CERPEN: Aku Yang Terbuang

Advertisements

Cerpen Karya: Sonny Kelen

Tapi aku bahkan tak yakin kau mengerti. Tapi tak apa. Aku sudah cukup bahagia karena pernah mencintaimu dan memperjuangkanmu. Sebelum maaf tercoret pada tubuhmu yang pernah membuatku jatuh cinta, aku hanya menyampaikan terimaksih telah mengajarkan banyak hal dalam mencintai. Bahkan sampai meninggalkanmu saat ini. Tapi yang pasti dikepalaku hanya ada satu wajah lelah, wajahmu.

Sambil diam-diam mengendus aroma pagi yang menjelang dari tubuhmu, tapi aku pernah bisa. Entah kenapa, aku juga tidak tahu. Aku akan terdiam panjang dan sesekali melirik wajahmu yang menuju renta. Hanya menatap saja, lafalanku seperti terkunci.

Di kedua bola matamu itu, aku menyaksikan luka yang dalam tertanam. Sesekali aku ingin menguaknya, tapi kupikir tak patut. Maka aku kembali diam. Itu satu-satunya dari sekian banyak cara agar aku tidak melupakanmu. Hanya diam. Tak ada yang patut kuberikan padamu, tak pernah cukup waktu untukku berbakti padamu. Bahkan sepuluh juta huruf atau berlaksa-laksa yang kutuliskan takkan pernah bisa mengungkapkan betapa aku sebenarnya bertujuan satu hal, menjunjungmu.

Tapi aku bahkan tak yakin kau mengerti. Tapi tak apa. Aku sudah cukup bahagia karena pernah mencintaimu dan memperjuangkanmu. Sebelum maaf tercoret pada tubuhmu yang pernah membuatku jatuh cinta, aku hanya menyampaikan terimaksih telah mengajarkan banyak hal dalam mencintai. Bahkan sampai meninggalkanmu saat ini. Tapi yang pasti dikepalaku hanya ada satu wajah lelah, wajahmu.

                                 ***

Acara pernikahan baru saja selesai. Di ruang tamu para tamu dengan kesibukannya mengambil minuman sebagaimana lazimnya pada acara pesta. Aku begitu terharu karena acara pernikahanku dengan Dea, perayaan ekaristinya dipimpin oleh Pater Gio teman Seminariku dulu.

“Selamat, Romi. Selamat menjadi nahkoda rumah tanggamu yang baru.” Ucap Gio setelah selesai perayaan ekaristi. Aku hanya tersenyum.

“Terimakasih Pater,” balasku.

Suasana makan malam terasa menyenangkan. Suasana pesta begitu meriah. Aku sesekali memperhatikan Dea yang sedari tadi begitu sibuk melayani tamu, mulai dari bapak suku sampai dengan teman-teman SMP-ku dulu.

Aku sedikit bingung dengan Dea karena dia begitu sibuk seolah-olah dia seperti pelayan dalam acara pesta ini. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Ah! Biarkan saja yang terpenting para tamu dilayani dan mereka sangat menikmati acara ini.

Keadaan seperti itu mengingtkan aku kembali dengan suasana waktu Novisiat dulu. Entah mengapa aku sanagt sulit untuk menyimpulkan dan membedakan acara pernikahanku saat ini dan acara yang terjadi di Novisiat waktu itu, ketika penerimaan jubah dan waktu menerima kaul. Aku akui bahwa aku bingung membedakan keadaan saat ini dan di Novisiat kalah itu.

Bingung semacam sebuah rutinitas yang tak bisa dihapus dari agenda hidupku. Serta merta kebingungan akan berubah aneh; seperti miskin untuk sebuah kehidupan. Namun aku berpikir jauh, apakah perjalanan kehidupan keluargaku nanti baik-baik saja?
Sebaliknya pada mata Dea aku seperti membaca sesuatu. Tepatnya sebuah ketakutan yang sedang disembunyikan Dea dariku. Namun Dea selalu memberikan senyuman. Dan senyuman itu sampai sekarang ini sulit untuk kudefinisikan maknanya. Pernah suatu kali, aku sengaja berbicara dengannya menggunakan bahasa yang agak puitis. Ya, maksudku supaya bisa merangsang minatnya terhadap sastra. Tapi jawaban yang dia berikan selalu menyakinkan bahwa dia baik-baik saja.

“Dea, apakah kau sembunyikan sesuatu dariku?” dengan demikian kataku di suatu malam ketika kami hendak tidur.

“Aku tidak sembunyikan sesuatu darimu. Untuk apa, aku sembunyikan sesuatu darimu yang adalah suamiku sendiri,” jawabnya sedikit bingung.

Bagaimana tidak, Dea selalu memberikan jawaban yang sangat menyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Namun aku berusaha menerima keadaan itu dengan berusaha berpikir semuanya akan baik-baik saja ke depan.

Tapi sama saja. Ketakutanku menjadi-jadi. Entah mengapa? Aku seperti kehilangan kata-kata untuk berbicara. Yang ada hanya sebuah ketakutan dan kebingungan. Tiba-tiba muncul dibenakku tentang seseorang yang aku tinggalkan enam tahun yang lalu di Biara.

                                  ***

Aku sudah tinggal beberapa meter lagi tiba di depan rumah. Bahkan sudah sedekat itu, belum ada sedikit pun suara dari dalam rumah yang bisa kudengar. Kesepian dan ketakutan menambah kengerian yang mulai menjalar di benakku. Apa yang terjadi dengan Dea? Pikirku. Tetapi rasa penasaran mendorong kakiku untuk terus melangkah. Akhirnya aku tiba di depan pintu rumah.

Kala itu, langit mendung benar-benar gelap sehingga untuk memandang ke arah rumahku sendiri, aku hanya dapat melihat lampu kamarku yang masih menyala dari pagi. Dengan keberanian yang menipis dan rasa ingin tahu yang kini tidak ada bedanya lagi dengan kegelisahan yang menebal, aku mengetuk pintu rumah. Kesunyian merambat cepat. Angin bertiup lagi. Suasana menjadi seram. Aku gugup. Dan kali ini aku benar-benar ingin lari. Tapi tiba-tiba pintu itu berayun membuka dan sepasang mata hitam melototiku dari celah pintu.

“Masuklah!” katanya dengan suara parau mengerikan, sembari membuka pintu lebih lebar lagi dan memberiku jalan untuk masuk. Tubuhku seketika kaku tanpa gestulasi yang teratur.

“Dea? Kaukah itu?” aku bertanya sebab tak ada cahaya sedikit pun di rumah itu yang membantu mataku untuk melihat. Lalu tiba-tiba ada sunyi gemericik singkat dan terlihat olehku seorang perempuan payu bayah yang berjalan ke arahku. Baru setelah itu lilin dinyalakan, wajah perempuan itu pucat sekali. Itu Dea. Ya. Itu benar-benar Dea. Wajahnya amat pucat. Tubuhnya kurus. Tatapan matanya lesu tanpa harapan.

“Apa yang terjadi padamu?” aku memulai pembicaraan. Tapi dia tidak bicara. Matanya menatapku tanpa kedip. Sesungguhnya tatapan itu membuatku takut, tapi aku berusaha menguatkan diri. Seakan tidak menyadari keberadaanku, Dea berjalan tertatih menuju pintu dan menguncinya.

Entah kenapa, jantungku berdebar-debar saat itu sehingga deru napasku tak teratur. Sementara itu Dea kembali ke posisi sebelumnya, meletakkan lilin bernyala itu dihadapanku, lalu dia menatapku dengan saksama. Lebih tepatnya dia menatapku dalam-dalam. Kali ini matanya lebih menyeramkan lagi sebab cahaya lilin yang berpendar-pendar tidak sepenuhnya menerangi wajahnya.

“Kau sakit?” tanyaku gugup. Aku sebenarnya sudah berusaha menyembunyikan ketakutanku tetapi suaraku yang bergetar telah menjelaskan bahwa aku sedang takut.

“Anak kita. Anak kita.” Hanya itu yang bisa dia ucapakan setelah sekian lama aku menunggu jawaban darinya.

“Apa yang terjadi dengan anak kita?” aku bertanya lagi. Dia tidak menjawab. Hanya ada sepi yang tersisa.

Kemudian disudut matanya aku melihat kristal-kristal putih berjatuhan . Dea menangis. Aku lalu mengontrol napasku yang berderu dan berusaha mengusir ketegangan dalam diriku. Aku sengaja banyak bertanya. Entah mengapa aku merasa yang lain dengan Dea saat ini.

“Kalau seandainya dulu, kau tidak meninggalkan Dia mungkin hidupku tidak seburuk ini Vino.”

“Apa maksudmu Dea.” Ia tak menjawab. Hanya terdengar olehku isak tangisnya yang menjadi-jadi. Tatapan Dea kembali menajam.

“Kau tahu, setelah aku hidup bersama denganmu, aku semakin tersiksa. Tidak ada kebahagiaan yang aku dapat.”

“Jangan buat aku tambah bingung Dea. Apa yang sedang terjadi dengan anak kita.” Dea menghela napas yang panjang. Dari sudut bibirnya aku seperti membacakan sesuatu.

“Anak kita meninggal, Vino.” Jawabnya singkat. Sungguh. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Dea.

“Kau puaskan?” tukasnya dalam nada tanya setengah berteriak.

Tanpa banyak kata aku mendorong tubuh Dea lalu berlari ke dalam kamar. Seperti tidak percaya aku melihat anakku tergeletak tak bernyawa. Pipinya merah dan kedua tangan dan kakinya terlihat kaku. Matanya masih terbuka seperti sedang menatap sesuatu. Aku mendekapnya dan memeluknya. Seketika itu juga suaraku pecah.

                                   ***

Setelah pemakaman selesai aku kembali ke rumah. Suasana seperti lain sekali. Tidak seperti biasanya. Sementara Dea masih mengurungkan dirinya di dalam kamar. Sesekali aku mendengar isak tangisnya yang menjadi-jadi.

“Menangislah kau sepuasnya. Tumpahkan semuanya di sini. Di dadaku ini.” Bujukku yang merasakan betapa dalamnya luka yang dialami oleh Dea sekarang. Aku memperatkan pelukanku.

“Aku di sini. Untukmu. Tuhan yang mempersatukan kita, telah menetapkanku untuk selalu menampung air matamu.” Sambungku sembari mempererat pelukanku.

Dea terus menagis. Baru ketika malam mencair, tangisnya mereda. Lalu Dea menatapku. Tatapan kami beradu. Dalam. Dalam sekali. Dan di dalam sana, di dalam retina matanya Dea yang setiap saat berdiskusi dengan cahaya, dia dapat merasakan gunung batu kegaduhan di hatinya, luruh seperti segenggam pasir di tangan yang lebur ketika angin meniupkannya. Beban yang bersengkelang di dalam otaknya seketika remuk satu persatu seperti perahu kertas yang hanyut di dasar kolam.

“Kau maukan jika kita hidup bahagia.” Tanya Dea. Aku hanya menganguk. Dea kembali menatapku. Kali ini tatapnya tidak seperti yang sudah-sudah. Ada kebahagiaan yang tergambar pada kedua matanya.

“Kau ingat tentang sesuatu yang kau gantung pada lemari kamar kita?” Dea bertanya lagi.

“Ya. Aku ingat.” Hanya itu jawabanku.

“Aku telah membuangnya. Kau seharusnya tidak menyimpan benda itu lagi. Kau telah menjadi seorang suami dan seorang ayah, Vino. Bukan seorang Frater.”

“Mengapa kau lakukan semuanya ini, Dea?” tanyaku dengan nada yang agak tinggi. Aku melepaskan pelukanku lalu berdiri.

“Seharusnya kau sadar Vino, siapa kau sebenarnya sekarang.”

“Aku tahu Dea! Tapi setidaknya kau tidak melakukan hal seperti itu.”
“Tidak! Gara-gara benda itu hidupku hancur. Bahkan sampai kehilangan anakuku.” Suasana begitu panas. Tepatnya sebuah pertengkaran.

“Oh. Jadi itu alasanmu, sehingga kau membuang jubahku.”

“Ia. Itu alasanku sehingga aku membuang jubahmu.” Jawab Dea cepat.

