Balada Perempuan Tua di Bawah Pohon Trembesi

Advertisements

ANYAM – Bebebrapa permpuan tua menganyam sokal di bawah Pohon Trembesi. Foto: Julianus Akoit
 TERIK matahari siang menyengat. Angin berkesiur dari pinggang bukit Oebelo. Singgah sebentar di ujung jalan desa. Persis di seberang jalan, di bawah pohon trembesi, tiga perempuan tua sedang menganyam sokal (wadah berupa anyaman untuk mengisi garam dapur, Red).
Daun-daun lontar setengah kering berserakan di tanah beralaskan terpal yang sudah sobek. Suara anyaman daun lontar timbul tenggelam oleh teriakan beberapa balita yang sedang bermain di bawah pohon trembesi. Lengkingan suara mereka seakan menyembunyikan sebuah kisah paling sedih.
Ya, kisah tentang kehidupan para wanita desa yang miskin. Yang hidupnya bergantung dari kemurahan alam dan kelincahan jari menganyam daun lontar. Hanya untuk menjaga agar asap dapurnya tetap mengepul.
“Kami menganyam daun lontar sudah sejak tahun 2005. Kami buatkan sokal untuk dijual ke pedagang atau penjual garam di pinggir Jalan Timor Raya. Sudah hampir 12 tahun kami begini,” jelas Ny. Julia da Costa, janda beranak dua, saat diajak bincang-bincang di siang yang terik, di bawah pohon trembesi.
Da Costa mengisahkan, sebelumnya ia hidup bahagia dan berkecukupan. Suaminya selalu memenuhi kebutuhan hidupnya bersama dua anaknya.
Prahara datang ketika suaminya berkenalan dengan seorang gadis
Timor Leste. Suaminya mulai jarang pulang rumah.
“Kemudian ia hilang terus. Tidak pernah pulang ke rumah lagi, sampai hari ini. Itu terjadi tahun 2005 lalu. Kerabat di Timor Leste mengabarkan dia sudah menikah dengan perempuan lain,” jelasnya dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis.

Baca Juga: Merajut Harmoni dari Kampung Seberang Jalan

Advertisements

“Kemudian ia hilang terus. Tidak pernah pulang ke rumah lagi, sampai hari ini. Itu terjadi tahun 2005 lalu. Kerabat di Timor Leste mengabarkan dia sudah menikah dengan perempuan lain,” jelasnya dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis.
Sebagai pelarian, ia sibuk menganyam sokal. Kadang ke hutan, memanjat pohon lontar untuk mengambil daunnya. Dijemur setengah kering, lalu dijadikan bahan menganyam sokal.
“Lumayan. Dalam satu hari saya bisa dapat 50 sokal. Artinya bisa dapat uang Rp 50 ribu. Cukup untuk beli beras sekilo, minyak tanah dan sabun,” ceritanya.
Saat ditanya, kenapa tidak mau menikah lagi, Ny. Da Costa mengatakan cukup sekali ia ditipu oleh laki-laki.
“Toh saya bisa beli beras untuk kasih makan dua anak saya. Meski tidak punya uang, asal anak-anak sehat. Itu sudah cukup,” katanya seraya mengelus kepala anak bungsunya yang bersandar di bahu kirinya.
Lain lagi kisah Ny. Odilia Gomez, wanita tua beranak 8 ini. Enam anaknya yang sedang bersekolah, memaksanya harus banting tulang menganyam sokal. Dua yang lainnya masih balita.
“Kemarin, saat daftar masuk SMA harus bayar Rp 800 ribu. Satu lagi, mau ujian akhir tahun ini, pasti akan minta uang. Tadi yang SMP bilang ke saya, kalau ambil rapor harus bawa uang. Saya heran saja. Bilang sekolah gratis, tapi masih pungut uang dari orang tua,” keluhnya.
Ditanya apakah dapat Kartu Indonesia Pintar (KIP), Ny. Da Gomez cuma menggelengkan kepalanya. Ia mengatakan justru yang dapat anak orang kaya.
“Suami saya protes. Tapi percuma saja. Kami orang kecil, mau mengadu ke siapa?” tukasnya.
Ia terpaksa menganyam sokal. Kadang dua anaknya membantu menganyam saat pulang sekolah di sore hari. Lumayan, bisa dapat hampir 100 sokal per hari.
“Tapi pedagang garam tidak beli sokal tiap hari. Kadang menunggu sampai seminggu baru laku terjual,” katanya.
Ny. Florentina da Silva, tetangga sebelah rumah Ny. Gomez juga mengeluh hal yang sama. Ia mengaku suaminya cuma petani, sama dengan temannya, Ny. Gomez.
“Anak-anak sudah mulai sekolah. Mereka butuh uang beli buku, seragam, sepatu, uang ojek dan sebagainya. Kami tidak punya ketrampilan lain, selain menganyam sokal,” jelasnya.
Ditanya kenapa tidak jual garam saja di tepi Jalan Timor Raya, Ny. Da Silva mengaku tidak punya modal untuk berjualan.
“Lebih baik anyam sokal saja. Tidak perlu keluar uang, cuma keluar keringat. Ditambah berani panjat pohon lontar untuk ambil daunnya,” katanya.
Kenapa bukan suami yang panjat pohon lontar, dia beralasan pagi-pagi subuh suami sudah berangkat ke kota untuk bekerja sebagai buruh. Dan baru pulang ke rumah saat malam tiba. “Jadi terpaksa panjat sendiri. Tentu pohon lontar yang pendek-pendek sekitar 3 meter sampai 5 meter,” tukasnya seraya tersenyum.
Ia menyarankan, kalau bisa pemerintah memberi kursus menjahit atau membuat kue. Habis kursus, harus dibekali modal usaha.
“Biar hidup kami sedikit lebih cerah. Kami juga berhak hidup lebih layak. Khan tidak mungkin kami sampai mati cuma duduk di bawah pohon trembesi, untuk anyam sokal. Pemerintah tidak kasihan kami rakyatnya yang miskin ini kah?” imbuhnya.
Kades Oebelo, Paulus Aleksander Daud, yang dihubungi terpisah, mengatakan Desa Oebelo didominasi warga eks Timtim. Umumnya tidak punya akses kepada sumber-sumber ekonomi, cuma petani penggarap atau buruh di kota.
“Jumlah penduduk Desa Oebelo 1.308 KK atau 4.113 jiwa. Hampir semuanya masuk kategori miskin,” katanya.
Namun, Pemkab Kupang dan pemerintah pusat, lanjut Daud, cuma memberi bantuan raskin dan BLT bagi 288 KK.
“Sisanya terpaksa cari jalan sendiri. Jadi penjual garam, nelayan, penjual gula dan tuak, buruh, sopir dan sebagainya. Mau bagaimana lagi,” tukasnya pasrah. (*)
Laporan & Editor: Julianus Akoit
Advertisements

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here