CERPEN: Tuhan Lebih Mencintai Ibu

Advertisements

KARYA: SONNY KELEN

Aku mendekati ibu dan berbisik ditelinganya “Ibu, terimakasih karena telah memenuhi permintaan pertamaku. Aku tidak kecewa karena permintaan kedua belum ibu penuhi dan aku tahu ibu sudah berusaha bertahan cukup lama, tetapi Tuhan lebih mencintai ibu.” Aku mencium kening ibu.

Tidak ada yang lebih abadi, selain mencintaimu setiap hari. Engkau  tahu, setelah pergimu yang luka hari-hariku tidak lagi memberikan cerita terindah seperti dongeng sebelum tidur yang pernah engkau ceritakan waktu masa kanak-kanakku dulu.

Ibu, selepas senja yang lugu hilang di tikungan rumah kita cerita tidak lagi bergeming, kecuali air mata yang tak pernah berhenti menghujani pipiku dan sebuah pesan kecil yang betah tinggal dikepala. Selebihnya hanya ada kesendirian yang tak mampu kubenahi dalam perjalananku yang masih panjang ini. Aku yang mencintaimu tidak pernah menang bertarung dengan Dia yang adalah benar tempat segala jenis rindu berlabuh. Selebihnya Dia lebih mencintaimu.

Engkau tahu, setelah pergimu kesendirian adalah satu-satunya diriku yang utuh. Seperti dermaga yang memandang jauh hamparan samudra, ada banyak kapal melintas ke segala penjuru, tapi tak ada satu pun yang singgah selain ombak berbuih yang cari muka di kakainya. Seperti embun yang setelah diteteskan langit, dibiarkan merana di atas dedaunan yang bisu.

Dan di dalam namamu yang kulafalkan sebagai amin bagi doa-doaku yang khusuk, aku hanyalah petualang yang kehilangan arah untuk berjalan. Maka sekali lagi kesendirianku adalah diriku yang utuh. Dan aku kembali mengerti bahwa Tuhan lebih mencintaimu.

Ibu, engkau beruntung tak memiliki ingatan sepertiku. Engkau pergi tanpa membuang-buang waktumu untuk memikirkanku. Engkau pergi dan ingatan kembali menghantuiku tentangmu yang selalu hidup dalam setiap hariku. Sesengguhnya aku tidak kuat ibu tinggal bersama sepi, dan juga kesendirian.

Hari-hari yang lewat tidak berpengaruh apa-apa tanpa engaku di sisiku. Engkau pasti senang, karena tidak lagi mengerang kesakitan dengan penyakit yang lebih menyayangimu dan semalaman tidak tidur hanya karena engkau ingin bebas dengan penyakit yang menyayangimu itu. Dan sekarang engkau telah menemukan jalan menghindari penyakit itu. Tapi aku terluka ibu.

Tidak ada lagi senyum lugumu yang menyambutku ketika aku pulang dari biara, atau menanyakan “no” kapan pulang libur? Selebihnya semalaman aku tidak tidur membayangkan matamu yang teduh.

Engkau tidak perlu lagi menggigit-gigit selimut atau menangis dan teriak ketika penyakit yang tinggal buah dadamu mengeluarkan nanah busuk. Dan sudah pasti engkau akan bertanya kepada ayah atau kakak di mana anak laki-laki sulungmu yang sedang mengayuh perahunya di lautan yang lain.

Apakah dia sudah pualng? Aku sangat ibah ibu, ketika setiap kepulanganku dari biara dan ayah menceritakan hal itu kepadaku. Tapi mengapa ibu? Mengapa engkau pergi terlalu cepat saat di mana aku belum bisa merelakanmu untuk pergi?

Tapi yang pasti aku selalu ingat tentang permintaanmu yang pernah engkau minta dariku supaya menjadi sepotong bulan yang terang di atas rumah kita, ketika aku mengeja kata perkata yang ada dalam puisi di embusan napasmu. Engkau memberikan tatapan dari matamu yang sampai saat ini belum usai kuterjemakan maknanya.

Ada kerinduan yang mengandung engkau berebutan mengecup keningmu walau itu terjadi antara aku dan selembar fotomu yang diam dingin dipojok doaku, sementara engaku menarik jauh kepalamu hingga melepasku dari pelukanmu. Ketahuilah ibu, aku akan lelap setelah kesakitan mengecupku berulang-ulang.

Ketika lonceng biara membangunkanku, engkau ada di depan mataku,namun hanya sebagai sisa-sisa mimpi yang bergelantungan. Kesakitan datang lagi, mengecup diriku penuh emosi dan aku seperti buku filsafat yang terbuka tanpa ada sepasang mata yang tekun membaca. Sementara engkau diam dan menjelma menjadi langit mendung yang meneteskan luka paling luka di dalam hatiku. Matamu adalah petir yang getir di dalam dadaku. Dan aku tidak berbuat apa-apa selain memedihkan diriku sendiri dengan air mata.

Dan seperti yang sudah-sudah tidak ada tidak ada yang mempedulikanku. Waktu tetap saja seperti sungai yang mengalir tanpa bisa dihalaui lajunya. Maka seluruh harapan yang pernah kusangkutkan disetiap doaku berubah menjadi kenangan yang menggunung jadi hari, minggu, bulan bahkan tahun yang mengunung lagi dan lagi.

Aku makin payah ibu. Diriku berantakan. Aku tiba-tiba berhenti menulis puisi tentangmu dan puisi-puisi itu hanya berhenti pada baris pertama. Selebihnya hanya ada ingatan yang menjelma belati dikepalaku. Ibu, di saat duka dan tidak ada lagi dirimu, aroma kopi hangat yang selalu nikmat bagiku, entah mengapa terasa amat hambar di hidungku.

Dan setiap kali malam datang, ingatan tentang pertemuan kita terakhir kalinya di rumah sakit waktu itu. Dan saat itu pula untuk terakhir kalinya aku melihatmu meniup lilin disaat engkau ulang tahun. Betapa getar dan getir hatiku karena harus melihatmu meniup lilin dengan beberapa selang infus yang berbalut pada tubuhmu. Aku tidak sanggup menyaksikan hal seperti itu, ibu.

Namun engkau selalu punya cara tersendiri agar tetap tersenyum karena engkau tidak ingin melihat ayah sedih. Selebihnya engkau tidak melihat kami semua sedih bukan? Senyum yang mekar di bibirmu itu sesungguhnya memberikan arti bahwa engkau tidak kuat lagi melawan penyakit yang menyayangimu bertahun-tahun. Tapi engkau masih sempat memberikan senyum paling lugu dan tulus saat engkau ulang tahun.

                                                                      ***

“No, ibu tidak kuat lagi.” sebuah kalimat yang ibu ucapkan setelah ibu meniup lilin ulang tahunnya. Dan hal itu ibu ucapkan setelah ayah dan kakak keluar dari ruang rawat ibu. Aku tiba-tiba seperti patung setelah mendengar apa yang barusan dikatakan oleh ibu.

“Ibu, bisakah ibu bertahan sebentar sampai aku mengucapkan janji kepada Tuhan untuk selamanya mencintai Dia.” Sebuah harapan yang pernah aku minta kepada ibu setelah ibu mengatakan hal yang sesungguhnya menjadi tanda kepergiannya. Tapi disaat itu, ibu hanya menjatuhkan air matanya sambil mengerang kesakitan terhadap penyakit yang menyayanginya itu.

Sesungguhnya aku tahu, ibu tidak kuat lagi. Tapi sebagai yang terakhir dari permintaanku, aku  mau seperti itu. Ketika tiba di biara, aku selalu di hantui dengan percakapan singkat aku dan ibu tadi. Semua aturan biara tidak lagi aku ikuti sebagaimana mestinya. Diam kembali menjadi tempat yang aman aku menciptakan kesedihan. Mengingat ibu sambil beberapakali merapal doa. Tapi aku tidak sadar dan tidak tahu apa isi doaku. Bahkan lilin yang kubakar untuk berdoa tak sedikit pun aku tahu bahwa lilin itu sudah habis mencair.

