Sutradara Adi Pranajaya Garap Film Pendek Bertemakan Human Trafficking

“Sebagai warga negara Indonesia, saya ingin ikut mengambil peran dalam memperjelas duduk perkara tentang human trafficking sesuai bidang yang saya geluti yaitu film,” kata Adi Pranajaya di Cibubur, Jawa Barat, baru-baru ini.

Proses pengambilan gambar dalam film yang digarap  Sutradara Adi Pranajaya, di Cibubur, Jawa Barat. Foto Dok KOMYT Jakarta

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Sutradara senior asal NTB, Adi Pranajaya, kini sedang membuat proyek film pendek bertemakan human trafficking. Film pendek ini dibuat dengan setting dan pelaku orang NTT sendiri.

Nantinya film pendek yang diperkirakan berdurasi 2 menit ini akan menjadi bahan sosialisasi dan penyuluhan di medsos maupun media digital lainnya seperti WAG, tentang bahaya praktik mafia human trafficking bagi kehidupan.

Warga diaspora NTT di Jakarta yang terlibat dalam proyek film garapan Adi Pranajaya.

“Sebagai warga negara Indonesia, saya ingin ikut mengambil peran dalam memperjelas duduk perkara tentang human trafficking sesuai bidang yang saya geluti yaitu film,” kata Adi Pranajaya di Cibubur, Jawa Barat, baru-baru ini.

Ia mengaku sangat prihatin terhadap kasus kematian sia-sia yang menimpa para buruh migran asal NTT yang pergi mencari nafkah ke luar negeri tanpa melalui jalur resmi. Dan jumlah kematian itu semakin meningkat setiap tahunnya, sementara pemerintah masih bersikap ambigu dan belum mengambil tindakan konkrit dan nyata untuk mengatasi mafia human rafficking.

Data yang dihimpun wartawan dari BP3TKI Kupang, sejak 2013 sampai Juli 2018 terhitung sudah 262 orang NTT yang mati sia-sia di luar negeri karena menjadi korban mafia human trafficking. Data-data ini belum termasuk bulan Agustus sampai awal November 2018.

“Dan saya sangat bersyukur, karena proyek kemanusiaan ini didukung oleh teman-teman Komunitas Masyarakat Timor (KOMYT) di Jakarta, kata pria kelahiran Sumbawa, 26 September 1962.

Adi Pranajaya sudah berkarya memajukan industri perfilman Indonesia sejak tahun 1987 di Jakarta. Dan kini sangat tertarik terhadap isu-isu kemanusiaan telebih masalah human trafficking.

“Naskah filmnya saya yang buat. Dan saya memakai teman-teman dari Timor sebagai pemeran atau aktor dan artisnya. Biar terlihat natural, baik bahasa maupun cara pandangnya ketika berhadapan dengan masalah. Meski saya banyak mengenal artis-artis di Jakarta, saya lebih suka menggunakan pemain asli,” katanya.

Ketua KOMYT-Jakarta, Isak Teuf dan Sutradara Adi Pranajaya 

Ketua KOMYT Jakarta, Isak Teuf, yang juga terlibat dalam pembuatan film ini, mengatakan proyek ini merupakan salah satu bukti sumbangsih masyarakat diaspora NTT di Jakarta bagi pencegahan meningkatnya kasus human trafficking di NTT.

“Kami berharap Pemprov NTT dibawa kepemimpinan Gubernur Vicktor Laiskodat, bisa mengambil langkah-langkah strategis dan konkrit menyusul pernyataan moratorium TKI/TKW dua bulan lalu. Dengan begitu angka kematian buruh migran asal NTT semakin berkurang,” pinta Isak Teuf.

Ia juga mengatakan sangat berterima kasih kepada sutradara senior Adi Pranajaya yang sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk membuat proyek film pendek tersebut.

“Luar biasa kepada Pak Adi yang mau terlibat dalam proyek kemanusiaan tentang pencegahan human trafficking melalui media seni film. Luar biasa kontribusi beliau kepda orang NTT,” katanya penuh rasa haru. (*)

Laporan Kontributor: Anner Abraham Runesi
Editor: Julianus Akoit