Diduga Bayar Honor Stafnya Pakai Uang Palsu, Kades di NTT Ini Dilaporkan ke Polisi

Advertisements

“Saya tidak tahu uang itu palsu. Sebab uang itu saya cairkan langsung dari Bank NTT Cabang Tambolaka. Itu uang Anggaran Dana Desa (ADD) Tahun 2020. Jadi tanya saja kepada teller Bank NTT,” jelas Kades Kapaka Madeta, Agustinus Ndara Wunda, pekan lalu.

Agustinus Ndara Wunda, Kepala Desa Kapaka Madeta

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Agustinus Ndara Wunda, Kepala Desa Kapaka Madeta, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diadukan para staf dan warganya sendiri ke aparat kepolisian setempat.

Pasalnya, ia diduga keras membayar honor stafnya dan honor lainnya kepada warga menggunakan uang palsu.

Kasus ini terjadi tahun 2020 lalu. Namun sampai sekarang kasus ini masih terus berproses di Polsek Kodi.

“Saya tidak tahu uang itu palsu. Sebab uang itu saya cairkan langsung dari Bank NTT Cabang Tambolaka. Itu uang Anggaran Dana Desa (ADD) Tahun 2020. Jadi tanya saja kepada teller Bank NTT,” jelas Kades Kapaka Madeta, Agustinus Ndara Wunda, pekan lalu.

Tentang kronologinya, Agustinus mengisahkan ia pergi ke Bank NTT Cabang Tambolaka untuk mencairkan sisa Anggaran Dana Desa (ADD) Tahun 2020.

Uang itu untuk membayar honor para Kaur, dan staf desa lainnya. Juga honor untuk kegiatan lain, yang menjadi hak warga setempat. Ia tidak mau merinci berapa total uang ADD yang dicairkan dari Bank NTT Cabang Tambolaka.

Usai mencairkan uang, ia mampir ke sebuah warung untuk makan siang. Lalu melanjutkan perjalanan pulang ke Kecamatan Kodi dengan menggunakan sepeda motornya.

Dua hari setelah uang disimpan di rumahnya, ia lalu membayar honor staf dan hak dari warga yang mengerjakan kegiatan yang bersumber dari dana desa.

Empat hari kemudian, warga beramai-ramai melapor ke polisi dengan alasan menerima uang palsu dari dirinya.

BACA JUGA:  BREAKING NEWS! Berkas Perkara Sudah Lengkap, Tersangka MU Diserahkan ke Jaksa

“Saya kaget sekali. Bagaimana mungkin uang saya cairkan dari bank, kok ternyata disebut warga sebagai uang palsu. Nilai uang yang diduga palsu dan dilaporkan warga sebesar Rp 7.800.000,00,” tukasnya keheranan, sebagaimana dilansir dari suaraindonesia1.com..

Agustinus mengaku sempat dijemput polisi dan dimintai keterangan. Namun kemudian dilepas kembali dengan syarat harus melapor seminggu tiga kali.

Kepala Kantor Cabang (Kakancab) Bank NTT Tambolaka, Tomas Kore Lado, kepada wartawan mengaku terkejut karena lembaga keuangan yang dipimpinnya ikut terseret dalam persoalan uang palsu tersebut.

“Saya serahkan saja kepada polisi untuk menyelidikinya. Proses hukum saja biar kasus ini menjadi terang benderang,” tukasnya.

Kepala Kantor Cabang (Kakancab) Bank NTT Tambolaka, Tomas Kore Lado

Tomas menegaskan uang yang didistribusi pihaknya diperoleh dari Bank Indonesia. Tentunya uang asli, bukan palsu dan sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan.

Ia menghimbau kepada masyarakat agar tidak saja memeriksa jumlah uang tapi juga memeriksa fisik uang ketika berada di depan teller. Fisik uang dilihat, diraba dan diterawang, apakah asli atau palsu.

“Kalau uang sudah dibawa keluar dari bank, apalagi sudah 4 hari di tangan nasabah, lalu diklaim sebagai uang palsu, tentu kami tidak bisa merespons dengan baik. Sebab sudah di luar kewenangan kami. Itu sudah menjadi tugas dan kewenangan polisi untuk menyelidikinya,” tandas Tomas.

Kapolsek Loura, AKP Edy, yang dikonfirmasi terpisah membenarkan adanya kasus uang palsu. Ia mengungkakan kasus itu awalnya dilaporkan ke Polsek Kodi kemudian dilimpahkan ke Polsek Loura.

“Kasus ini masih berproses. Barang Bukti uang palsu sudah dikirim ke Laboratorium Forensik di Denpasar untuk diselidiki,” tukas AKP Edy.

Menurutnya, memang agak lama prosesnya karena situasi pandemi Covid-19. Dan hasil pemeriksaan laboratorium forensik tentang keaslian uang belum diterima penyidik Polsek Loura. (*/k-1)

Editor: Ade

Advertisements

Advertisements