Hingga pada saat-saat terakhir persiapanku menerima kaul kekal, tidak sedikit pun ada persiapan dari ku memutuskan tuk tetap maju atau tidak. Semuanya seperti angin lalu yang berlalu dengan cepat. Namun semuanya kembali menjelma dalam sebuah pesan ibu waktu itu, “No, jadilah sepotong bulan yang terang di atas rumah kita.” Dan semuanya kembali seperti semula karena hal ini juga merupakan keinginan dan niatku sendiri. Yang menjadi kecemasanku adalah aku tidak banyak waktu lagi bertemu dengan ibu.

Hingga tiba penerimaan kaul kekalku, aku sendiri tanpa ada yang menemani atau mendapingiku. Aku tidak mau ayah dan kakak ikut acara penerimaan kaul kekalku karena aku tidak mau ibu sendiri di rumah sakit. Air mataku terus membanjiri jubahku ketika dihadapan semua orang aku mengucapkan sumpah tuk selama-lamanya, tetap mencintai Tuhan.

Seperti lakon di ruang tunggu semua orang menunggu kalau-kalau ada keluarga yang datang dan berdiri di samping ketika penyerahan orang tua atas anak mereka kepada serikat yang akan menjadi rumah dan sekaligus ibu untukku selamanya. Namun tak ada. Tapi  aku percaya dan yakin bahwa ibu mengizinkan aku untuk pergi dan menjadi sepotong bulan yang terang di atas rumah untuk mereka dan di mana tempat kubekerja kelak, walaupun ibu tidak ada disampingku.

Setelah beberapa bulan, aku mendengar kabar bahwa keadaan ibu semakin parah. Aku kemudian pergi ke rumah sakit. Ketika masuk di ruang rawat, aku begitu kaget karena keadaan ibu yang tidak ada harapan untuk bertahan lebih lama. Kudekati ibu dan mencium keningnya. Air mata ibu jatuh dan ada senyum yang mekar di bibirnya. Mungkin itu senyuman bangga sekaligus sebuah senyum perpisahan yang sebentar lagi tiba.

“No, semuanya baik-baik saja.” Bisik ibu lirih. Kupegang tangan ibu dengan harapan yang tak pasti untuk meminta ibu bertahan lebih lama. Ayah dan kakak hanya tunduk dan sesekali melihat aku dan ibu.

“Bu, boleh aku minta ibu untuk bertahan sebentar tetapi tidak lebih lama dari sebelumnya sampai aku di tahbiskan. Aku ingin memberikan berkat pertamaku kepada ibu, sebelum aku memberi berkat kepada yang lain?” ibu hanya senyum setelah aku mengutarakan permintanku itu.

Setelah pertemuan yang ringkas itu aku kembali ke biara. Aku semakin sahid dalam menjahit rindu lantaran bisa meminta ibu bertahan untuk lebih lama lagi. Namun kenyataan berbicara lain. Penyakit yang sekian lama menyayangi ibu, lebih cepat membawa ibu pergi. Ketika pukul empat sore aku mendengar kabar bahwa ibu sudah pergi.

Aku kemudian langsung ke rumah sakit. Mengapa ibu pergi begitu cepat sebelum apa yang aku harapkan terpenuhi? Aku membatin. Ketika tiba di rumah sakit aku hanya melihat ibu tidur dalam lelap paling damai dan sepotong senyum masih mekar pada bibirnya yang lugu. Aku tahu ibu sudah berusaha keras untuk bertahan tetapi kehendak Dia yang terjadi, ibu tidak bisa berbuat apa-apa setelah Dia memanggil ibu untuk pulang. Lebih dari itu, Tuhan lebih mencintai ibu.

Aku mendekati ibu dan berbisik ditelinganya “Ibu, terimakasih karena telah memenuhi permintaan pertamaku. Aku tidak kecewa karena permintaan kedua belum ibu penuhi dan aku tahu ibu sudah berusaha bertahan cukup lama, tetapi Tuhan lebih mencintai ibu.” Aku mencium kening ibu.

Akhirnya aku sadar, perempuan yang menjagaku dalam diam dan tabah, tak luput juga memarahiku dengan cinta dan bertekun menanak doa sepagi buta agar aku selamat mengendarai waktu seharian telah menjadi sepotong bulan untukku. Sehingga dalam perjalanan pulangnya lelahnya membuatku bahagia dengan sepotong senyum yang mekar pada bibirnya. Lebih dari itu Tuhan lebih mencintainya.(***)

Advertisements

Advertisements

Advertisements