CERPEN: Belis

Advertisements

Karya: Sonny Kelen

...Ketika Dea berlari menuju Lango Bele bunyi burung gagak mengikuti Dea dari belakang. Dea tidak peduli dengan semuanya itu. Dea memegang erat salib yang tergantung di lehernya sambil menutup mata, tangan kanannya memegang Nuba…

Leworahang semakin tua ketika Dea pamit untuk memahat cerita pada tubuh rentahnya. Kampung sederhana itu, telah mengajari Dea menulis kisah hidupnya. Bukan saja cerita tentang orang-orang Leworahang yang kuat mengiris tuak , tapi juga tentang budaya yang sekian lama hidup dan sudah mendarah daging.

Atau cerita mengenai para ibu yang kadangkala terlalu kuat menjadi seorang wanita, menguasai anak mimpinya pada jalanan pagi buta sambil membawa Arak kemudian melalang mentari dengan sabar dan setia di Pasar Oka.

Atau cerita lepas kepada anak cucu tentang jalan rusak menuju kampong dan sulitnya memperoleh air bersih, kadang bermalam ketika usia terlalu dini dan empat jerigen menggantung di pundak menyusuri setapak menuju rumah.

Kali ini bukan cerita itu yang dimaksud. Ini tentang Dea. Seorang remaja yang ingin mengayuh perahunya ke lautan lain. Bukan menikam, tetapi menjala. Bukan ikan, melainkan manusia. Setiap kali senja pergi, Dea selalu menghabiskan waktunya dengan berdoa. Dalam doanya itu, satu harapan darinya; Tuhan semoga aku menjadi penjala manusia untukmu.

Bertahun-tahun sudah dengan susah payah Dea menyiangi cita mulia itu. Dea memang ingin cepat-cepat menuntaskan keinginan ini: menjadi seorang wanita berkerudung putih, hidup selibat, menjalankan misi pelayanan Katolik dan akan sangat bangga dengan deburan panggilan Suster SSpS dari nama pendeknya Dea.

“Apa kau yakin dengan pilihan ini, nak?” sergah ibunya waktu Dea bercerita.

“Aku sangat yakin, bu. Rasanya aku bahagia sekali dengan pilihanku ini.”

Dea tak ada nyali untuk menatap mata ibunya. Dea tahu, mata ibunya sembab, suaranya bergetar. Dia tak berkeberatan, semoga saja. Dea membatin.

“Kalau kau punya keinginan seperti itu, ke mana hendak kau lanjutkan pendidikanmu?”

Dea tiba-tiba diam. Dea tahu kalau ibu seakan-akan berapi-api ingin mematikan api dengan api. Mungkin ini yang dinamakan kesayangan.

“Aku minta tolong ibu bujuk ayah cari sekolah khusus untuk calon suster, bu.” Pinta Dea.

Tiba-tiba ayah Dea muncul di depan pintu kamar. Dea memperhatikan baik-baik garis pada wajah ayahnya yang terpahat membentuk anak panah lentur di dahinya. Setidaknya anak panah itu adalah titik terang kalau ayah sudah mendengar semua pembicaraan Dea dan ibunya.

“Ayah bangga mendengar niat tulusmu itu, nak. Tapi menurut ayah, kau lanjutkan dulu SMA-mu dulu Larantuka. Setelah itu, kau boleh masuk biara susteran.”
Dea bermaksud untuk menyela pembicaraan ayahnya tapi ibunya memberi isyarat.

“Apa kau tidak tak mengingat ayah dan ibumu yang sudah kusam pengelihatan ini? Kau anak tunggal, lagian tidak ada sekolah khusus untuk menjadi suster. Bertahanlah dulu, nak.”

Ini adalah anjuran sekaligus keputusan. Dea jengah dengan ayah dam ibunya sendiri. Tapi Dea lebih memilih menunggu, supaya Dea mempersiapkan hidup selibatnya untuk menjadi lebih baik.

Dea mulai melupakan rambut lurusnya yang tak tersaingi remaja seusianya, mata cekung menawan siapa saja yang beradu pandang, hidung kerucut yang menggoda dan wajah bulat purnama yang indah dipandang kalau bercermin. Dan banyak surat-surat cinta dan luapan hati sesama ditolak oleh Dea dengan halus. Sebab Dea punya satu tujuan; mencintai Dia.


Dea benar-benar pergi. Dea lebih memilih pergi menunggu hari dimangsa, menanti waktu yang tepat untuk pergi ke Biara lalu mulai mengalami kehidupaan yang lain. Di depan rumah ibu dan ayahnya melepas relakan Dea untuk pergi. Banyak air mata datang tak diundang. Memang benar air mata adalah tamu yang tak diundang dan tak diantar pulang.

“Nak, pergilah dengan langkah ringan. Ayah mendukungmu.” Pesan sang ayah.

