Gara-Gara Rebutan ‘Kursi Kades’, Warga Dua Desa Perang Tanding: Dua Warga Terluka Parah dan Satu Tewas Mengenaskan

Advertisements

Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan awalnya keributan dipicu oleh dua kubu dari calon kades berbeda di Desa Mata Kapore saling olok-mengolok. Yaitu antara kubu Cakades Daud Horo dan kubu Cakades Okta Halato.

Korban tewas akibat perang tanding antar kubu dalam Pilkades di Kodi, Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Identitas korban belum diketahui karena dompetnya tanpa tanda pengenal, saat ditemukan di semak belukar, Sabtu (12/6/2021).

 

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Kini jabatan kepala desa sudah masuk kategori jabatan elit. Pesona dana desa (DD) dan anggaran dana desa (ADD) miliaran rupiah yang dikelola kades dan perangkatnya, menjadi magnet luar biasa untuk orang berupaya merebut ‘kursi kades’ lewat pemilihan kepala desa (pilkades).

Akan menjadi soal jika gelanggang pilkades justru harus diwarnai tumpahan darah karena masing-masing kubu berupaya memenangkan calonnya. Entah upaya yang dipakai benar atau juga upaya ‘potong kompas’. Riskan memang. Tapi apapun bentuk upaya itu, korban berjatuhan justru adalah rakyat sendiri. Orang kecil yang tidak tahu-menahu persoalan.

Salah satu contoh, terjadi perang tanding warga dua desa di Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagaimana dikutip dari suarajarmas.com, sejak Jumat (11/6/2021) dan Sabtu (12/6/2021) warga Desa Mata Kapore terlibat perang tanding. Peristiwa ini terjadi usai digelar kampanye pilkades setempat. Rencananya, pada tanggal 30 Juni 2021 nanti, akan digelar pilkades serentak se-Kabupaten Sumba Barat Daya.

Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan awalnya keributan dipicu oleh dua kubu dari calon kades berbeda di Desa Mata Kapore saling olok-mengolok. Yaitu antara kubu Cakades Daud Horo dan kubu Cakades Okta Halato.

Karena olokan berkembang menjadi caci-maki, maka dua kubu itu saling kejar-mengejar disertai melempari batu. Ada juga yang mengejar pakai parang terhunus sambil mengeluarkan teriakan dan pekikan khas orang Sumba.

Pendeta Nandus Ratu Nadung, S.Th, seorang pendeta dari Gereja Kristen Sumba (GKS) yang melayani Jemaat Mata Kapore, saat mendengar keributan itu, mencoba melerai pertikaian.

Namun naas, ia jatuh pingsan bersimbah darah setelah terkena hujan batu dari dua kubu massa yang saling melempar dan saling mengejar pakai parang terhunus.

Yosep, seorang warga dari Desa Mere Kehe, yang tidak tahu-menahu dan kebetulan hadir di TKP dalam rangka pesta adat, menjadi korban pembacokan. Saat hendak melerai pertikaian itu, Yosep ditebas pakai parang hingga leher dan punggungnya terluka.

Dua korban, yaitu Pendeta Nandus Ratu Nadung, S.Th, dan Yosep dilarikan ke rumah sakit.

Warga Desa Mere Kehe, yang mendengar kabar Yosep menjadi korban salah sasaran dalam pertikaian antar kubu pendukung usai kampanye Pilkades di Desa Mata Kapore, mendatangi TKP dengan membawa aneka senjata tajam. Mereka ingin membalas dendam.

Akibatnya, pecah perang tanding antar warga dari dua desa berbeda.

Diperoleh informasi, usai perang tanding itu, pada Sabtu (12/6/2021) pagi ditemukan sesosok mayat pria tanpa identitas semak belukar. Korban sudah dievakuasi ke rumah sakit. Sampai sekarang identitas mayat belum diketahui dari desa mana. Sebab isi dompetnya tanpa KTP atau identitas lainnya.

Kapolres Sumba Barat Daya (SBD), AKBP Joseps FH Mandagi S.IK, yang dikonfirmasi via pesan instan WhatsApp, Minggu (13/6/2021) pagi, belum merespons pertanyaan wartawan. Terlihat pesan cuma diread (dibaca) tanpa menjawab pertanyaan. (*/k-1)

Editor: Ade

Advertisements

Advertisements

Advertisements