ASTAGA – Diduga Korupsi Dana Desa, Kades Subun Bestobe Diadukan Ketua dan Anggota BPD ke Jaksa

Advertisements

“Pada saat rapat Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Desa bulan Januari 2021 lalu, semua anggota BPD menolak keras dan tidak menerima LKPJ tersebut. Sebab tidak didukung bukti-bukti pertanggungjawaban keuangan yang memadai dan tidak sesuai dengan realitas di lapangan,” jelas Ketua BPD Subun Bestobe, Kanisius Metboki per telepon, Senin (7/6/2021).

Ketua dan anggota BPD Desa Subun Bestobe saat melaporkan Kepala Desa Subun Bestobe, Hilarius Tahoni ke Kejaksaan Negeri TTU, 24 Mei 2021 lalu

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Kanisius Metboki, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Subun Bestobe, bersama anggota BPD lainnya melaporkan dan mengadukan Kades Subun Bestobe, Hilarius Tahoni ke aparat Kejaksaan Negeri Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sejak 24 Mei 2021 lalu.

Hilarius Tahoni, diduga keras menyelewengkan keuangan desa yang bersumber dari alokasi dana desa (ADD) maupun anggaran dana desa (DD) lainnya.

Penyelewengan keuangan desa itu berlangsung sejak tahun 2015 hingga 2021.

“Pada saat rapat Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Desa bulan Januari 2021 lalu, semua anggota BPD menolak keras dan tidak menerima LKPJ tersebut. Sebab tidak didukung bukti-bukti pertanggungjawaban keuangan yang memadai dan tidak sesuai dengan realitas di lapangan,” jelas Ketua BPD Subun Bestobe, Kanisius Metboki per telepon, Senin (7/6/2021).

Pembangunan 9 unit rumah layak huni dari dana desa sebesar Rp 418 juta lebih terbengkalai dan sampai sekarang belum rampung

Terkait penolakan LKPJ tersebut, seluruh anggota BPD Subun Bestobe sepakat untuk melaporkan dan mengadukan Kades Hilarius Tahoni ke aparat penyidik Kejaksaan Negeri TTU.

Laporan pengaduan itu setebal 81 halaman disertai lampiran LKPJ, bukti foto dan sebagainya. Penyelewengan keuangan desa itu dilaporkan BPD Subun Bestobe, terjadi sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2021.

Berikut beberapa contoh penyelewengan keuangan desa. Pertama, pembangunan gedung Polindes senilai Rp 258.343.253,00, dikerjakan tidak sesuai RAB dan asal jadi. Upah hari orang kerja (HOK) justru lebih banyak dinikmati oleh orang luar desa Subun Bestobe.

Pendapatan dan Penggunaan Anggaran baik Dana Desa (DD ) maupun Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2015 tidak dilaporkan di aplikasi online sid.kemendes.go.id

Kedua, pembangunan 8 unit sumur gali senilai Rp 244.368.000,00 tidak rampung dikerjakan dan tidak sesuai RAB. Bahkan ada sumur yang tidak ada airnya. Ada juga sumur yang dibangun di luar wilayah Desa Subun Bestobe, yaitu tepatnya di RT 001 Desa Bannae, tepat di depan rumah Sekdes Subun Bestobe.

Pembangunan lapangan volley ball sederhana ini menelan dana desa Rp 113 juta lebih

Ketiga, pembangunan 20 unit WC/jamban sehat, tidak rampung. Sebab banyak bahan bangunan yang tidak lengkap diberikan kepada penerima manfaat. Closet pun tidak sesuai kategori Standar Nasional Indonesia (SNI).

Keempat, pembangunan satu unit lapangan volley menggunakan dana desa sebesar Rp 113.975.750,00. Menurut para anggota BPD, sangat tidak masuk akal sebuah lapangan volley menelan dana ratusan juta. Diduga terjadi mark-up (penggelembungan harga).

Kelima, pembangunan 9 unit rumah layak huni dengan menggunakan dana desa sebesar Rp 418.491.500,00. Ternyata belum rampung sampai hari ini. Penerima manfaat juga cuma menerima bahan bangunan yang tidak lengkap seperti batako, semen, besi dan lain sebagainya.

Dan masih banyak kegiatan lainnya yang menggunakan dana desa (DD) maupun anggaran dana desa (ADD), namun tidak bisa dipertanggungjawabkan keuangannya.

“Ada juga item kegiatan fiktif seperti pengadaan kacang hijau dan beberapa kegiatan lainnya. Semua itu sudah dilaporkan BPD secara lengkap dan terperinci ke jaksa,” beber Kanisius Metboki.

Kades Subun Bestobe, Hilarius Tahoni, belum berhasil dikonfirmasi. Ketika wartawan menghubungi ponselnya 081338642*** tidak tersambung. Cuma terdengar perintah dari operator untuk meninggalkan pesan di mailbox. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements