CERPEN: Perempuan Lugu

Advertisements

Oleh Sonny Kelen

Senja seperti terlewatkan. Langit mendung itu menyembunyikan warna. Sisa-sisa sinar yang cemas tenggelam tak berdaya di balik punggung bukit yang begitu terpercaya. Lampu-lampu jalan itu bergelantung di langit seperti buah-buah bercahaya tanpa pohon-pohon pengandung.

Senja baru saja pergi. Remang ingatan itu kembali menjelma dikepala menyerupai sebuah puisi rindu. Tentang senyumnya yang lugu juga bola mata menyerupai purnama.

Namanya Lenia. Aku ingat pada minggu sepotong untuk pertama dan terahir kalinya aku melihat dia. Kami meramu cerita berlumur rindu kepada yang terduga dan terlupa, sementara setengah gelas kopi sisaku sempat bersenggam dengan tenggorokan.

“Aku ngetehkan kopimu.”

“Dan aku mengopikan tehmu,” katanya sambil menggerutu seperti membacakan mantra.

“Aku ngetehkan kopimu sebab tidak semestinya kau menjadi yang kedua setelah Tuhan.”

“Tapi bukankah Tuhan Maha mengadakan? Mengapa kau tak mengamini bahwa kau semestinya ngetehkan kopiku?”

Aku meneguk lagi sisa kopi. Kurasakan lagi kedamaian dan baru kusadari mengapa kopi selalu menjadi yang paling pantas untuk mengakrabkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Lebih dari itu Lenia memiliki filosofi sendiri tentang kopi, bahwa hitamnya kopi tidak selamanya kotor dan pahitnya kopi tidak selamanya menyakitkan. Aku mendapat peluang yang tepat ketika tegukan terakhir berhasil meruah kesat pada tenggorokan.

“Mengapa kau ikut-ikutan melakukan yang tidak perlu dilakukan bahkan tak semestinya dilakukan?”

“Aku melakukan seperti yang kau kehendaki. Bukankah secangkir kopi selalu meninggalkan ampas dipantat gelas?” dia menjawab pertanyaanku dengan tanya.

“Ya, tapi bagaimana jika kopi tidak senikmat seperti yang kau bayangkan. Atau seperti lagu yang kau senandungkan untuk merayu Tuhan berawal dengan nada sol?”

“Ahh, lupakan saja. Jika kau ingin aku menjelaskan hal yang jelas-jelas kau ketahui, jangan mengaburkan filosofi cerita yang jelas-jelas pula mengandung keabstrakan. Aku ngetehkan kopimu sebab kau mengopikan tehku. Pikirkan lagi jika kau ingin mengopikan kopimu atau ngetehkan tehmu sendiri. Mungkin kita tidak bertemu saat ini.”

Tidak mengubris pertanyaannya, aku memainkan jemari di atas meja beralas putih telanjang. Ini hal yang tidak dia sukai. Katanya tidak sopan. Sungguh aku tak bermaksud menyalahi tuntutan tata karma. Aku hanya sedang menyambung lidah kepada kata demi kata dan tentunya jeda menjadi benang penarik.

“Menurutmu, apakah semestinya aku harus meninggalkanmu demi pilihanku yang sedang aku jalani sekarang?”

“Menurutmu?” dia balik bertanya.

Aku bingung, apakah sebuah pertanyaan pantas menjadi jawaban ataukah tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan jawaban. Rupanya dia mengajakku bermain catur. Filosofinya, aku berkuda menuju rajanya sementara dia meluncur menghabiskan rajaku. Otomatis aku mati selangkah dan permainan selesai.

“Aku bertanya. Kau semestinya menjawab Lenia!”

Aku menatap matanya. Teduh memang, tapi sama sekali tak memanjakan.

“Menurutku, jika kau lebih memilih Dia aku tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakanmu dan mengenangmu bersama secangkir kopi di tempat ini.”

“Mengapa?” aku menyambar cepat, secepat putri meleset ke daerah lawan.
“Sejujurnya, aku malu dengan Tuhan. Lebih dari itu, aku seperti seseorang yang terperangkap dalam sebuah pertarungan yang pada akhirnya orang lain yang memenangkan pertarungan itu.”

“Tapi bukankah Tuhan menghendaki kalau kita saling mencintai?”

“Ia, aku tahu. Tapi pada akhirnya kau memilih Tuhan bukan aku.”

“Jadi?”

“Dasar goblok. Semestinya kau tahu mana yang harus kau pilih. Tapi aku tidak mau kalau kau memilih tinggal hanya karena aku.”

Aku menyimpan malu pada asa tidak tahu maluku. Masih kumainkan lentik jemari sedang tidak habis pikir dia secerdik ini. Perempuan memang lebih piawai menganalisa pengibaratan dibanding laki-laki, sebab perempuan adalah yang memiliki hati. Laki-laki juga memiliki, tetapi memiliki dari luar. Perempuan pemilik sejati. Dan Lenia salah satu perempuan.

“Aku pamit.” Kataku sembari meracik penglihatan ke luar jendela.

“Kau pengecut!” ejeknya.

“Akan kuuraikan nanti katamu jika rinai Januari ini tidak menjadi gerimis pada Agustus nanti.” Aku berusaha membela diri.

“Akh, sok puitis. Jangan berpikir lebih dari yang tidak kau tahu. Kasihanilah juga hatimu yang kian meringgis lantaran tak kau mahkotai dengan melati berduri jeruji.”

“Aku pamit!” kataku menengahi pembicaraan.

“Kau pengecut!”

“Biar saja. Yang penting bukan penakut!”

“Pengecut berarti penakut. Sama saja!”

“Kau salah. Pengecut takut akan hal-hal yang berlalu, sementara penakut menakuti hal masa depan yang dianalogikan pengecut!”

“Begitulah kau. Semakin disederhanakan semakin, memperumit.”

“Untuk itulah kau menjadi sederhana dalam apa yang akan terjadi kemudian. Tentang kita.”


Dia berlari tanpa henti, tapi lupa mengapa. Yang dia tahu, semua akan terlambat jika dia berhenti. Dengan cemas, tersengal-sengal, dia mencari satu tanda yang dia kenal. Tak ada. Dia tak tahu di mana berada. Namun tak sesuatu pun terjadi. Pada hal napasnya hampir putus. Tiba-tiba tanah di bawa kakinya lenyap. Begitu saja. Tak ada pijak. Dia lepas. Jatuh bebas ke dalam apa yang dilihatnya sebagai kegelapan tanpa dasar dengan mata terbuka.

Yang dia ingat hanyalah sebuah pertemuan singkat sebelum semuanya berubah menjadi kenangan. Dan Lenia tetap menjadi penejang rindu yang semakin lisut lantaran semakin sahih antara ngetehkan kopi, mengopikan teh, mengopikan kopi, dan ngetehkan teh. Namun inilah faktanya. Sebuah pigura hati yang tetap anonim. Anonim dan selalu tak kami akui, bahkan sadari. Dan lagi hanya Tuhan mengenalnya lebih: Keluguannya.

“Lenia, apakah kau pernah bertemu Tuhan pada telanjangnya rindu kita?” aku bertanya kepadanya suatu hari sebelum dia pamit untuk kembali ke Larantuka setelah empat hari dia berlibur di Maumere.

Kami duduk berhadapan menikmati senja sambil menikmati secangkir kopi. Tapi dia lebih memilih teh. Ringkik kursi tua yang kami duduki sejenak memenangkan kebisuan antara kami. Kuulangi lagi tanyaku lantas matanya menerawang jauh. Jauh mungkin jenuh atau juga lesuh berpikir.

“Lenia, apakah kau pernah bertemu Tuhan pada telanjangnya rindu kita?”

“Ya, aku bertemu Tuhan tetapi pada cerucuk matamu bukan pada telanjangnya rindu kita?”

Aku terdiam. Dan akan terjadi kesepian yang mengerikan jatuh ke dalam hatinya, seperti rabas yang menjarum dari dedaunan pinus yang menggigil sehabis hujan. Mungkin dia akan menangis dan bersama malam yang pejal menjelma bentangan jeladri yang amat luas.

“Mengapa kau bertemu Tuhan pada cerucuk mataku?”

“Karena matamu adalah Tuhan dan aku mengenal Tuhan dari matamu. Lebih dari itu karena Tuhan tidak pernah menipu!”

Aku terdiam lagi. Sejenak kepada butir-butir gerimis yang mulai terpisah dengan letupan binar matanya.

“Lenia, apa yang Tuhan katakana kepadamu?”

“Lenia, sesungguhnya anak-Ku Marco mencintaimu!”

“Lalu apa katamu?”

Giliran dia yang terdiam. Diusapnya mata yang semakin basah lantaran terlampau deras gerimis dari perih matanya.

“Katakanlah Lenia.!”

“Tuhan, sebelum segala doaku diaminkan, sesungguhnya aku telah berdosa karena mencintaimu.”

“Mengapa kau merasa berdosa mencintaiku, Lenia.?”

“Karena kau adalah pemalu yang tidak tahu malu.

Kembali aku terdiam lagi. Kupikirkan baik-baik kata-katanya tadi. Sebab kata-kata itu tajam seperti pisau dalam sepi tanpa nyanyian dan bunyi lalu bersembunyi dalam sunyi. Dan telah bersembunyi untuk mencintai Lenia.

“Apakah mencintaimu adalah berdosa, Lenia?”

“Tidak!”

“Lalu mengapa kau mengatakan aku pemalu yang tidak tahu malu?”

“Karena kau terlalu bertele-tele. Kau yang memulai ini dan tidak bertanggung jawab terhadap perasaanku. Kau suka menyeduh tehku dengan kata romantismu tetapi kau sendiri menikam belati dalam menyedukan kopimu.”

“Tapi aku ingin kau mengopikan kopiku dengan lugas dan menjadi lebih setia dan menjadi tuan rumah yang berbesar hati untuk merelakan aku pergi.”

Kami kembali terdiam. Hanya diam yang dapat kami lakukan. Tidak lebih. Seperti yang sudah-sudah, anonim sekali. Manusia memang terkadang egois, tidak menyadari bahkan tidak mau mengakui apa yang mereka rasakan. Seperti aku dan Lenia. Sama-sama egois.

“Lenia.”

“Ia.”

Kukawinkan jemariku dengan jemarinya. Dia sedikit menolak. Tetapi pada akhirnya dia membiarkan jemarinya merekat erat dengan jemariku.

“Lenia, aku akan mencarimu sampai kau hilang lagi.”
“Mengapa?” dia bertanya.

“Karena Tuhan telah mengatakan bahwa aku mencintaimu. Lalu mengapa kau kembali mencari Tuhan dalam cintaku?”

“Aku mencari Tuhan karena aku ingin kau mengikuti-Nya.”

“Mengapa kau lebih memilih merelakan aku mengikuti Tuhan dari pada mempertahankan aku untuk tetap mencintaimu? Bukankah kita harus bersama-sama mencari-Nya dan mengikuti-Nya berdua?”

“Maaf Marco. Aku rasa ini cukup. Aku rela jika kau pergi untuk Tuhan. Lebih dari itu aku sungguh mencintaimu dan ingin kau menjadi gembalaku kelak. Tuhan tidak marah padaku kalau aku merelakanmu pergi untuk-Nya walaupun Dia tahu bahwa aku mencintaimu. Dan semoga kau tidak menyesal dengan keputusan ini. Aku butuh doamu. Permisi, aku harus pergi!”

Dia melepaskan jemariku. Sebelum pergi, dihabiskannyalah sisa teh tegukan terakhir. Dan aku pun mengerti bahwa tidak perlu lagi ngetehkan kopi, mengopikan teh, ngetehkan teh atau mengopikan kopi. Yang terpenting ialah menikmati teh dan kopi lalu menemukan Tuhan di dalamnya.


Senja seperti terlewatkan. Langit mendung itu menyembunyikan warna. Sisa-sisa sinar yang cemas tenggelam tak berdaya di balik punggung bukit yang begitu terpercaya. Lampu-lampu jalan itu bergelantung di langit seperti buah-buah bercahaya tanpa pohon-pohon pengandung.

Aku tertunduk malu membayangkan wajah Lenia yang raib seketika. Rinai pada Januari silam telah menjadi gerimis pada lima belas Agustus. Maumere pun menjadi hujan seolah-olah ikut menangis karena perpisahan kemarin telah mempertemukan kami kembali di jalan yang sama, untuk mencari Tuhan setelah memenangkan teka-teki dari ritual ngetehkan kopi, mengopikan teh, mengopikan kopi dan ngetehkan teh. Dia, Lenia, perempuan lugu yang esok akan menerima kerudung hidup selibat.

kepada perempuan lugu:
setelah sekian waktu luput dari menghitung keputusan
berpisah
aku belajar lagi mengeja sikapmu
tepat pada simpul senyummu
aku terikat lagi
berpisah tak mudah
bila seluruh ingatan penuh kita dan masa depan
sebab
kita yang meninggalkan tidak akan ditinggalkan
Tuhan maha setia.

Cerpenis sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero, STFK Ledalero

Advertisements

Advertisements

Advertisements