CERPEN – Perempuan Titipan Senja

Advertisements

Oleh: Latrino Lele

Aku berharap engkaulah perempuan titipan senja yang datang untuk menemani sepiku. Dan kita menjadi sepasang kekasih. Aku pun berharap demikian.

ilustrasi

Waktulah yang mempertemukan kita. Dua insan yang saling jatuh cinta pada perjumpaan pertama di pantai Rindu. Kala senja menebar pesonanya di ufuk barat. Kita yang tak saling mengenal akhirnya menjadi lebih akrab. Berkat senja yang sama di pantai Rindu.

Engkau sosok perempuan pencinta senja. Begitu pula denganku. Kita merasakan kesenangan yang sama. Kala itu aku melihat engkau sangat menikmati alunan senja di pantai Rindu. Merasakan mesranya di setiap momen hangat sebelum senja beranjak pergi. Dan engkau harus kembali ke tempatmu bersanding peluk.

Perihal kerinduanmu ingin menikmati senja yang bermekaran di ufuk barat. Mungkin inilah bukti dari cinta. Jika tak berjumpa akan menumbuhkan rindu yang membuncah. Dan mungkin itu benar. Karena atas dasar cinta yang candu itulah engkau merasa betah menikmati senja di pantai Rindu. Engkau sendiri pun tak merelakan barang sehari tidak menikmati pesonanya. Senja kini mencadukkanmu. Senja bahkan sudah menghipnotismu untuk tidak berpaling darinya. Pantai Rindu tempat senja bersanding manja menjadi tempatmu berteduh.

Inginku di suatu waktu dapat menjadi senja yang indah untukmu. Agar engkau tak merasakan kesepian. Sehingga senyum khasmu itu terus merekah cantik pada bibir mungilmu.

Aku sendiri pun sempat bertanya-tanya perihalmu. Engkaukah perempuan yang lahir dari rahim senja. Ataukah ada damai yang terselip dalam pancaran jingga di ufuk barat itu. Membuat engkau terpikat padanya. Karena keberadaan senja sudah terlihat menjadi lebih berarti bagi hidupmu. Menjadi tempat paling teduh untuk engkau mencurahkan rasa hati. Kala kesepian melandamu.

Kita berjumpa secara tidak sengaja. Kala itu engkau yang mungkin tengah kesepian menatap rona senja. Dipadukan sajian buih-buih ombak menampar karang yang terlihat gaduh itu. Namun engkau merasakan ketenangan batin kala wajahmu diterpa hembusan angin laut yang lembut. Seolah ada pembauran antara batinmu dengan alam. Menjadi bingkisan paling indah untuk dicumbui. Hirup-pikuk di pantai Rindu terasa lebih manja memikatmu. Begitu mesra melebur rindu bersamamu.

Aku ingat kala itu senja di hari Sabtu, aku yang tengah menabur sepi di pantai Rindu sembari menikmati senja. Pertama kali aku melihatmu tunas kekaguman tumbuh pelan di hatiku. Tunas itulah yang membuatku jatuh cinta padamu. Pada perempuan yang tengah duduk manis di pantai Rindu. Perempuan yang tengah berlarut mesra bersama senja. Aku berharap engkaulah perempuan titipan senja yang datang untuk menemani sepiku. Dan kita menjadi sepasang kekasih. Aku pun berharap demikian.

Aku yang malu-malu lugu kala itu pun dapat berkenalan denganmu. Perkenalan singkat itu membuatku tahu siapa perempuan yang manis ini. Rila namamu. Cantik parasmu sesuai namamu yang manis tuk diucap itu. Engkau terlihat begitu akrab kala kita bersenda gurau. Kita bercerita banyak hal menghabiskan waktu di pantai Rindu menikmati semburat senja yang bertebaran itu.

Setelah melewati waktu yang panjang kita menjadi sepasang kekasih. Sesuai harapan awalku ketika kita berjumpa. Kita disatukan oleh rasa yang sama yakni cinta. Karena cinta telah membuat kita bahagia. Bermula dari sekedar bercengkerama tentang rindu dan cinta akhirnya berujung pada pelaminan. Sebuah komitmen yang disepakati bersama antara kita.

Aku sangat mencintaimu, kataku padamu setiap kali kita berjumpa di pantai Rindu. Kini pantai Rindu menjadi tempat paling teduh untuk kita merawat rasa. Merasakan kebahagiaan yang meletup gema di dada oleh hadirmu dalam dekapan rinduku. Engkau benar-benar menjadi kekasihku yang selalu aku rindu dalam sepiku.

Di pantai tempat kita berjumpa terlukis kenangan indah tentang kita. Tentang paras cantikmu. Tentang senyum semringahmu yang terlihat lebih manis untukku kecup. Semuanya terlihat sangat indah bagi kita sebagai sepasang kekasih.

Atas dasar cinta yang tulus, kita pun bersepakat mengikrarkan janji suci sehidup semati selamanya di depan Altar suci. Dengan ribuan pasang mata menjadi saksinya. Tersirat kebahagiaan di wajah lugu kita. Aku dan engkau memekarkan senyum bahagia kepada semua orang yang menjadi saksi atas janji kita. Kita kini bukan lagi dua melainkan satu. Bingkisan doa yang terus bergema diantara kita. Memberikan kita komitmen untuk tetap setia selamanya. Sampai maut yang memisahkan kita.

Meskipun kita sudah menikah engkau masih tetap menjadi perempuan pencinta senja. Engkau seolah merasakan ketenangan yang begitu dalam oleh keanggunannya. Bahkan pesta pernikahan kita kala itu engkau ingin merayakannya bersama senja di pantai Rindu. Ingin melebur rasa bersamanya. Mungkin ini sebagai ucapan terima kasihmu kepada senja. Oleh karena pesonanya di pantai Rindu kita dipertemukan. Merasakan kehangatan dekapanku disaksikan senja yang kini menjadi teman curahan hatimu.

Engkau ingin menceritakan kepada panorama senja perihal kebahagiaanmu menjadi kekasihku selamanya. Aku sendiri pun tak ingin tahu seberapa jauh hubungan engkau dengan senja yang kini menjadi sahabatmu. Sebuah harapan yang terselip dalam berkas-berkas rinduku kepadamu hanyalah memandangmu tetap tersenyum bahagia. Merasakan dekapan hangatmu yang terasa lebih syahdu kala rindu mencuat. Karena engkaulah alasan utamaku untuk tetap tersenyum. Hadirmu membuatku bergairah untuk tetap mencintaimu selamanya. Inginku tertawa atau tersenyum bahkan menangis bersamamu. Segala yang aku rasakan biarlah terus bersua bersamamu.

Perihal senja yang tampak terlalu manja bersama engkau di pantai Rindu. Biarlah itu menjadi cerita tentangmu kepada anak-anak kita. Kalau engkau yang kini menjadi istriku adalah perempuan titipan senja.


Nita, 180820

Penulis Latrino Lele, Mahasiswa STFK Ledalero dan sekarang menetap di Biara Scalabrinian, Maumere.

Advertisements

Advertisements

Advertisements