Dokter RSUD Kefamenanu Terancam Dipidana Karena Diduga ‘Sandera’ Hasil Visum et Repertum

Advertisements

“Barang siapa yang menghalang-halangi proses penyelidikan yang sementara berjalan, dikenakan tindak pidana. Dan jika hasil visum belum keluar sampai saat ini, bisa dikategorikan sebagai upaya menghambat atau menghalang-halangi proses penyelidikan”, tandas Charlie Usfunan mengingatkan.

Charlie Yustus Usfunan, S.H, M.H

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Sudah satu bulan, hasil visum et repertum terhadap korban penganiayaan Margorius Bana, belum diterbitkan oleh oknum dokter di RSUD Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Charlie Yustus Usfunan, S.H, M.H, selaku kuasa hukum Margorius Bana mengingatkan, jika ada kesan oknum dokter ‘menyandera’ hasil visum tersebut, maka yang bersangkutan terancam dipidana karena menghalang-halangi penyidikan kasus tindak kriminal yang sementara ditangani polisi.

Menurut Usfunan, visum et repertum merupakan laporan tertulis yang dibuat dokter dalam ilmu kedokteran forensik berdasarkan pemintaan dari penyidik yang berewenang terkait dengan hasil pemeriksaan medik terhadap manusia dalam keadaan hidup ataupun mati dan atau pada area tubuh tertentu yang dibuat berdasarkan keilmuan dan dibawah sumpah untuk kepentingan pro yustisia.

“Jadi, setelah ada tindakan visum, tentunya klien saya perlu mengetahui hasilnya. Namun sampai dengan hari ini, pihak penyidik saja belum.memperoleh hasil visum dari pihak RSUD setempat. Ada apa ini?” tanya Usfunan kesal.

Usfunan menegaskan, polisilah yang harus mengejar hasil visum itu. Karena pada saat ada tindakan visum, korban diantar dan didampingi langsung oleh polisi yang membawa surat resmi permintaan visum.

“Barang siapa yang menghalang-halangi proses penyelidikan yang sementara berjalan, dikenakan tindak pidana. Dan jika hasil visum belum keluar sampai saat ini, bisa dikategorikan sebagai upaya menghambat atau menghalang-halangi proses penyelidikan”, tandas Charlie Usfunan mengingatkan.

Tulis Surat ke Kapolres TTU

Sementara itu Usfunan juga mengungkapkan, pihaknya sudah mengirim surat ke Kapolres TTU, yang isinya secara garis besar meminta informasi perkembangan penyelidikan kasus penganiayaan oleh Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt terhadap Margorius Bana, kliennya.

“Klien kami telah melaporkan suatu peristiwa penganiayaan yang dialaminya dan telah melaporkan peristiwa tersebut kepada Kepolisian Resor Timor Tengah Utara untuk memberitahukan perkembangan dari Laporan Nomor Polisi : SPTL/406/XII/2020/NTT/RES TTU tertanggal 07 Desember 2020”, kata Charlie Usfunan kepada wartawan di Kefamenanu, Kamis (07/01/2021).

Menurutnya, permohonan perkembangan Laporan Kepolisian yang disampaikan sudah berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Bahwa berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia, pasal 39 ayat 1, berbunyi dalam hal menjamin akuntabilitas dan transparansi penyidikan, penyidik wajib memberikan SP2HP kepada pihak pelapor baik diminta atau tidak diminta secara berkala paling sedikit 1 kali setiap 1 bulan. Jadi kami mohon kepada Kepolisian Resor Timor Tengah Utara untuk memberikan SP2HP dan menindaklanjuti Laporan Kepolisian sebagaimana dimaksud,” jelas advokat dan konsultan hukum pada Kantor Hukum “Charlie Usfunan, SH, MH dan Partners, yang beralamat di Jl. Gunung Bromo XI No.8 Denpasar-Bali.

Surat berperihal Surat Permohonan Perkembangan Laporan Kepolisian tersebut dengan tembusan ke Kejaksaan Negeri Timor Tengah Utara, Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur, Irwasda Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur dan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, menurut Charlie hanya bersifat pemberitahuan ke tingkat atas.

“Surat ini sifatnya hanya pemberitahuan, bahwa ada kasus ini di kabupaten TTU dan penanganan kasusnya seperti ini,” jelas Charlie.

Sebelumnya diberitakan, klien Charlie bernama Margorius Bana
diduga dianiaya oleh Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, di Desa Oelneke, Kecamatan Musi, tanggal 6 Desember 2020 malam.

“Bupati TTU tinju saya tiga kali pakai tangan kiri. Pertama di dada saya, kedua di bahu kiri saya dan ketika di dagu dekat pipi kanan. Mungkin karena dia pakai cincin sehingga dagu sempat luka dan bengkak”, jelas Bana kepada wartawan di Kefamenanu, Selasa (8/12/2020) malam lalu, usai melapor ke Mapolres TTU.

Padahal, lanjut Bana, ia tidak punya masalah atau dendam dengan Bupati TTU sebagai pribadi maupun sebagai pejabat. la menduga Bupati TTU menganiaya dirinya terkait Pilkada Serentak TTU yakni dukung mendukung paket pasangan calon tertentu. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements