CERPEN – Katharina

Advertisements

KARYA: FAND WASA

Tuhan jika mencintaiMu adalah sebuah doa, dan mencintai dia adalah sebuah dosa, apalah daya hidupku? Membunuhnya dan menjadi kekal kata-kata itu agar aku tidak lagi menunaikan doa dan merasakan dosa sekaligus? tulisku singkat pada diaryku sebelum mimpi membawaku terbang tinggi.

Malam pekat menyelimuti jagat. Dua jam lagi tahun akan berganti. Riuh gaduhnya petasan membumbung mekar mempercantik malam berkabut. Di tengah malam yang syahdu, sesosok Cinderela berparas cantik lagi anggun, bergigi gingsul, pipi lesung hadir menambah suasana suka di tengah alam yang sedang bermetamorfosis.

Ingatan tentangnya terus terlintas di wajahku. Saat aku sedang asyik bercerita dan bercanda tawa bersama keluarga kecilku, ia menghampiriku dan mengajakku menikmati makan di meja perjamuan yang telah disediakan.

Ternyata ia juga diundang keluargaku untuk bersukaria bersama. Itulah awal jumpa penuh cinta di antara kami. Awal yang menjadikan power of love yang tidak tuntas dibahasakan kata-kata tetapi kekal terekam dalam imajinasiku.
Kedatangannya tanpa kuduga mendekap erat dalam ingatan dan genit merasuk kalbu hingga aku tak berdaya dibuatnya saat membayangkan aura wajahnya yang indah menawan itu. Mengabaikan kedatangannya adalah kesia-siaan. Membiarkannya jalan lewat adalah kebodohan yang akan melahirkan penasaran yang tak bertepi tuntas.

“Bukankah kesempatan hanya datang sekali dan menuntut tanggapan terhadap kesempatan itu”, kataku pelan dalam hati sembari malu-malu menatapnya.

Hari berganti hari, waktu terus melaju. Penasaran pun perlahan ‘tertidur’ ditelan suasana liburan bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halamanku.


Namaku Enjelino, seorang biarawan misionaris. Dengan berstatuskan Frater membuat aku dan kawan-kawanku menjadi rebutan para ladies. Varian pujian sering dilayangkan padaku. Katanya sih, Frater itu ganteng, manis, pintar, bijaksana, motivator. Setiap kali berbicara dengan Frater hati kami terasa adem.

Pujian ‘tak berkasut’ ini yang sering kudengar disetiap celoteh para puella, sebutan yang dialamatkan pada para gadis. Meskipun statusku sering dinilai istimewa, rasa mencintai dan dicintai tetap merasuk dan menggema dalam diriku. Riak-riaknya sering kurasakan saat berjumpa dengan ‘mawar’ merah jingga di malam pengantian tahun baru.

Perjumpaan itu sering kuciptakan sendiri saat duduk sepi di meja belajarku sembari membayangkan wajahnya yang dibalut gingsul dan lesung pipi. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Ah entahlah biarkan waktu yang akan berbicara, gumamku pelan sambil tersenyum kecil.


Cinta memiliki ribuan defenisi dari bibir-bibir yang berlainan. Cinta diberi batasan sesuai dengan pengalaman yang dialami si subyek. Akupun memiliki rajutan defenisi tentang cinta. Cinta bagiku adalah ketakterdefenisikan. Memberikan defenisi berarti memberi batasan terhadap kemahaluasan cinta itu.


Via akun facebook-ku menjadi perpanjangan cerita penuh cinta kami yang sebelumnya sempat raib di telan waktu. “Katharina” meminta pertemanan. Sebelum kukonfirmasi pasti, kucoba membuka profilnya, ternyata Katharina gadis cantik di penghujung akhir tahun 2019 yang sangat kukagumi.

Aku terperangah melihat layar handphone-ku. Apakah benar dia adalah sosok wanita penghujung akhir tahun itu? Tanyaku dalam hati penasaran. Ahhhh, sepertinya bukan, aku mulai meragukannya. Bukankah anak zaman sekarang sering memalsukan nama dan profilnya demi mendapatan sesuatu yang diinginkannya? Negative thingking menguasaiku.

Setelah lama mempetimbangkan hal itu akhirnya kuputuskan untuk add saja.“Selamat ber-hari Minggu kak. Frater (Bingu) dengan ditambah emot senyum manja”, sapanya sopan via facebook. “Selamat juga ade”, balasku singkat.

Lama kami bercerita via facebook akhirnya aku memberanikan diri meminta nomor whatsapp. Tanpa bertanya banyak ia memberikan nomor Whatsapp-nya. Agar lebih nyaman dan lebih rahasia kami melanjutkan perbincangan via Whatsapp. Aku memperkenalkan diri dan statusku dan begitupun dia.

“Namaku Khatarina seperti nama yang tercantum pada akun facebookku”. Ternyata benar. Dialah wanita yang sering hadir dalam ingatanku. Wanita bergingsul dan berlesung pipi, wanita penghujung akhir tahun 2019. Inilah yang orang bilang “tulang rusuk tidak pernah salah menjumpai pasangannya”, ujarku dalam hati.

Makin hari, pola diskusi kami terus mendapat format. Level pembahasan kami makin romantis. Sungguh kami sedang merangkak dalam zona nyaman, zona sama-sama kasmaran. Ahhhhh,,,,aku kasmaran? Pikirku saat sebelum mazmur pagi kudaraskan. Di kapela yang kudus sukacita kudaraskan, pun dukacita kulitanikan biar sang Almasih menuang harap untuk terus menapak jalan yang penuh debu dan onak duri.

Tentang Katharina sering kucurhat padaNya. Jika dia adalah tulang rusukku, maka akulah tulang punggungnya. Namun jika dia bukanlah ‘masa depanku’ izinkanlah aku mengenalnya sebelum aku dengan gagah menjawab setuju untuk ditahbiskan menjadi imam, curhatku pelan dan penuh harap di depan Corpus Christe.

Inikah yang namanya cinta? Seperti apakah cinta itu? tanyaku lagi dengan logika yang kian uzur. Yang pasti setiap kali bertemunya aku lemah dan tak berdaya. Ingin terus selalu berada dekatnya dan menikmati kebersamaan bersamanya. Rindu sering mengulang jumpa. Kala jumpa sudah terulang ingin kekal bersamanya tak terpungkiri lagi.

Sungguh aku sangat mencintainya. Walau kini statusku membatasiku untuk berelasi khusus dengan seorang wanita, namun aku tak dapat membohonginya kalau cinta terhadap yang kelihatan lebih kokoh kuat daripada yang tidak kelihatan. Ah sudahlah..setiap manusia pasti mengalaminya. Ada banyak cara untuk menemukan jalan pulang saat pergi sudah terlalu jauh.


Matahari hampir terbenam. Warna merah jingga memoles indah cakrawala. Malam lembut menjemput siang pulang perlahan. Ditemani senja yang perlahan sirna kududuk sendiri di pinggiran pantai.

Sementara kududuk santai menikmatai deburan ombak dan kicauan burung pencari ikan, tiba-tiba saja Handphone-ku berbunyi. Katharina memanggil. Aku mengangkat telepon.“Halo, selamat sore!”, sapaku halus.

“Selamat sore juga, selamat ulang tahun kaka Frater, panjang umur dan sehat selalu. Selesai ia mengucapkan selamat dengan diselipakan doa dan harapan, hatiku berguncang keras. Rasanya dunia ini hanya milik kami berdua dan yang lainnya hanyalah kontrak. Aku melompat kegirangan sambil tersenyum bahagia.
“Terima kasih juga ya ade, buat ucapannya”, balasku dengan menambahkan emoji love untuk mempertegas rasa bahagiaku. Pada kesempatan ini juga, hatipun turut mencari makna.

“Kak frater, apakah aku salah jika mencintai “ketakutan”? Apakah aku salah mencintai calon imam? Pertanyaannnya makin jelas dan mudah kuterka.

Setelah menyampaikan pertanyaan itu, kami terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya aku menjawab, “Mencintai ketakutan adalah hal yang tidak baik dan tidaklah salah jika engkau mencintai seorang calon imam. Perasaan bukan seperti air segelas yang habis diminum bisa diisi ulang. Perasaan itu harus disampaikan kepada obyek yang menciptakan perasaan cinta dan atau sayang itu agar ia memiliki rumah”.

“Jawaban kaka membuatku makin berani untuk menyampaikan kalau aku sayang dan cinta kaka. Aku tidak bisa menahan rasa ini seorang diri. Makin kutahan, hati ini makin terluka disayat ketakutan. Sekali lagi aku sayang kaka”, tukasnya terbata-bata.

Inilah puncak harap yang dikunjungi kenyataan. Inilah kado indah yang kuterima di hari bahagiaku. Ia menjelmakan Hawa hidup bagi Adam baru. Awalnya aku berpikir kalau ini hanyalah leluconnya saja untuk menyenangkanku di hari penuh rahmat ini. Tetapi pikiranku karam dihadapan kejujuran hati Katharina menyampaikan isi terdalam jiwanya. Ia serius mencintaiku.


Malam itu dengan ditemani bunyi jangkrik yang tak berirama aku menenggelamkan diri dalam rumah dilematis. Pernyataan “jika mau satu jangan dua, satu menggenapkan dan dua melenyapkan” terus merasukiku. Pada titik lain aku diarak oleh sebuah konsep netral, “mendung tidak selamanya hujan, pacaran tidak selamanya jadi”.

Dua oposisi biner mainstream ini menyerang kedirian tunggalku. Aku terkapar diujung pasrah. Tuhan aku ingin mengenalnya lebih dalam. Bukannya aku menghianatiMu, bukan juga aku mengecewakanMu. Jujur rasa ini membabi buta dan meninggalkannya akan membutakan rasaku sebagai manusia berasa.

Tuhan jika mencintaiMu adalah sebuah doa, dan mencintai dia adalah sebuah dosa, apalah daya hidupku? Membunuhnya dan menjadi kekal kata-kata itu agar aku tidak lagi menunaikan doa dan merasakan dosa sekaligus? tulisku singkat pada diaryku sebelum mimpi membawaku terbang tinggi.

Teruntuk Tuhan dan Katharina ….

Katharina, menakar kata-katamu adalah cara membongkar keluar dari balik jeruji penjara yang kokoh.
Mengamininya. Membunuh rasa yang telah lama bernostalgia bareng Tuhan.
Sedikit angkuh, aku terpesona pada parasmu, tapi kepada Tuhan adalah cara menanam benih pada sebuah ladang yang tak-pasti dan tak berujung.
Tuhan, maafkan aku jika aku menyimpang.
Tidak salah bukan jika aku mencintaiMu dalam rupa yang lain?
Aku kalah Tuhan, kalah dalam permainanMu yang Kau sebut Cinta.
Untuk Tuhan dan Katharina aku mencintai kalian tanpa sebab.
Aku mencintai kalian tanpa karena.
Cinta tidak ada ujungnya.

Agustinus, 25 November 2020

Advertisements

Advertisements

Advertisements