Begini Kronologi Lengkap Le Ray Menganiaya dan Memperkosa Seorang Wanita Asal Kota Kefamenanu

Advertisements

Korban BWA (32) dan pelaku Le Ray

“Di belakang pondok itu dia memperkosa saya di bawah rerimbunan pohon pepaya, disaksikan penjaga kebun,” kisah korban.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Seorang pria di Kota Kefamenanu bernama Le Ray, sedang diburu Tim Buser Polres Timor Tengah Utara sejak Selasa (5/1/2020) dinihari.

Ia diburu aparat kepolisian setempat karena dituduh menculik, menyekap, menganiaya dan memperkosa seorang wanita berinisial BWA (32), warga Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Lalu bagaimana kronologi lengkap peristiwa yang menggemparkan masyarakat Kota Kefamenanu bahkan NTT ini?

Berikut penjelasan korban BWA via telepon genggamnya dan penjelasan ayah dan ibu kandungnya kepada para wartawan di Kefamenanu, Selasa (5/1/2021).

Awalnya korban berkenalan Pemimpin Redaksi Media Online Suluh Desa bernama Frids Wawo Lado via Facebook. Selama Pilkada TTU 2020, Frids Wawo Lado, mengontrak di rumah mertua Yosep Tanu, mantan Calon Wakil Bupati TTU, yang beralamat di Pasar Baru, Kelurahan Benpasi, Kecamatan Kota Kefamenanu.

Pada Senin (4/1/2021) siang, Frids menghubungi korban melalui pesan WhattsApp dan meminta korban untuk berkunjung ke kontrakannya. Namun korban menolak karena merasa sungkan. Setelah Frids meyakinkan korban bahwa di kontrakan tersebut ada rekannya Gesta dan Rinto, korban langsung memutuskan untuk berkunjung ke kontrakan Frids.

Setibanya di sana, korban bersama Frids, Gesta, dan Rinto memasak dan makan siang bersama. Setelah makan siang, korban bersama Frids, dan rekan-rekannya kemudian duduk di ruang kerja Frids. Saat itu, Frids tengah mengetik di laptop, sementara korban mengisi waktu luang dengan mendownload dan menonton film pada laptop lainnya. Tak lama kemudian, Frids mengeluh tangannya pegal karena lama mengetik.

Mendengar hal itu, korban menawarkan bantuan untuk memijat pergelangan tangan korban. Selang dua menit kemudian, pelaku, Le Ray tiba bersama rekannya Nuel Uskono, di ruang kerja Frids Wawo Lado. Tanpa basa-basi langsung memukuli kepala korban dengan sebuah kursi plastik. Kursi tersebut patah di kepala korban.

Mata korban berkunang-kunang dan nyaris pingsan. Namun Le Ray yang sudah kalap dan murka terus memukuli bagian kepala dan wajah korban. Bahkan tubuh korban dibentur-benturkan ke tembok dan pintu rumah. Korban juga sempat diseret ke halaman rumah namun warga yang melintasi jalan depan rumah tidak ada yang menolong, kendati korban berteriak minta tolong.

Pemred Suluh Desa, Frids Wawo Lado sempat melerai namun diancam hendak dipukul pelaku. Selanjutnya pelaku memaksa membawa pergi korban dengan alasan hendak diantar pulang ke rumah.

Disekap dan Dianiaya di Rumah Dinas Bupati TTU

Korban bukan diantar pulang ke rumah orang tua, namun dilarikan ke Rumah Dinas Bupati TTU, dekat Komplek Gereja Katolik Santa Theresia Kefamenanu. Rumah Dinas Bupati TTU dalam kondisi kosong dan sepi. Tidak ada orang di sana.

Di kamar itu, kembali pelaku menyiksa dan menganiaya korban. Tubuh korban disundut pakai puntung rokok sehingga mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuh. Pelaku melepas paksa baju dan celana korban sehingga bugil. Lalu mengikat tangan korban pakai tali rafia.

“Batang sapu ijuk, dipatah jadi dua. Dan dengan dua batang sapu itu, ia pukul mulut saya sampai berdarah. Ia hampir menikam perut saya pakai batang sapu itu. Dia juga membuat video call lalu menyiarkan penyiksaan itu kepada orang tua saya sambil memaki-maki dan menghina orang tua saya. Itu dilakukan sampai dua kali,” kisah korban.

Saat tengah malam, pelaku membawa korban ke areal Perkebunan Pepaya milik Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt, di Desa Naen. Ada penjaga kebun. Di sana, pelaku menyeret korban di belakang sebuah pondok.

“Di belakang pondok itu dia memperkosa saya di bawah rerimbunan pohon pepaya, disaksikan penjaga kebun,” kisah korban.

Usai memperkosa, pelaku mengembalikan ponsel korban. Saat pelaku pergi buang air besar, korban menghubungi orangtuanya lewat ponsel untuk menjemputnya di TKP. Pelaku langsung melarikan diri.

Lalu apa motif dari penculikan, penyekapan, penganiayaan dan pemerkosaan itu? Masih misteri karena belum ada penjelasan resmi dari penyidik Polres TTU (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements