa menjadi korban dari arogansi sang kadis itu.

Persoalan ini jika dikaitkan dengan teori militer seakan menemui kebenarannya. Dalam kebiasaan militer ada adagium yang mengatakan kill or to be kill. Maka lebih baik membunuh daripada terbunuh.

Sementara dalam teori kekuasaan, siapa yang lebih dekat dengan penguasa maka apa yang dikatakan adalah sabda. Dengan demikian apa yang dikatakan sang kadis, adalah kebenaran walau secara moral dan etis tidak demikian.

Tidak penting apakah seseorang punya kemampuan atau tidak yang penting manut. Sementara orang yang punya otak dan kemampuan dan taat aturan tersingkir dari gelanggang. Itulah yang terjadi di Lembata saat ini. Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang akan merusak tatanan dan kualitas birokrasi itu sendiri. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua ke depan. (***)

Advertisements

Advertisements

Advertisements