TIMOR: GUNUNG LUMPUR

Advertisements

Pulau Timor boleh disebut pulau yang paling banyak gunung lumpurnya di wilayah Indonesia sampai Timor Leste. Kondisi sedimentasi di pinggir benua Australia pada sekitar 250-70 juta tahun yang lalu banyak terjadi di lingkungan laut dalam yang diendapkan dengan cepat, sehingga ada beberapa lapisan sedimen kaya lempung laut dalam yang kurang terkompaksi kemudian ditutupi lapisan-lapisan sedimen yang lebih berat. Ini sendiri telah membentuk tekanan abnormal pada beberapa lapisan.

Oleh: Awang H. Satyana

Gunung lumpur, mud volcano, adalah titik di muka Bumi tempat lumpur dan batu diletuskan berasal dari bawah permukaan. Bersama lumpur dan batu itu juga bisa dikeluarkan air, minyak, gas, fosil.

Karena ada minyak atau gas dikeluarkan, maka gunung lumpur menarik bagi para geolog eksplorer yang mencari lapangan-lapangan baru migas. Minyak dan gas itu tentu berasal dari kedalaman tertentu di bawah permukaan. Artinya di bawah sana ada minyak atau gas. Dalam hal ini gunung lumpur secara alamiah memberi tahu para geolog.

Bila ada minyak atau gas di bawah sana, mereka bisa naik sendiri ke permukaan bila ada kondisi geologi yang menyebabkannya. Kondisi-kondisi itu misalnya: lapisan batuan pengandung minyak/gas di bawah terpatahkan oleh sesar (patahan batuan yang bergeser) dan sesar itu menembus sampai permukaan. Sesar itu bisa jadi konduit -jalan, untuk minyak/gas naik dan muncul di permukaan. Kondisi lainnya adalah gunung lumpur. Munculnya minyak/gas di permukaan ini disebut rembesan minyak/gas (oil/gas seep). Mereka bisa naik karena perbedaan tekanan, tinggi di bawah rendah di atas. Semua fluida termasuk minyak/gas selalu mengalir dari tekanan tinggi ke rendah (hukum mekanika fluida Bernoulli).

Para geolog eksplorer senang bila mereka menemukan rembesan minyak/gas di lapangan sebab artinya ada akumulasi minyak/gas di bawah sana yang sebagian kecil sekali naik ke permukaan dan menjadi petunjuk. Semua lapangan minyak di dunia pada awalnya ditemukan dengan petunjuk rembesan ini. Para pekerja langsung mengebornya dan menemukan lapangan minyak di bawahnya yang lalu diproduksikan. Begitu pula penemuan lapangan minyak pertama di Indonesia, Maja, oleh rembesan minyak di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat (Reerink, 1871); dan Telaga Said oleh rembesan minyak di kebun tembakau di Deli, Sumatra Utara (Zijlker, 1885). Reerink dan Zijlker kala itu adalah pengusaha-pengusaha perdagangan dan perkebunan di Hindia Belanda.


Bagaimana gunung lumpur terjadi, oleh perbedaan tekanan di bawah permukaan dan permukaan Bumi. Dalam sejarah geologi jutaan tahun yang lalu, saat pengendapan sedimen terjadi, pernah satu lapisan sedimen, katakanlah lapisan X, diendapkan sangat cepat sebab ada kondisi-kondisi yang memungkinkannya terjadi. Lapisan X belum cukup kompak sudah ditutupi lapisan-lapisan lain yang lebih berat. Setelah jutaan tahun, terjadilah tumpukan lapisan batuan setebal beberapa kilometer, yang tekanan setiap lapisannya makin besar ke bawah. Lalu ketika sampai di lapisan X tekanannya abnormal tinggi (overpressure) sebab dari awal pengendapannya juga belum terkompaksi dengan baik sudah ditutupi lapisan-lapisan lain.

Tekanan abnormal ini bila terlepas misal terjadi patahan yang mengenai lapisannya, maka tekanan akan dilepaskan seketika, naik ke atas, dan tekanan ini akan membawa sedimen batuan ke atas sepanjang bidang patahan. Naiknya massa sedimen, batuan akibat pelepasan tekanan abnormal ini disebut DIAPIR. Bila retakan patahan sampai permukaan maka diapir ini akan diletuskan di permukaan sebagai GUNUNG LUMPUR. Letusan kuat sampai lemah akan terjadi terus selama ada perbedaan tekanan antara di bawah dan di atas permukaan. Bila tekanan sudah sama/setimbang, maka letusan pun berakhir.

Dalam proses naiknya diapir ini bila ada lapisan-lapisan batuan mengandung minyak atau gas di jalannya, maka semuanya akan dibawa ke permukaan. Oleh karena proses inilah maka gununglumpur bisa membawa minyak atau gas ke permukaan.

Seperti gunung, morfologi gunung lumpur bisa berbentuk kerucut seperti umumnya gunung. Kawahnya pun ada, yaitu lubang tempat letusan. Lalu lumpur dan batuan yang diletuskannya diendapkan di sekelilingnya sambil membangun morfologi gunung. Air yang diletuskannya umumnya asin sebab berasal dari air laut purba saat lapisan-lapisan sedimen dibentuk jutaan tahun yang lalu. Ada fosil-fosil diletuskan karena mereka berasal dari lapisan-lapisan yang dibawa oleh diapir.


Pulau Timor boleh disebut pulau yang paling banyak gunung lumpurnya di wilayah Indonesia sampai Timor Leste. Kondisi sedimentasi di pinggir benua Australia pada sekitar 250-70 juta tahun yang lalu banyak terjadi di lingkungan laut dalam yang diendapkan dengan cepat, sehingga ada beberapa lapisan sedimen kaya lempung laut dalam yang kurang terkompaksi kemudian ditutupi lapisan-lapisan sedimen yang lebih berat. Ini sendiri telah membentuk tekanan abnormal pada beberapa lapisan.

Lalu sejak 15-10 juta tahun yang lalu benturan terjadi antara teran (blok kerak Bumi) Australia versus Banda yang lalu membentuk dan memunculkan Pulau Timor ke permukaan. Benturan ini telah mendeformasi, melipat dan mematahkan lapisan-lapisan batuan berkali-kali. Akibatnya terjadi penebalan lapisan batuan karena terlipat-lipat. Ini menjadi beban tersendiri yang menekan lapisan-lapisan bertekanan abnormal di bawahnya. Maka overpressure di lapisan-lapisan batuan itu pun makin menjadi-jadi.

Sambil benturan terjadi (aksi, yang bersifat menekan, kompresif) ada reaksinya, yaitu terbentuk patahan-patahan yang umumnya sesar mendatar yang bersifat melepas, release. Karena sesar mendatar itu bidang patahannya dalam bisa sampai 10 km atau lebih maka patahan-patahan ini mengenai lapisan bertekanan abnormal. Akibatnya adalah tekanan tadi terlepas melalui bidang patahan, membawa massa materi lapisan batuan yang dilalui patahan sebagai massa diapir, naik terus ke permukaan, lalu diletuskan di permukaan sebagai gunung lumpur yang meletuskan lumpur, air, batuan, fosil, juga minyak dan gas bila ada di bawah permukaan.


Saya dan kawan-kawan geolog dari Lemigas, Petronas, dan Pertamina ketika pergi ke Timor tiga minggu yang lalu mengunjungi satu gunung lumpur aktif di dekat pantai Kabupaten Malaka. Gunung lumpur ini bernama Masin Lulik, yang berarti lumpur asin yang ditabukan (dikeramatkan).

Gunung lumpur ini nampak punya dua puncak/ kawah. Satu kawah aktif yang masih menggelegak oleh tekanan yang sedang dilepaskan, dan meletuskan lumpur, air asin, yang mengandung minyak membentuk gelombang lingkaran hitam di lubang kawahnya.

Minyaknya pernah dianalisis Lemigas pada tahun 2015, menunjukkan biomarker asal alga marin dari batuan induk batulempung marin yang gampingan berumur Mesozoikum.

Gunung lumpur yang menaikkan minyak/gas dari bawah adalah data penting bagi perburuan lapangan minyak/ gas di Pulau Timor.

Lalu kami juga melihat gunung-gunung lumpur yang sudah mati yang tersebar di banyak tempat di Timor yang membawa aneka batuan dalam kondisi bancuh -chaotic.


Eksplorasi, perburuan, minyak/gas adalah percampuran antara sains, seni, petualangan, ketahanan fisik dan mental. Tidak mudah, tidak murah, tetapi tidak mustahil sebab alam suka memberikan petunjuk.***

Tentang Penulis:

Awang adalah Kepala Spesialis SKK Migas (Satuan Tugas Khusus Pemerintah Indonesia untuk Bisnis Hulu Minyak dan Gas Bumi). Setelah lulus dari Departemen Geologi Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1989, ia bekerja untuk PERTAMINA dari tahun 1990-2002 dengan berbagai posisi sebagai Geologi Eksplorasi dan Geologi Regional. Pada tahun 2002, Awang bergabung dengan BPMIGAS dan sejak itu telah menugaskan berbagai posisi teknis dan manajerial, sejak November 2012 BPMIGAS dilanjutkan oleh SKK Migas.

Awang telah aktif melayani masyarakat geologi internasional dan nasional dengan menyumbang makalah, artikel, ceramah utama, kuliah tamu dan kursus. Total ada 330 publikasi yang dibuatnya (90 makalah lengkap untuk konferensi, 55 artikel untuk jurnal, 139 undangan presentasi, ceramah utama dan kuliah tamu, 40 manual kursus, 6 bab dalam enam buku). Beberapa makalahnya mendapat penghargaan sebagai makalah dan presentasi terbaik. Sebagai penghargaan atas kontribusi dan dedikasinya yang luar biasa terhadap geosains, “Penghargaan Lasut” dari IAGI dan “Penghargaan HAGI” dari HAGI diberikan kepada Awang masing-masing pada tahun 2002 dan 2008.

Sejauh ini Awang adalah satu-satunya ahli geologi Indonesia yang ditugaskan oleh AAPG (American Association of Petroleum Geologists) untuk menjadi Associate Editor untuk Buletin AAPG (selama 2006-2007). Awang adalah anggota IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), IPA (Ikatan Perminyakan Indonesia), AAPG (Ikatan Ahli Geologi Perminyakan Amerika), HAGI (Ikatan Ahli Geofisika Indonesia), dan IATMI (Masyarakat Insinyur Perminyakan Indonesia).

Advertisements

Advertisements