Gelar Ceramah Khilafah di Kota Kupang, Eks HTI Dibubarkan Laskar Timor Indonesia

Advertisements

“Kami sempat beri pemahaman tentang NKRI dan Pancasila serta UUD 1945. Kami mencoba merangkul mereka. Tapi mereka tetap bersikeras pada pemahaman mereka bahwa tetap NKRI tapi berlandaskan paham khilafah dan ajaran syariat Islam. Terpaksa dibubarkan. Dan mereka akhirnya pergi dari restoran tersebut,” jelas Ketua Umum LTI, Ady WF Ndyi, Sabtu (26/10/2019).

Laskar Timor Indonesia (LTI) berdialog dengan panitia ceramah eks HTI agar membubarkan diri, Sabtu (26/10/2019)

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Eks Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) secara diam-diam menggelar ceramah tentang khilafah di sebuah restoran di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (26/10/2019) siang. Ceramah ini akhirnya dibubarkan oleh Ormas Laskar Timor Indonesia (LTI).

Aksi pembubaran ceramah berjalan aman, damai, dan tertib. Panitia ceramah dan puluhan mahasiswa dan warga simpatisan eks HTI membubarkan diri secara sukarela, setelah diberi pemahaman melalui dialog yang cukup alot.

“Kami sempat beri pemahaman tentang NKRI dan Pancasila serta UUD 1945. Kami mencoba merangkul mereka. Tapi mereka tetap bersikeras pada pemahaman mereka bahwa tetap NKRI tapi berlandaskan paham khilafah dan ajaran syariat Islam. Terpaksa dibubarkan. Dan mereka akhirnya pergi dari restoran tersebut,” jelas Ketua Umum LTI, Ady WF Ndyi, Sabtu (26/10/2019).

Ketika didatangi anggota LTI, hampir sebagian besar anggota eks HTI dan simpatisannya melarikan diri. Namun beberapa orang tetap duduk dalam restoran tersebut. Lalu diajak dialog oleh anggota LTI soal NKRI dan Pancasila.

“Mereka ceramah soal Neoliberalisme dengan menghadirkan seorang ustadz. Tapi itu cuma bungkusan saja. Ternyata paham khilafah yang disampaikan sebagai solusi untuk mengatasi neoliberalisme,” ungkap Ady.

LTI dibangun oleh pemuda Timor sejak 2018 yang bertugas mendeteksi dan melawan setiap gerakan radikal yang merongrong Pancasila, NKRI, dan UUD 1945, serta budaya Timor dan keamanan di NTT. (k-1)

Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements