CERPEN THEOS SERAN: Rumah Renta

Advertisements

Rumah renta yang pertama-tama mengajariku menenun puisi tentang tubuhku dan tentang arti sebuah nama yang disematkan pada sesosok makluk yang disebut manusia. Aku hanya ingin berterimakasih seribu kepada rumah rentaku yang setia mengandung sejarah dalam rahimnya dan mengembalikan ingatan pada sejumput kenangan manis yang tetap abadi selamanya.
Ilustrasi

PERIHAL ingatan yang membuatku lunglai tanpa daya dan bangkit lagi bak mentari subuh. Bagiku ingatan adalah sekuntum melati yang menguncup dan mekar menawan pada dinding mentari yang memelas sehabis hujan sore. Ingatan juga membuatku beranjak dari lamunanku sehabis musim kerontang yang meluluhlantah dusunku dan dan tentang sebuah rumah renta yang darinya aku menenun puisi tentang tubuhku dan tentang arti sebuah nama yang disematkan tanpa salah alamat pada sesosok makhluk yang dinamai manusia.

Ingatan kembali mencumbuiku dikala aku kembali bernostalgia sebentar tentang rumah renta itu. Suasana semakin temaram dan aku memberanikan diri mengayun langkah menyusuri padang belukar. Ingatanku tak mungkin menyesatkan aku dan aku yakin tak tersesat dalam rerumputan liar dan belukar yang tumbuh begitu suburnya.
Aku terus berlangkah sambil berguman sendiri menyaksikan sulur-sulur muda yang puntung yang sudah kuduga ulah si sandelwood. Entahlah, apakah monster itu masih saja ada hingga saat ini ataukah sudah berseloroh dalam ruang penangkaran sebagai hewan langka.

Aku sudah tiba di bibir dusun terpencil itu sementara langit semakin gelap ditudungi gemawan gelap. Aku tak melihat seorangpun bertengger sambil bercengkerama di beranda atau sekedar berdiang api unggun ketika suasana dingin. Aku yakin semuanya pasti sudah lelap dalam buaian mimpi ataukah paling tidak sedang berada dalam lamunan yang tak berujung tentang berbagai problematika hidup yang dialami dan tentunya mereka tak mengetahui kedatanganku.

Aku terus menyusuri dusun itu dan ingatanku kembali mengaduk-aduk perasaanku. Di manakah gerangan rumah renta itu setelah puluhan tahun aku tinggalkan tempat ini. Ingatan tak selamanya menjadi musuh, kali ini ia menuntunku menyusuri lapak-lapak tua dimakan usia namun keadaannya tak banyak berubah seperti yang aku tinggalkan puluhan tahun silam.

Ingatan membawaku dengan langkah gontai menuju pinggiran dusun terpencil itu menuju suatu tanah lapang berkapur namun sebagian sudah ditumbuni lumut, banyak berkeriap belukar berduri dan beberapa pohon rimbun dan besar. Aku dapat memahami bahwa tempat ini agaknya tak terurus sama sekali dan tentunya membuat tempat ini terlihat cukup menyeramkan ketika malam hari.

Aku tertegun sejenak dengan kaki yang agak gemetaran dan keringat dingin bercucuran di seluruh badanku. Jantungku berdegup kencang dan ingatanku meronta-ronta tanpa henti seolah ingin mengisyaratkan bahwa inilah tempat rumah renta itu berada. Aku meraih senter genggamku dan menyeruak rerumputan liar di depanku dan tepat sekali aku melihat sebuah rumah renta yang sudah lapuk dan sangat renta dimakan usia.

Atap seng-nya sudah berkarat dan berlubang sana sini dinding-dindingnya yang terbuat dari bambu kuning sudah amat usang dan tak terawat. Aku berusaha mengendalikan perasaanku dan masuk ke dalam rumah itu. Aroma tanah yang tak sedap serentak menyeruak masuk dalam hidungku seolah mengucapkan selamat datang kembali ke tanah dimana darahku tertumpah dan pertama kali aku berseloroh bersama alam serta tentang arti sebuah nama yang disematkan padaku.

Nama yang disematkan padaku seolah tak lagi bertuan setelah ia yang menyematkan nama itu padaku lesap ditelan bumi. Nama adalah ingatan dan ingatan adalah kompas yang berhasil menghantarkanku ke tempat ini. Ingatan mengusikku untuk bertanya-tanya siapa ibuku dan siapa ayahku dan tentang aku?

Malam semakin larut dan samar samar aku mendengar desisan angin malam yang menyebut namakU “ Rendiii…………..” dan isak tangis seorang wanita yang sedang menderita dan memohon pertolongan. Desis angin itu berlalu dengan cepatnya dan hal itu kembali berlangsung sebanyak tiga kali. Ingatan kembali mengaduk-aduk perasaanku dan aku semakin gelagapan. Keringat dingin lagi-lagi mengucuri tubuhku dengan perasaan ketakutan akan suara gaib itu sementra hati kecilku terus berbisik agar aku menjadi pribadi pemberani.

Mataku berkunang-kunang dan dan aku terduduk diam membisu namun ingatanku lebih kencang menggerogoti seluruh diriku. Angin malam berhembus kencang dan suasana semakin temaram. Aku bertengger dalam kegelapan dan mencumbui malam dengan perasaan tak menentu serta dengan ditemani senter genggam yang baru saja kuisikan beterai baru.

“Siapakah tuan yang bersedia menenun tubuhku dalam rahimnya? mengapa gerangan aku tak diperbolehkan berjumpa dengannya? apakah benar ia adalah seorang pelacur kampung? dan kalau ia seorang pelacur layakkah aku menyebutnya “ibu” ataukah “mama”, yang tak kutahu pasti apakah ia pernah menyusuiku ataukah tidak? apakah seorang pelacur mencintai darah dagingnya yang ia sendiri tak tahu siapa ayah dari anaknya? aku tak mampu memahami ikhtiar sebesar itu namun satu yang kutahu pasti bahwa hati kecilku amat mencintainya, sebaik atau seburuk apapun dia.” Aku berguman dalam hati.

“ pruuuummmmm…prummmm”,

Bunyi guntur menggelegar dan petir menyambar dan titik-titik hujan mulai turun. Titik-titik hujan menerobos lubang pada seng-seng karat itu dan mengenai kulitku. Dinginnya menembus kulit lalu menerobos hingga jiwaku yang sedang temaram.
Ingatanku kembali berkecamuk kencang dan samar samar aku mendengar lagi isak tangis seorang wanita tak jauh dari tempatku duduk. Sekarang timbul keberanianku untuk melacak siapa sesungguhnya pemilik isak tangis itu. Aku tak lagi peduli entahkah itu hantu sungguhan ataukah hantu jadi-jadian yang mengakaliku untuk merenggut nyawaku ataukah sekedar menakut-nakutiku.

Aku berlangkah sempoyongan menuju arah ruang tengah hingga beranda belakang rumah itu. Kresekan dedaunan kering yang berserakan dalam rumah itu menimbulkan suara berisik dan mengaburkan suara isak tangis wanita tadi. Kini aku berada di beranda belakang rumah itu dan kutemui sebuah kursi rotan yang sudah sangat usang. Isak tangis itu kembali kudengar dan semakin menjadi-jadi. Kali ini suaranya sangatlah jelas kudengar.

Aku mengarahkan lampu senterku ke atas regel rumah itu dan kudapati sebuah tengkorak yang masih terdapat sedikit rambut bergelantungan pada sebuah simpul nilon berwarna biru. Aku mengarahkan lagi senterku ke arah belakang kursi rotan tadi dan kudapati onggokan tulang belulang manusia yang berserakan di bawah kursi tua itu.

Aku tak kuasa menahan air mata dan aku menangis sejadi-jadinya. Aku meraung-raung kencang agar dunia tahu betapa berharganya seorang ibu bagiku, betapa berharganya manusia sebagai ciptaan Tuhan dan agar dunia tahu betapa tingginya martabat manusia dan bahwa setiap manusia memiliki hak asasi manusia(HAM) yang sama.
Ingatan kembali mengaduk perasaanku dan kini kupahami mengapa ingatanku tak pernah berhenti mengusik perasaanku dan seluruh diriku dan tentang sebuah alasan mengapa aku berada dalam rumah renta ini.

Rumah renta ini mempertemukanku dengan tempat aku dilahirkan tanpa tahu siapa sebenarnya ayahku dan bahwa ibuku seorang pelacur yang dihukum gantung oleh pelakon hukum di dusun ini yang alih-alih berkoar tentang hak asasi manusia dan tentang masyarakat bertuhan namun pada sisi yang sama menghukum mati seorang wanita lemah. Aku tak lagi gelagapan dan kini wanita ini tetaplah ibu bagiku dan aku mencintainya.

Aku mengambil tulang belulangnya dan kubungkus dengan bajuku sendiri dan menguburkannya dan membangun suatu nisan di atasnya. Meski aku tak sempat mencium surga di bawah telapak kakinya aku tetap bahagia boleh berlutut di depan pusaranya sambil merapalkan doa, semoga Tuhan mengampuni dosanya dan memperkenankan ia masuk Kerajaan Surga.

Aku berdiri sembari memandangi rumah renta yang telah mengajariku memahami betapa mulianya hidup ini dan tentang seorang pelacur yang menjadi ibuku dan ia telah berhasil menenun puisi tentang tubuhku dan tentang ingatan tentang namaku yang membawaku untuk mengirimnya ke surga.

Aku hanya ingin berterimakasih seribu kepada rumah rentaku yang setia mengandung sejarah dalam rahimnya dan mengembalikan ingatan pada sejumput kenangan manis yang tetap berkutat dalam keabadian. suatu ketika aku dan rumah rentaku akan binasa namun kenangan tentangnya akan abadi selamanya. (**)

*)Sandelwood : Jenis kuda berkaki tinggi dan berbadan besar serta terdapat di Pulau Sumba.

**) Penulis Cerpen tinggal di Wisma St. Mikhael Ledalero

Advertisements

Advertisements

Advertisements