CERPEN – Elegi Cinta Vebronia di Ujung Senja

Advertisements

KARYA: INNA WULLO

Vebronia cuma diam saja. Dia tahu malam yang dingin, bulan dan bintang akan jadi saksi atas janjinya melepas Valentino, kekasih yang paling dicintainya. Melepas untuk bisa mencintai. Bukankah melepas kepergian adalah cara lain mencintai? Ya, mencintai dari jauh, mencintainya dalam setiap rapal doa.

Hampir senja. Pelangi yang tadi melengkung di langit, kian memudar seiring berlalunya senja. Semburat merah jingga di langit sebelah barat pun mulai pupus. Berganti gelap malam yang mulai menyelimuti alam semesta. Bulan di atas sana tampak samar mengirimkan sinarnya yang lembut.

Dalam keheningan malam, aku duduk menatap sepi. Di sampingku duduk seorang gadis cantik. Ia pun duduk membisu. Asyik dengan pikirannya sendiri.

Dia memang gadis yang cantik. Namanya Vebronia. Aku sangat mencintai dan menyayanginya tapi sekaligus membencinya. Aneh khan? Tapi ini memang nyata. Aku memang tidak sendirian, disampingku duduk seorang gadis cantik. Gadis yang paling aku cintai tetapi sekaligus gadis yang paling aku benci.

Dia sangat kusayang karena memang cinta pertamaku. Cinta yang polos, lugu dan tanpa basa-basi. Berjalan begitu indah dalam suka dan duka. Dialah perempuan pertama yang mengajariku banyak hal tentang hidup ini. Dialah perempuan pertama yang mengajariku tentang arti dari dua kata: mencintai dan dicintai.

Namun jauh di lubuk hatiku terselip rasa yang aneh. Aku seakan merasa tersiksa. Semacam ada rasa penolakan. Apakah aku membencinya? Mungkin. Dan ini memang aneh. Aku begitu menyayanginya namun juga di saat yang sama terselip penolakan di dalam hati.

Jujur saja. Selama ini aku rindu kepada sesuatu yang indah di luar sana. Suatu keindahan hidup yang paling hakiki menurutku. Aku rindu akan sebuah suara yang terus memanggilku. Suara itu selalu ada dalam setiap rapal doaku di malam-malam yang sepi. Suara dari Dia Yang Tersalibkan. Aku diombang-ambing oleh rasa. Rasa yang sama. Rindu yang sama. Tapi kepada dua orang yang berbeda.

Malam semakin larut. Sepi dan udara malam yang menggigil menjerumuskan aku dalam rasa yang tersiksa. Rasa untuk memilih. Untuk memutuskan sebuah pilihan sulit. Degup jantungku yang resah seakan berlomba dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Lidahku terasa kelu. Namun aku harus bicara. Harus jujur. Aku harus memulai, meski itu nantinya sakit.

“Sayang?” tukasku, mencoba memecah kesunyian di antara kami berdua. Aku meliriknya. Namun ia cuma diam membisu.

Aku mencoba memilih kata-kata yang pas. Kata-kata yang setidaknya tidak menyakiti kami berdua. Meski memang aku tidak yakin dengan kata-kata itu sendiri. Tapi biarlah nanti alam yang akan menyembuhkan hati kami. Biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka ini nantinya. Aku harus. Harus bicara.

“Mungkin ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk bertemu,” kataku akhirnya. Kata-kata itu seakan menghempaskan aku ke lorong yang sangat sepi. Sakit memang. Tapi Vebronia tetap diam membisu.

Sejenak kemudian ia menatapku dengan sorot mata yang penuh luka dan sedih. Dan di saat seperti ini, aku merasa sangat bersalah. Merasa takut dan tidak tega melihat matanya yang teduh itu berubah kabut dan kelam. Lebih kelam dari malam ini. Ada gurat kecewa di wajahnya.

“Aku ingin jawaban yang jujur. Apakah kamu masih mencintaiku?” suara Vebronia terdengar terbata-bata. Terasa berat. Entah apa maksudnya. Aku tidak paham arah dari pertanyaannya.
“Apa maksudmu?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Jawab pertanyaanku Valentino!” Suara Vebronia terdengar tegas.
“Aku masih mencintaimu seperti awal perjumpaan kita. Dan..,” suaraku tercekat di leher. Berat melanjutkan kata-kataku.
“Dan apa?” sahut Vebronia dalam nada tanya.
“Dan.. rasa ini sungguh membuat aku bingung. Benar-benar bingung. Aku dilema. Aku seperti berada di persimpangan jalan. Aku..” lagi, aku tidak mampu meneruskan ucapanku.
“Iya, benar. Kamu tidak jujur. Kamu bohongkan?” tanya Vebronia. Ia menatapku tajam. Lalu tersenyum. Sebuah senyuman yang terpaksa. Senyuman untuk menyembunyikan hatinya yang terluka atas pilihanku.

Vebronia mencoba bertahan di hadapan pria yang paling dia sayangi di dunia ini. Aku harus kuat, bisik Vebronia dalam hatinya. Toh membiarkan Valentino pergi dengan bebas demi sebuah pilihan, adalah cara lain untuk mencintainya. Mencintai dan merindukan dari jauh. Ya, dari jauh saja. Itu sudah cukup.

Dan sejenak kemudian, pertahanan itu runtuh. Matanya yang bundar dan indah itu mengerjap basah. Air mata luruh di pipinya yang dingin, sedingin hatinya saat ini.

Suara isak tangisnya serasa memantul-mantul di dinding hati Valentino. Seakan sebuah teriakan betapa kejamnya dunia ini merenggut pria itu dari sisinya. Pria yang sangat dikaguminya, yang sebentar lagi pergi sebagai orang yang bebas. Bebas memilih untuk dicintai Sang Khalik. Mencintai Dia Yang Tersalibkan.

“Tidak Vebronia aku memang masih dan bahkan sangat mencintaimu sejak dari awal perjumpaan kita hingga sekarang dan sampai selama-lamanya,” aku mencoba merangkulnya. Tubuhnya yang mungil berguncang dalam dekapanku.
“Ketika kau akan meninggalkan aku demi panggilanmu, kau bilang masih mencintaiku?” tukasnya seraya mengusap air matanya.
“Aku meninggalkanmu bukan karean aku tak mencintaimu. Tapi aku lebih mencintai Dia yang telah mengajariku arti dari mencintai. Sebelum aku mengenal apa itu cinta”, kataku sambil memperketat dekapan.

“Kenapa Vallentino? Kenapa ketika aku mulai mencintai, kau malah pergi meninggalkan aku?,” timpal Vebronia.
“Maafkan aku Vebronia. Tapi, mungkin Dia lebih besar, lebih kuat menarik aku pada dia yang lebih kecil,” bisikku dengan suara lirih.

Tangisan Vebronia perlahan mulai mereda, meninggalkan sunyi yang kembali meyelimuti kami. Aku hanya bisa memeluk Vebronia, kata perpisahan yang telah kusiapkan kini tiba-tiba hilang dari kepalaku. Aku ingin bicara tapi yang ada hanyalah kebisuan diantara kami berdua.

“Jika itu memang keputusanmu, pergilah! Tapi ingat jangan pernah kamu kecewakan aku. Jika kamu lebih mencintai Dia, buktikan itu pada dunia. Aku akan mendukungmu,” kata Vebronia. Suaranya bergetar.

Vebronia terdiam. Sejenak kemudian ia melanjutkan, “Aku akan selalu mendukungmu. Dengan cara begini, aku bisa membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu,” tukasnya seraya menyeka sudut matanya yang basah.

Aku kembali mendekap tubuh mungil itu. Mengecupkan keningnya dengan penuh mesra dan kagum. Kagum kepada ketegaran dan kerelaan hatinya untuk melepaskan aku.

Vebronia cuma diam saja. Dia tahu malam yang dingin, bulan dan bintang akan jadi saksi atas janjinya melepas Valentino, kekasih yang paling dicintainya. Melepas untuk bisa mencintai. Bukankah melepas kepergian adalah cara lain mencintai? Ya, mencintai dari jauh, mencintainya dalam setiap rapal doa.

                                  ***

Empat tahun kemudian, aku sudah menyelesaikan S-1 Filsafat. Saatnya harus menjalani masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di salah satu paroki di daerah terpencil.

Hari-hariku diisi dengan kesibukan melayani umat. Suasana desa yang sepi, keramahan orang-orang kampung yang khas menjadi santapan rohaniku setiap hari. Ada canda dan tawa, ada juga aktivitas yang melelahkan. Namun itu ditutupi oleh keramahan orang-orang yang menjumpaiku. Hingga tidak terasa, aku telah menyelesaikan masa TOP. Kini aku kembali ke biara.

Namun setiba di biara, ingatanku kepada seorang gadis yang pernah mengisi relung hati ini, benar-benar mengusik hidupku. Ia selalu membayangi tidur malamku. Gelisah. Kadang aku berusaha menepis bayangan itu. Namun seketika itu muncul lagi. Bahkan dengan rasa rindu yang semakin kuat dan menyiksa setiap malam-malamku.

Vebronia! Ya, nama itu, entah kenapa tiba-tiba memanggil sayup-sayup dari keremangan hatiku yang gelisah disiksa kerinduan. Entah kenapa aku tiba-tiba sangat ingin menatap bulat matanya yang polos itu. Entah kenapa aku rindu bau harum rambutnya yang hitam legam itu. Entah kenapa aku rindu senyum kulum nan malu-malu dari gadis yang sudah kutinggalkan direnggut masa lalu.

Aku mencintai Dia. Mencintai panggilanku. Tapi entah kenapa, di puncak ini dan di simpang jalan ini, aku merasa gamang untuk memilih. Meneruskan atau berhenti di simpang jalan ini.

Hingga puncak dari pergumulan itu, aku menulis surat kepada pimpinan. Aku mengundurkan diri. Aku memilih pulang. Ya, pulang kembali kepada cintaku. Pulang ke masa laluku. Vebronia, aku pulang. Aku kangen dan rindu teramat sangat kepadamu.

Tiba di kampung, aku langsung menyambangi rumah Vebronia. Pintu pagar halaman tertutup rapat. Rumahnya kosong, tidak ada penghuni. Halaman rumahnya tidak terurus.

“Sudah pindah bersama keluarga ke kota lain. Sudah lama pindahnya,” jelas salah satu tetangga sebelah rumah Vebronia.

Aku terhenyak kaget. Kemana harus kucari sosok mungil yang selalu ceria dengan matanya yang mengerjap-ngerjap senang bak anak kecil bila menatapku dengan cara yang unik itu? Ah, Vebronia, kemana kamu pergi?

Hari-hariku selanjutnya adalah pengembaraan yang sia-sia. Aku mencari Vebronia di setiap sudut kota. Tidak ada sekalipun informasi yang membuatku bersemangat. Aku hanya mendapatkan jawaban gelengan kepala atau tatapan heran orang-orang atas pertanyaanku. Semua gelap.

Hingga suatu senja. Aku sedang termenung di halaman sebuah gereja. Hari itu adalah hari terakhir di penghujung tahun. Sebentar lagi tahun yang baru sudah datang. Semoga doaku di kapel tadi, didengar Tuhan. Ya Tuhan, aku ingin bertemu Vebronia. Dalam kondisi apapun aku siap, Ya Tuhan. Begitu penggalan doaku tadi.

Hari semakin gelap. Ketika dari sudut taman gereja, sudut mataku menangkap sesosok wanita berkerudung berjalan tergesa-gesa. Sosok itu seakan mengingatkan aku kepada Vebronia. Ah, itu Vebronia?

“Vebronia!” teriakku kencang. Aku jadi kaget sendiri, kenapa tiba-tiba aku bisa berteriak seperti itu?

Aku bergegas mencoba menghadang langkah biarawati cantik itu. Namun sosok itu mencoba menghindari dengan berlari tergesa-gesa. Namun tanganku berhasil meraih lengannya.

“Vebronia! Engkaukah itu?” tanyaku dengan nafas memburu, ditindih rasa rindu yang teramat sangat.

Dan wanita itu mendongakkan kepalanya. Ada butiran embun di sudut matanya. Ia mengangsurkan jarinya kepadaku, memperlihatkan sebuah cincin di jari manisnya.

“Apakah engkau…?” Aku tidak bisa melanjutkan pertanyaanku. Aku tidak percaya. Sosok yang kucintai dan sangat kurindukan itu, kini berdiri di depanku memakai pakaian serba putih. Sosok itu kini berubah menjadi seorang biarawati cantik.

“Aku sudah menjadi suster. Aku sekarang seorang biarawati. Aku minta kamu tidak usah mengusik hidupku lagi,” tukas Vebronia tegas. Ia menyentakkan tangannya dari genggaman jemariku.

“Tapi kenapa?” pertanyaan bodoh ini tanpa sadar terucap dari bibirku. Ya, pertanyaan yang bodoh memang. Dan tidak perlu membutuhkan jawaban lagi. Tapi sungguh, aku ingin mendengarkan dari mulut Vebronia sendiri. Jawaban atas pertanyaan bodohku itu.

“Karena Dia yang lebih besar, lebih kuat dari pada dia yang lebih kecil,” tukasnya. Kulihat ada linangan air mata di pipinya.

Vebronia pun berlalu dari hadapanku. Ia melangkah pergi tergesa-gesa. Kerudung putihnya berkibar-kibar dihempas angin senja di halaman gereja. Aku masih berdiri terpaku di sini, menatap punggungnya yang kian samar ditelan gelap senja. (***)

*) Inna Wullo, adalah seorang biarawati dari serikat SSpS asal Lembata. Sekarang tinggal di Maumere. Ia penyuka sastra. Dalam kesehariannya sebagai biarawati, ia masih sempat meluangkan waktu untuk menulis puisi atau ceritra pendek (cerpen). Ia memang masih malu-malu mengirimkan tulisannya ke media massa.

Advertisements

Advertisements

Advertisements