“Ibu juga mendukungmu. Ingat, menjadi wanita biarawati tidaklah mudah. Berjalanlah semampumu. Kalau sampai pada pelabuhan yang ditujuimu, syukurlah. Tapi kalau tidak, kembalilah ke pangkauan ibu selagi pintu rumah masih terbuka dan air mata ini masih milikmu.”

Dea mencium tangan ayah dan ibunya. Dea sadar hidup butuh air mata dan kadang sulit membedakan mana air mata kesedihan dan mana air mata kegembiraan. Namun Dea tahu air mata yang saat ini mengalir pada pipinya dan membentuk muara kecil dibibirnya, suatu kelak akan menjadi air mata kebahagiaan yang akan menjadi miliknya.

Tepat masa-masa sebelum menerima kerudung, Dea menginjak lagi halaman rumah yang ditinggalkannya enam tahun yang lalu. Suasana masih sama. Ibunya yang masih dengan air mata yang sama, dan ayahnya yang sudah memasuki usia senja. Hujan yang baru saja reda mendesah-desah dan dingin terpangkul menyerapang hembusnya ke segala penjuru. Malam belum terlalu tua sementara aroma pisang goreng uapnya menusuk-nusuk hidung.

“Ayah ibu, aku kembali ke sini meminta restu untuk upacara penerimaan kerudung bulan depan.” Dea begitu bahagia, ketika keinginannya itu diutarakan.

“Aku minta ayah dan ibu juga ikut hadir dalam upacara penerimaan kerudungku nanti.” Tambah Dea. Kata-katanya terus meriak menjangkau kuping ayah dan ibunya. Tapi ayah dan ibunya tetap diam. Dea mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan ayah dan ibunya sudah tuli. Ayahnya sedikit mendongak. Ibunya tidak sama sekali. Tetapi justru ibunya yang mulai berbicara.

“Maaf Dea, ayah dan ibu tidak merestuimu. Kami berubah pikiran.” Wajah Dea begitu pucat saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh ibunya.

“Mengapa, bu? Mengapa ayah dan ibu tidak merestuiku?” ayah dan ibunya saling melirik lekat-lekat seperti sedang membuang undi siapa yang layak membahasakan ketidakrestuan itu. Dea menatap ayahnya dalam-dalam. Akhirnya Dea menangkap aura kalah dari wajah ayahnya. Baru kali ini Dea melihat kewibawaan ayahnya terbenam di hadapan anaknya sendiri.

“Katakanlah, bu. Jangan membuatku bingung.” Tambah Dea. Dea tak habis pikir kalau ibunya pelit berkata. Pemilik surga telapak kaki itu lebih memilih tertunduk lagi seperti kalah. Seperti senja yang pergi dan hanya ibunya sendiri berdiri menunggu untuk dipinang.

“Nak, dulu waktu ayah menikahi ibu, orang tau ayah belum membayar belis sampai hari ini. Keluarga besar ibu masih menuntut!”

“Lalu apa hubungannya dengan hidup membiaraku?” pembicaraan mulai memanas. Sebut saja pertengkaran. Dea membiarkan darahnya naik ke ubun-ubun.

“Seharusnya kau sadar, nak. Kau anak tunggal. Kau seorang perempuan dan kau kini sudah menjadi wanita. Lebih dari itu, kau satu-satunya pemenuhan belis ibu.”

“Jadi maksud ibu aku harus keluar dari Biara dan belisku dijadikan belis ibu?”
Dea membiarkan air matanya jatuh. Ayahnya hanya menunduk.

“Jawab, bu! Aku mohon.”

“Iya, nak. Ini satu-satunya jalan!”

“Tidak bisa! Tidak bisa, bu! Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak dari dulu ibu melarangku masuk Biara?”

“Karena ayah dan ibu menyayangimu. Lebih dari itu, karena ayah dan ibu kira kau hanya main-main dengan pilihanmu itu, nak.”

“Apa? Dengan cara inikah ayah dan ibu menyayangiku? Dengan mematahkan tunas cita dan membuat air mata yang bermuara di pipi?”

“Intinya kau harus keluar, nak. Tidak ada pilihan lain. Tanggalkan cita-cita itu.”

Belum selesai gerutu dari ibunya, Dea lalu pergi menuju Lango Bele . Ketika Dea berlari menuju Lango Bele bunyi burung gagak mengikuti Dea dari belakang. Dea tidak peduli dengan semuanya itu. Dea memegang erat salib yang tergantung di lehernya sambil menutup mata, tangan kanannya memegang Nuba.

Dalam sedihnya yang penuh luka, Dea bersumpah; demi Tuhan aku harus pergi. Biarlah ayah dan ibu yang menanggung semua tuntutan ini. Ini keputusanku. Izinkan aku pergi untuk Tuhan. Suara burung gagak menjadi-jadi. Bau amis darahpun tercium. Langit menjadi gelap. Tidak ada kata. Hanya sepi.***

**) Cerpenis sekarang Tinggal di Unit Gabriel Ledalero.
Ia juga aktif dalam Komunitas Sastra Sampul Buku Unit Ledalero

Advertisements

Advertisements

Advertisements