Plaak!!! Tanganku mendarat pada pipi Dea. Baru kali ini aku melakukan hal itu terhadap Dea, sejak pertama kami kenal. Muka Dea merah. Setelah itu Dea berlari keluar dan beberapa detik kemudian Dea masuk dan membawa jubah itu. Aku tidak membayangkan kalau Dea sekejam itu, sehingga kedua lengan jubahku telah dipotong olehnya. Tanpa sadar dan bercampur gemetar yang tiba-tiba air mataku jatuh. Aku merebut jubah itu, memeluknya bahkan menciumnya berkali-kali.

“Kau tega Dea! Kau tega! Sehingga merobek jubah yang aku perjuangkan selama enam tahun di Biara.”

“Seharusnya kau sadar, Vino. Kau bukan seorang frater lagi.”
“Cukup Dea! Cukup! Tida ada basa-basi lagi.” Aku membiarkan air mataku jatuh.

“Sekarang juga kau pergi dari rumah ini. Pergi! Pergi!” teriakku.

“Sesederhana itukah kau mengusirku Vino? Mana janji kesetiaanmu sebagai sumpah yang kau ucapkan dihadapan imam dan para saksi waktu pernikahan itu. Di mana vino? Di mana?.”

Mata Dea selalu melemahkanku sebab bagiku, sejak awal aku benar-benar menemukan cinta di dalam matanya. Tapi tidak untuk saat ini. Cinta itu sudah lenyap. Dan bibirku seakan ditinggalkan kata-kata. Aku membisu. Tidak ada yang bisa aku perjuangkan lagi. Begitu juga memperjuangkan Dea. Sebab memperjuangkannya sama seperti membuang benalu diantara tumbuhan yang lain.

                               ***

Setelah kejadian siang itu, arah hidupku seperti anak-anak terlantar. Aku juga tidak tahu lagi kabar tentang Dea. Tapi yang menarik setelah peristiwa itu adalah peristiwa itu ternyata didengar oleh para pemimpin di Biaraku. Bahkan peristiwa itu sampai terdengar di Vatikan. Bukan hanya itu, banyak media-media lokal dan online juga memberitakannya. Juga pada siaran di TV. Lebih parahnya lagi kejadian itu di pakai sebagai salah satu judul film yang berjudul aku yang terbuang.

Entah kenapa jantungku kembali berdebar-debar dan muncul sebuah ketakutan yang luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan sekarang aku menjadi yang terbuang. Apakah ini adalah balasan dari Tuhan kepadaku karena aku telah menduakan-Nya saat aku tiba-tiba kabur dari Biara enam tahun yang lalu? Batinku.

Tiba-tiba diamku terusik ketika aku tiba di depan pintu Kapela. Aku bahkan tidak berani menatap kedalam. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang mendorongku untuk menatap ke dalam Kapela itu. Air mataku jatuh setelah aku melihat patung Yesus yang tergantung.

Tubuh-Nya yang penuh darah itu membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Saat itu juga bayangan tentang jubah yang robek itu tergambar dikepalaku. Kupeluk erat patung itu dan aku berteriak. Dalam sedihku yang luka itu, ada kerinduanku untuk kembali kebiara. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak murni lagi. Memori tentang masa Novisiat ketika mengikrarkan kaul kembali menjelma. Isak tangisku menjadi-jadi. Tanpa sadar dalam sedih yang luka itu aku kembali mengucapkan kalimat yang pernah aku ucap saat penerimaan kaul

“Dengan kaul kemurnian aku telah berjanji hidup murni, tidak menikah demi kerajaan Allah. Aku telah dibebaskan dari kerendahan hati, dari keinginan tak teratur untuk memiliki orang lain, dari ketakutan, menderita, dari iri hati dan dengki, dari ketakutan dan sepi, agar aku bisa mengabdi total dan memiliki sikap lepas bebas dan penyangkalan diri. Tuhan maafkan aku yang telah mengkianatimu seperti Yudas.”

Aku kemudian meninggalkan kapela itu. Dalam kerinduan yang tergesa, aku kembali merindukan sebuah rumah tempat segala jenis rindu berlabuh dan tempat aku belajar mencintai Dia dalam diam yang khusuk. Biara.***

Penulis cerpen sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero. Penulis juga aktif dalam Komunitas Sastra Sampul Buku Unit Ledalero

Advertisements

Advertisements

Advertisements