Dua Nelayan Pantura TTU Ditemukan Terdampar di Oecussee, Timor Leste

Advertisements

“Kemarin, Minggu (05/07/2020) sekitar pukul 23.00 WTL (waktu timor leste), dua nelayan WNI terlihat menggunakan pelampung, terdampar di tepi pantai, yang berjarak sekitar 50 meter dari Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse. Kami dari pihak KBRI, Dinas Kesehatan, Kapolres PNTL Oecusse dan otoritas Oecusse lainnya langsung menuju ke TKP. Kedua nelayan tersebut langsung dibawa ke Hotel Ambeno tempat akomodasi khusus karantina Covid-19,” jelas Marya Onny Silaban, Kepala Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse, Timor Leste.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Dua dari empat nelayan, warga negara Indonesia (WNI) asal Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hilang sejak Sabtu pagi (4/7/2020) ditemukan terdampar di tepi pantai Perairan Oecussee, Timor Leste.

Sementara dua nelayan kakak beradik lainnya, Jefrianus Naiheli dan Yani Naiheli, sampai Selasa (7/7/2020) pagi, belum ditemukan.

Pihak Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse, membenarkan temuan dua nelayan WNI yang terdampar di perairan Oecusse, ketika dihubungi melalui telepon genggam, Senin (6/7/2020). Dua nelayan asal kabupaten TTU ditemukan terdampar di tepi pantai Perairan Oecusse, Desa Costa, Kecamatan Pante Macassar, tepatnya di depan Kantor KBRI Oecusse, Timor Leste.

“Kemarin, Minggu (05/07/2020) sekitar pukul 23.00 WTL (waktu timor leste), dua nelayan WNI terlihat menggunakan pelampung, terdampar di tepi pantai, yang berjarak sekitar 50 meter dari Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse.
Kami dari pihak KBRI, Dinas Kesehatan, Kapolres PNTL Oecusse dan otoritas Oecusse lainnya langsung menuju ke TKP. Kedua nelayan tersebut langsung dibawa ke Hotel Ambeno tempat akomodasi khusus karantina Covid-19,” jelas Marya Onny Silaban, Kepala Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse, Timor Leste.

Adapun identitas kedua nelayan WNI yang ditemukan, yakni Yohanes Nabu (36) dan Primus Taunais (24). Keduanya merupakan warga Desa Oepuah Utara, Kolamtua, Mena, Kabupaten TTU.

Dan sesuai hasil pemeriksaan tim medis, kondisi kedua nelayan WNI mengalami luka ringan pada bagian perut dan sudah diobati oleh pihak medis Gugus Tugas Covid-19 Oecusse.

“Luka ringan yang dialami diakibatkan terkena goresan pelampung yang digunakan saat berenang ke tepi pantai”, kata Marya Silaban.

Sementara perahu motor yang ditumpangi keduanya sudah diamankan di Kantor Polsek Boknana.

“Proses investigasi sudah selesai dilakukan oleh otoritas Oecusse kedua nelayan WNI dinyatakan murni mengalami musibah dan tidak ada motif kriminalitas. untuk itu, kedua nelayan akan dideportasi Selasa (7/7/2020). Kami upayakan kedua nelayan dan perahu motornya dapat dideportasi dengan baik melalui PLBN Wini,” jelas Marya Silaban.

Pihak KBRI Dili di Oecusse pada Senin (6/7/2020) sore, tepatnya pukul 18.00 WTL, telah menjemput perahu motor milik nelayan WNI yang sebelumnya diamankan di Kantor Polsek Boknana, sekitar 40 km dari kantor KBRI Oecusse.

Dijelaskannya, Standar Operasi (SOP) di Oecusse, selama pandemik adalah setiap WNA/WNTL yang masuk Oecusse, baik melalui jalur legal/illegal/ terdampar, harus dikarantina. Untuk kasus WNI terdampar/pelintas ilegal, sepanjang tidak terindikasi melakukan tindak kriminal, KBRI memiliki SOP, yakni pengembalian/deportasi langsung ke wilayah Indonesia setelah selesai verifikasi dari otoritas Oecusse.

Kronologi

Tentang kronologi kecelakaan laut itu, pihak KBRI Dili di Oecussee memperoleh keterangan, bahwa awalnya pada Sabtu pagi itu, keempat nelayan masuk ke laut untuk menangkap ikan. Mereka menggunakan perahu motor Honda 6 PK di area perairan Kolamtua, Oebubun, Mena, TTU.

Setelah berada di tengah laut pada pukul 12.00 wita, perahu mengalami kerusakan mesin. Dan perahu yang dipakai kemasukan air lalu tenggelam. Keempat nelayan itu tetap berpegangan pada badan perahu yang terus mengapung.

Diperkirakan pada pukul 14.00 wita, dua nelayan kakak-beradik Jefrianus Naiheli dan Yani Naiheli, memutuskan berenang ke tepi pantai untuk meminta bantuan. Keduanya menggunakan jerigen sebagai pelampung.

Meski telah menunggu selama 16 jam, kedua kakak beradik itu belum kembali membawa bala bantuan. Yohanes Nabu dan Primus Taunais pun memutuskan berenang ke tepi pantai dengan menggunakan pelampung pukat.

Namun mereka terseret arus dan angin kencang hingga akhirnya terdampar di pantai Oecussee, Timor Leste.

Diberitakan sebelumnya, empat nelayan asal Timor Tengah Utara (TTU)dinyatakan hilang sejak Sabtu (04/07/2020)dari Perairan Oepuah, Pantai Utara.

Keempat nelayang yang hilang, masing – masing, Yohanes Banu, Defri Naiheli, Yani Naiheli dan Primus Taunae merupakan warga RT 05 / RW 02 Dusun Nino, Desa Oepuah Utara kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten TTU. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements