CERPEN: YOLANDA

Advertisements

Karya Rian Tap

Hujan masih turun di hadapanku. Butirannya memantulkan binar jingga lelangit sore. Bayang-bayangku juga masih nampak pada biasannya. Mentari itu masih menyoroti ekor mataku, juga pondok tua tempatku berteduh ini. Gemericik air terus terdengar menerjang atap pondok. Bunyinya mengusik pikiranku, mengingatkanku tentang masa yang lalu.

Hujan dan pondok kecil di pinggir kota lembor ini telah meninggalkan kenangan manis, tak ubahnya bagai hujan yang berlalu meninggalkan genangan. Di sini aku masih mematung; duduk di atas kursi pondok warna biru yang sudah usang tanpa seorang pun.

Aku sedang menunggu; menunggu kehadiranm di balik rinai ritik hujan yang sedang mengguyur.


Hujan dan pondok ini masih sama seperti yang dulu—seperti dua tahun yang lalu. Dua tahun saat pertama kalinya kau dan aku bertemu. Saat kau duduk di sampingku—di antara orang-orang yang sedang menunggu. Kau sedang menunggu angkutan menuju kota dan menunggu reda rinai hujan. Begitu juga denganku. Namun, angkutan menuju kota yang kita tunggu itu tak kunjung tiba. Kau bingung mau berbuat apa. Hingga akhirnya, kau mengajakku berkenalan.

Yolanda, begitu kumemanggilmu. Kau menceritakan tentang dirimu. Kau bercerita tentang rasa bosan yang menghantu—kala angkutan kekota itu tak kunjung ada. Seperti biasanya di sore menjelang malam ini, hujan selalu turun di bulan kelahiranku; january, juga di pondok biru itu. Seperti biasanya juga di perpindahan waktu menuju senja ini, kau dan aku saling menunggu.

Kau tahu? Aku masih ingat tentang cerita kita yang dulu. Saat aku mengucap isi hati padamu, di sebuah pondok yang sama. Pada kesunyian pondok—tatkala hujan tiba dan tak kujumpa orang-orang sedang menunggu jemputan, aku memegang tanganmu sambil berucap, “Aku mencintaimu Enu Yolanda.”

Engkau jawab, “Aku juga mencintaimu Nara Iyan”, dibarengi sesimpul senyum.

Begitulah. Terasa cepat bagiku memberi rasa. Cintamu datang terlalu cepat dari apa yang kubayang. Hingga, hadirmu bagaikan mentari yang memberikan kehangatan saat hujan membawa kedinginan dan pelangi yang melukiskan keindahaan kala hujan telah sirna dari pandangan.

Satu hal yang membuatku luluh tak berdaya adalah perhatianmu. Aku masih ingat saat kau meneleponku pagi itu. Kau bilang, “Jangan lupa sarapan ya.”

Aku selalu menjawab, “Kau juga, sayang.”

Kau selalu tahu, bagaimana membuat momen sederhana menjadi istimewa. Lewat hal-hal sepele, kau membuatku luluh tak berdaya, tak ubahnya seperti sebongkah es yang tersorot surya.


Pada anniversary jadian kita, aku sudah menunggumu di pondok penuh kenangan itu. Kau bilang padaku, kau akan memberikan sesuatu untukku. Aku sudah menebak-nebak dalam benak. Bertanya tentang apa yang ingin kau berikan kepadaku. Aku tak sabar menunggu. Namun, kau tak jua datang menemuiku.

Langit sore itu mulai merenik-renik. Seakan ingin memuntahkan air laut, atau sungai, atau danau, aku tak tahu. Sekitar pukul lima sore kau tak kunjung tiba. Padahal, kau janji akan menemuiku jam empat. Tak heran bila hatiku senantiasa bergoncang. Entah kenapa aku tak tahu. Mungkin, karena tak sabar aku menanti kejutan darimu. Atau, ada firasat lain yang menyusup.

Jreeeeeerettttttt. Teleponku menyala. Ada namamu di layar. Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat, “Halo, sayang. Ke mana aja kau ini?”

“Maaf, ini pacarnya yolanda ya?” suara itu menjawab. Aneh kurasa. Suaranya tak seperti suaramu. Nadanya juga; seperti orang cemas dan kebingungan.

“Iya. Mohon maaf, ini dengan siapa ya?”
“Arick,” jawabnya.
Seperti dugaanku; suara itu bukan suaramu.
“Kae, ini darurat. Teramat darurat.”

Jawaban orang asing di telpon itu sontak membuat jantungku berdegup kencang. Pikiranku ke mana-mana. Banyak pertanyaan yang singgah di kepala. Tak sudi aku terpuruk dalam keruhnya pikiran, suara itu menyahut.

“Aku, Arick, temannya Yolanda,” begitu sahutnya.
“Oh, kau temannya Yolanda ya? Lalu, di mana Yolanda?” tanyaku.
Suara di balik telepon itu tak menjawab pertanyaanku.

Ia hanya berucap, “Aku tahu, ini pasti berat bagimu. Tetapi, kamu harus menerimanya dengan lapang. Kamu juga harus sadar bahwa segala yang ada di dunia ini hanya milik Tuhan.”

Tak kuasa aku mendengar. Sungguh, jantungku berdegup begitu kencang. ia belum menjelaskan peristiwa apa yang membuatnya berkata demikian, walau sebenarnya aku sudah menduga. Menduga dengan hati dan perasaan bahwa hal buruk telah terjadi padamu. Dan dugaanku ternyata benar.

“Yolanda telah meninggal karena kecelakaan,” jelas Arick.

Aku mematung. Mulutku terasa dikunci oleh takdir. Hatiku hancur; dilebur oleh kematianmu. Kau tahu? Kau membuatku berpikir. Aku berpikir dalam tatapan kosong. Kenapa kau pergi saat cintaku telah tinggi menjulang, tak ubahnya setinggi pohon cemara? Kenapa kau harus meninggalkanku begitu cepat, secepat halilintar yang membelah angkasa? Aku tak terima. Aku belum bisa menerimanya. Aku belum bisa menerima kepergianmu.

Kala pikiranku masih sekeruh genangan air di jalan berlubang—dekat pondok—itu, Arick menjelaskan padaku sebuah peristiwa yang membuatnya harus berpulang. Kata Arick, waktu itu dia sedang terburu-buru mengemudikan motor Yamaha Matic merahnya. Arick tahu, sebab sejak matahari hampir jatuh ke barat, Arick kebetulan berada di belakangnya.

Peristiwa buruk itu terjadi saat laju kecepatan motornya terhentikan oleh truk tangki yang berlawanan arah dengannya. Dia bermaksud untuk menyalip mobil pick up yang berkuasa di depan. Entah karena tidak teliti atau karena apa, dia menyalip mobil itu. Lantaran hujan semakin menghujam jalan—hingga kaca helmnya tak nampak jelas pandang, truk tangki itu melenyapkan masa depannya. Begitu kata Arick kepadaku.

Aku ingat satu hal yang sempat Arick katakan di telepon.
“Yolanda telah meninggal. Banyak orang datang mengerumininya. Sebagian darinya berlarian menghampiri supir truk tangki untuk meminta pertanggungjawaban. Ada satu hal yang kupikirkan tentang Yolanda,” ucap Arick, ada jeda beberapa lama.

“Yolanda terburu-buru pasti untuk menemuiku. Kelihatannya, ia seperti akan membawa kado, sebab aku menemukan bungkusan kado berbalut kotak merah di saku jaket miliknya.”

Mengetahui hal itu, hujan sore ini semakin menjadi-jadi. Airnya sampai tumpah di pipiku. Kau telah meninggal. Meninggalkanku sendirian di sini. Di sebuah pondok kecil tempat orang-orang sedang menunggu. Teramat banyak orang di sekelilingku sedang menunggu. Orang-orang itu duduk dan sebagian lagi berdiri dengan raut muka yang beragam; cemas, bosan, bingung, dan semacamnya. Aku tahu, mereka sedang menunggu, seperti halnya diriku. Bedanya, mereka menunggu sesuatu yang pasti, sedangkan diriku, hanya menunggu sesuatu yang semu.


RINAI hujan masih bersenandung. Aku masih duduk termenung di pondok. Melihat bayanganmu melalui pantulan-pantulan butiran air hujan yang berhamburan. Dengan jeli kuamati di setiap jatuhannya. Terbekas secercah rindu yang menghantui. Rindu akan hadirmu. Rindu akan belaianmu. Karenanya, aku seperti hanyut dalam aliran air itu, dan bermuara ke telagamu.

Aku masih di sini. Dan akan tetap di sini. Sampai hujan reda. Sampai kau pulang menemuiku. Walau kutahu, itu tak mungkin terjadi. (**)

Cerpenis adalah Pegiat Sastra. Asal Lembor-Manggarai Barat. Tinggal di Ledalero-Maumere

Advertisements

Advertisements

Advertisements