Begini Pendapat Ahli Tentang Kapal Selam KRI Nanggala 402, Yang Belum Juga Ditemukan Setelah 72 Jam

Advertisements

Masalah lain adalah bila kapal selam di titik 43 km utara Celukan Bawang itu jatuh ke dasar laut di bawahnya, bukan dalam kondisi melayang sebab survei sonar dari kapal-kapal pencari tidak menangkap suara apa pun, senyap.

Gambar lebih detail relief dasar laut utara Bali, berupa teluk lereng laut dalam 300-1300 m dengan arus cabang Arlindo berputar menyisir tepi teluk lalu bergabung lagi ke Arlindo-Arus Lintas Indonesia (panah hitam). Titik merah utara Bali adalah asumsi lokasi Nanggala. Titik ini kritis oleh sapuan arus cabang Arlindo. Dok Pribadi: Awang Satyana

DENPASAR, HALAMANSEMBILAN.COM – Sudah lewat 72 jam, persediaan oksigen di lambung Kapal Selam KRI Nanggala 402 dinyatakan habis secara teknis. Namun kapal ini belum ditemukan, meski telah dilakukan pencarian dengan mengerahkan ratusan armada laut dan udara.

Bahkan negara tetangga seperti Singapura termasuk Angkatan Udara USA telah mengirim pesawat terbang canggih yang bisa mendeteksi keberadaan kapal selam naas tersebut.

Batas waktu persediaan oksigen adalah pukul 03.30 Waktu Indonesia Tengah (Witeng), hari ini, Sabtu (24/4/2021). Apakah akan terjadi mujizat atau sebaliknya?

BACA JUGA:

Ini pendapat Awang Satyana, seorang Geolog Indonesia dan mantan Tenaga Ahli SKK Migas (2015-2019) yang sangat mengenal baik morfologi dan struktur bawah laut sekitar perairan sebelah utara Bali.

Beliau merupakan lulusan Universitas Padjadjaran Bandung jurusan Geology (Bachelor’s Degree) tahun 1983 – 1989. Selain itu Beliau memiliki pengalaman bekerja di bidang Exploration Geologist, Regional Geologist, sebagai Manager, Sr. Manager, dan Chief Specialist di Pertamina and BPMIGAS.

Advertisements

Advertisements

Advertisements