Direktur Lakmas NTT Tantang Kapolres TTU Lakukan Otopsi Jenazah Da Silva

Advertisements

“Otopsi ini untuk membuktikan bahwa anak buahnya tidak melakukan penganiayaan dan penyiksaan hebat kepada korban Fransisko Amaral da Silva alias Akitu di Mapolres TTU, 31 Desember 2019 malam. Kalau cuma bantah doang, semua bisa. Lebih baik buktikan argumen itu lewat otopsi mayat korban,” tantang Victor Manbait, Selasa (28/1/2020) malam di Kefamenanu.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Direktur Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Manbait, S.H, menantang Kapolres TTU, AKBP Nelson Filipe Diaz Quintas, untuk melakukan otopsi jenazah Fransisko Amaral da Silva alias Akitu (35).

“Otopsi ini untuk membuktikan bahwa anak buahnya tidak melakukan penganiayaan dan penyiksaan hebat kepada korban Fransisko Amaral da Silva alias Akitu di Mapolres TTU, 31 Desember 2019 malam. Kalau cuma bantah doang, semua bisa. Lebih baik buktikan argumen itu lewat otopsi mayat korban,” tantang Victor Manbait, Selasa (28/1/2020) malam di Kefamenanu.

Dari tanda tanda memar dan luka pada posisi anggota tubuh tertentu korban, lanjut Manbait, menunjukkan korban bukan saja dianiaya tetapi korban menglami penyiksaan luar biasa.

Dari bagian anggota tubuh yang menjadi sasaran penyiksaan, seperti pada tulang kering kaki, dan jari jari kaki korban, bahkan sampai leher korban, ungkap Manbait, menunjukkan korban disiksa oleh pihak tertentu untuk mendapatkan informasi atau pengakuan dari korban akan hal tertentu.

BACA JUGA: https://halamansembilan.com/kapolres-ttu-bantah-anak-buahnya-aniaya-da-silva-hingga-sekarat/

BACA JUGA: https://halamansembilan.com/dijemput-tim-rajawali-polres-ttu-15-jam-kemudian-pemuda-ini-tewas-dengan-kondisi-tulang-leher-patah/

Dan ini bila kita belajar dari literatur forensik, tindakan penyiksaan pada anggota tubuh tertentu itu biasanya dilakukan oleh orang orang terlatih.

“Saya kira pernyataan Pak Kapolres TTU bahwa anak buahnya justru yang mengamankan korban ke polres, harus ditindak lanjuti segera dengan melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk menemukan pelaku penyiksaan korban dalam waktu dekat ini,” pinta Manbait.

Jika sarannya ini diterima Kapolres TTU, Manbait yakin kasus ini akan cepat terungkap siapa pelaku penganiayaan dan penyiksaan hebat kepada korban.

“Dan saya kira kasus ini belum terlalu lama dan saya yakin dalam hitungan dua Minggu, polisi sudah dapat mengungkap siapa pelaku penyiksaan korban untuk diseret ke meja hijau guna mempertangungjawabkannya dimuka hukum,” kata Manbait.

Polisi, demikian Manbait, harus berani untuk melakukan otopsi atas jasad korban guna mengetahui dengan pasti penyiksaan yang dialami oleh korban dan membuka dengan terang benderang kasus ini.

“Otopsi penting dilakukan untuk membuktikan penyebab kematian, alat yang digunakan untuk menyiksa dan waktu kematian korban,” tandas Manbait.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) perihal otopsi yakni Pasal 134 ayat 1,2,3 KUHAP, papar Manbait, disebutkan bila untuk pembuktian, bedah mayat tidak mungkin dihindari, maka penyidik wajib informasikan kepada keluarga dan wajib menerangkan sejelas-jelasnya maksud dan tujuan otopsi. Bila 2 x 24 jam tidak ada tanggapan dari keluarga, maka penyidik segera laksanakan otopsi. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements