Anton Amaunut Bilang Ray Fernandes Kacaukan Batas Swapraja Insana

Advertisements

“Penetapan batas Desa Oenbit di Kecamatan Insana dengan Desa T’eba di Kecamatan Biboki Tanpah menurut versi Bupati Raymundus Sau Fernandes melalui Perbub Nomor 5 Tahun 2018 tanggal 9 Januari 2018, telah mengacaukan tatanan sosial dan budaya yang sudah puluhan tahun lestari dihormati masyarakat adat setempat. Dan bisa memicu pertumpahan darah,” demikian kritik Anton Amunut.

Mantan Bupati TTU, Anton Amaunut

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Mantan Bupati TTU, Drs. Anton Amaunut menegaskan Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt, telah membuat kesalahan fatal tentang penetapan batas tanah swapraja Insana.

“Penetapan batas Desa Oenbit di Kecamatan Insana dengan Desa T’eba di Kecamatan Biboki Tanpah menurut versi Bupati Raymundus Sau Fernandes melalui Perbub Nomor 5 Tahun 2018 tanggal 9 Januari 2018, telah mengacaukan tatanan sosial dan budaya yang sudah puluhan tahun lestari dihormati masyarakat adat setempat. Dan bisa memicu pertumpahan darah,” demikian kritik Anton Amunut.

Ia mengungkapkan sudah 8 bupati yang memerintah di TTU, tidak ada yang berani mengutak-atik batas tanah swapraja Insana dan Swapraja Biboki. Karena memang batas tanah dua swapraja itu tidak ada persoalan dan sudah dikuatkan oleh aturan adat dan sangat dihormati dua komunitas masyarakat Insana dan Biboki.

Amaunut menyampaikan, sebenarnya tidak ada sengketa perbatasan antara desa Oenbit kecamatan Insana dan desa Teba kecamatan Biboki Tanpah. Itu hanya terjadi karena setelah pemukiman desa – desa di Biboki Selatan termasuk desa T’eba pada tahun 1971 saat ada kelompok keluarga/orang yang datang belakangan, penetapan pemukiman sekitar perbatasan Swapraja sudah penuh. Mereka langsung masuk ketika itu pilar masih ada, mereka membangun rumah dan tinggal di sana sampai sekarang.

“Jadi masalahnya adalah pertama, penyerobotan tanah oleh orang Teba ke wilayah desa Oenbit dengan melewati pilar-pilar itu,” tukasnya.

BACA JUGA:  SIAP-SIAP! Awal Bulan Januari Polisi Bakal Periksa Bupati TTU

Kedua, pilar – pilar batas Swapraja Insana dan Biboki yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun telah dihancurkan, dibuat batas baru.

Ketiga, pembentukan pemekaran Kecamatan Biboki Selatan dengan Desa T’eba menghasilkan Kecamatan Biboki Tanpah.

Berdasarkan Perda kabupaten TTU Nomor 8 Tahun 2007, tanggal 15 Maret 2007 tentang pembentukan 15 Kecamatan dalam wilayah kabupaten TTU pada pasal 15 ayat (1) telah ditetapkan Kecamatan Biboki Tanpah meliputi 4 (empat)desa yakni desa Teba Induk, Oerinbesi, Oekopa, desa persiapan T’eba Timur dengan luas wilayah 99,15km2 dan langsung ke batas TTU – Belu yang masih kosong”, kata mantan Bupati TTU dua periode itu.

Yang menjadi persoalan, meskipun wilayah itu sudah jelas tapi di dalam peta dan Perbup dimasukkan wilayah desa Oenbit termasuk wilayah tanah persawahan, tanah ladang tetap, sumber-sumber kekayaan alam, hutan tanah dan air sudah masuk ratusan hektar ke wilayah Biboki Tanpah yang baru terbentuk tahun 2007.

Amaunut mengaku kesal karena Perbup yang sudah dikeluarkan tahun 2018 tidak pernah dilakukan sosialisasi secara terbuka kepada masyarakat sekaligus peninjauan lapangan di lokasi, yang dihadiri tokoh adat dan tokoh masyarakat Desa Oenbit dan diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan tentang penetapan batas wilayah Desa Oenbit.

“Saya sarankan, Perbup ditinjau kembali. Tidak pernah ada sosialisasi. Yang ada itu sosialisasi sepihak, harus tinjau lapangan kembali bersama-sama melihat pilar-pilar batas yang sudah dihancurkan oknum tertentu”, pinta Amaunut yang pernah menjabat sebagai Camat Biboki.

“Alasannya Perbup Nomor 5 Tahun 2018 tanggal 9 Januari 2018 bisa menimbulkan sengketa perbatasan wilayah yang tidak diinginkan bersama. Lantaran batas baru yang dibuat tidak mempertimbangkan rasa keadilan, bukti-bukti dan kebenaran sejarah, adat istiadat, hak ulayat dan batas tanah suku, hak-hak atas tanah berdasarkan peraturan perundang-undangan agraria yang berlaku,” jelas Amaunut. (jude)

BACA JUGA:  Diancam Warganet, Jokowi Putuskan Tidak Pulangkan 689 Combatan ISIS

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements