Dituduh Gerayangi Seorang Wanita, Sang Kades Murka dan Hukum Tempel Besi Panas ke Tangan Pria Ini

Advertisements

“Saya dituding grepe-grepe payudara seorang wanita bahkan dituding meniduri wanita yang beralamat satu kampung dengan saya. Padahal saya sudah membantahnya. Karena memang tidak pernah melakukan seperti yang ditudingkan itu. Tapi saya dipaksa untuk ditempel plat besi panas di telapak tangan sebagai hukum adat,” jelas Ariyanto Senin (16/11/2020

MAUMERE, HALAMANSEMBILAN.COM – Naas menimpa Mikhael Ariyanto (29), warga Dusun Tadat, Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Telapak tangan pria ini ditempeli plat besi yang dipanaskan dengan api hingga terluka parah.

“Saya dituding grepe-grepe payudara seorang wanita bahkan dituding meniduri wanita yang beralamat satu kampung dengan saya. Padahal saya sudah membantahnya. Karena memang tidak pernah melakukan seperti yang ditudingkan itu. Tapi saya dipaksa untuk ditempel plat besi panas di telapak tangan sebagai hukum adat,” jelas Ariyanto Senin (16/11/2020).

Tudingan yang tidak benar dan belum diklarifikasi secara hukum itu, memantik amarah Kades Baomolot, Laurensius Say. Ia mengumpulkan beberapa tokoh adat dan memaksa supaya dilakukan hukuman adat.

“Saya disidangkan di Kantor Desa Baumolot. Lalu dipaksa genggam plat besi yang sudah dibakar di arang tempurung kelapa. Mereka bilang, jika saya tidak berbuat, telapak tangan saya tidak terbakar dan tidak terluka. Tapi bila sebaliknya, maka pasti terbakar hangus,” kisah Ariyanto sebagaimana dikutip dari lenterapos.com.

Peristiwa itu, lanjutnya, terjadi tanggal 7 November 2020 lalu, disaksikan lembanga adat setempat dan warga masyarakat. Usai tangannya terbakar dan melepuh, ia langsung berobat ke Puskesmas. Kemudian melapor ke Polres Sikka.

“Jadi itu bukan penganiayaan dan pemaksaan. Sebab sudah ada tandatangan di surat pernyataan. Dan hukuman adat itu sesuai proses adat yang berlaku,” jelas Kades Laurensius Say.

Tidak Sesuai Prosedur

Ketua Lembaga Adat Puter Mudeng Doto Molo Desa Baomekot, Viktor Solot, menegaskan hukuman adat membakar telapak tangan pakai plat besi yang dipanaskan itu tidak sesuai prosedur hukum adat yang berlaku.

“Jadi pertama, saya ingin klarifikasi. Pertama, saya tidak hadir dalam proseso hukum adat itu. Cuma dihadari beberapa oknum anggota lembaga adat,” tandas Viktor.

Kedua, lanjutnya, lembaga adat belum dikukuhkan secara resmi, baik secara adat maupun menurut tata cara pemerintah desa. Sebab peraturan desa tentang pengukuhan lembaga adat itu masih dalam proses penggodokan. Jadi akibat hukum yang timbul akibat proses adat yang ilegal itu menjadi tanggungjawab oknum lembaga adat secara personal.

Ketiga, ada prosedur hukum adat yang dilangkahi sehingga tidak bisa dianggap sah dan legal. Misalnya, proses pegang plat besi panas itu cuma sang pria sedangkan wanita tidak. Padahal aturan mengharuskan sang wanita juga wajib pegang besi plat panas yang didahului ritus adat tertentu.

Kapolres Sikka, AKBP Sajimin, S.IK, yang dihubungi via telepon genggamnya, membenarkan adanya laporan penganiayaan terhadap seorang pria oleh lembaga adat sebuah desa.

“Yang telapak tangannya ditempelkan ke plat besi panas itu khan? Iya, sudah dilaporkan. Dan sudah diagendakan untuk dipanggil dan diperiksa kepala desa dan pihak terkait,” tukasnya. (k-1)

Editor: Ade

Advertisements

Advertisements

Advertisements