Resonansi Diktum Hippocrates dan Peran Seorang Perawat Katolik Dalam Penyembuhan Yang Menyelamatkan

Oleh: Maria Yasinta Seran; Mahasiswa Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga, Surabaya

HIPPOCRATES, hidup kira-kira Tahun 460 SM – 377 SM. Ia Dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern. Hippocrates adalah orang pertama yang memisahkan kedokteran dari tahyul. Dilahirkan di Pulau Cos di Yunani dan putera seorang dokter. Ia menepis kepercayaan yang dipegang oleh orang-orang sebayanya bahwa penyakit itu disebabkan oleh ilah-ilah (setan-setan) yang membalas dendam. Sebagai gantinya, ia usulkan bahwa setiap penyakit itu mempunyai penyebab alami.

“Temukanlah penyebabnya, maka engkau bisa mengobati penyakitnya”. Dengan mengamati gejala-gejala suatu penyakit dan memperhatikan tingkat keparahannya, kata Hippocrates seorang dokter bisa menyatakan suatu prognosis bagi seorang pasien dengan membandingkan kemajuannya dengan penderita penyakit yang sama pada umumnya. Hippocrates memulai sekolah kedokteran berdasarkan ide-ide rasional seperti itu.

Ide medis lainnya yang disadari adalah bahwa pengobatan bagi pasien yang satu belum tentu menolong pasien yang lain. Katanya, “Yang cocok bagi yang satu belum tentu cocok bagi yang lain”. Hippocrates juga mendesak para dokter untuk menggunakan pengobatan-pengobatan yang sederhana, seperti diet yang sehat, banyak istirahat, dan lingkungan yang bersih. Katanya, “ Alam seringkali membawakan pengobatan yang tidak ditemukan para dokter”. Seandainya metode-metode sederhana itu gagal dan seorang pasien sudah sekarat, ia sarankan bahwa penyakit parah menuntut pengobatan khusus.

Hippocrates-lah yang mempromosikan apa yang sekarang ini disebut sikap merawat pasien yang baik, dengan pernyataan-pernyataan yang seperti, “Penyakit itu lebih kuat ketika pikiran terganggu. Dan ada pasien yang pulih kesehatannya hanya karena kepuasannya terhadap kebaikan sang dokter”. Ia mengajarkan bahwa para dokter hendaknya melayani pasien mereka dan mengikuti standar-standar tingkah laku terhormat.

Hippocrates-lah yang mengucapkan sumpah yang masih ditegaskan oleh siswa-siswi kedokteran menjadi dokter. Sumpah Hippocrates memuat panduan untuk tingkah laku terhormat. Sumpah modernnya antara lain menyatakan, “ Dengan ini saya bersumpah untuk menguduskan kehidupan saya demi melayani sesama manusia; saya akan menjalani profesi saya dengan nurani dan martabat dan kesehatan pasien saya akan menjadi pertimbagan utama saya”.

Tulisan ini tidak untuk membahas Sumpah Hippocrates itu. Sebab sudah banyak tulisan soal ini. Tapi saya ingin menyoroti diktum Hippocrates yang berbunyi: “Primun, Non Nocere” (First, Do No Harm). Frase diktum ini termuat dalam buku Hippocrates berjudul Epidemics, Buku 1, Bab XI yang berbunyi: “Declare the past, diagnose the present, foretell the future; practice these acts. As to diseases, make a habit of two things — to help, or at least to do no harm.”

Terjemahan yang lebih kontekstual adalah, jika menemui masalah, mungkin lebih baik tidak berbuat apa-apa dari berbuat sesuatu yang mempunyai resiko yang lebih merugikan dari pada kebaikan. Prinsip ini mengajarkan kepada dokter, perawat atau siapapun pelayan kesehatan bahwa mereka harus memikirkan kemungkinan merugikan dari tindakan yang akan dilakukan. Bahwa kita mungkin harus menghindari tindakan medis yang mempunyai resiko jelas dengan manfaat yang kurang jelas.

Menurut AB Susanto, Diktum Primum Non Nocere mempunyai implikasi sosial maupun ekonomis. Dalam hal ini profesional medis dituntut untuk menempatkan kepentingan pasien di atas kepentingan yang lain-lainnya. Prinsip ini sering disandingkan dengan motto “Aegroti Salus Lex Suprema” yang berarti keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi. Interaksi profesional medis dengan pelanggannya menuntut kepercayaan dan kesetiaan yang tidak dapat ditawar lagi.

Implikasi ekonomis, berarti “cost” harus juga menjadi pertimbangan dalam memberikan pelayanan ke pasien. Pada pasien yang dirawat, kita tambahkan vitamin agar pasien lekas sembuh, padahal kita yakin pasien kita tidak kekurangan vitamin. Pada pasien kita berikan tindakan yang lebih ekstensif, padahal kita tahu tindakan biasa juga sudah cukup. Artinya primum non nocere juga berarti: jangan membebani pasien dengan biaya yang tidak perlu.

Menurut AB Susanto, prinsip (diktum) Primum Non Nocere, mempunyai 3 makna. Pertama, bahwa profesional medis harus menyadari kenyataan bahwa mereka mampu melakukan segala sesuatunya dengan lebih baik. Artinya, secara kontinu selalu ada ruang untuk melakukan perbaikan. Kedua adalah menemukan cara, bagaimana perbaikan dapat dilakukan. Dan yang ketiga, tentu saja menerima tanggung jawab untuk menunaikan tugas.

Lalu bagaimana resonansi diktum Hippocrates ini dalam peran seorang Perawat Katolik?

Dalam sebuah rumah sakit perawat memegang peranan penting dalam kegiatan rumah sakit untuk menolong pasien. Peranannya sering kali menentukan proses penyembuhan pasien, kepribadian perawat sebagai pelanggan internal ( pelaku pelayanan ) pengaruh terhadap pola perilakunya terutama dalam memberikan pelayanan pada pasien agar memuaskan. Karena perawat bekerja dua puluh empat jam dalam merawat pasien maka sikap dan perilaku perawat berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan. Pelayanan diwujudkan melalui upaya penyembuhan pasien ( kuratif ), pemulihan kesehatan pasien (rehabilitatif ), yang ditunjuk dengan upaya peningkatan kesehatan (promotif), dan pencegahan gangguan kesehatan (preventif) secara menyeluruh kepada semua dengan pendekatan biopsikososial spiritual (menurut WHO). Sehingga perawat dalam menjalankan perannya diberbagai situasi dan kondisi yang meliputi tindakan penyelamatan pasien secara profesional.

Dengan kata lain perawat dalam melayani pasien harus memperhatikan sikap care giver kepada semua pasien yang dirawatnya. Sehingga akan menjadi kesenangan tersendiri pada perawat apabila pasien yang dirawat menjadi sembuh dan pasien pun akan menjadi puas apabilah disembuhkan dan diselamatkan.

Sebagai seorang perawat katolik saat merawat pasien, hendaknya ia memperhatikan dan mengejewantahkan nilai-nilai agama atau pesan-pesan kenabian sebagai tugas kerasulan dalam profesinya. Kerja keperawatan mestinya dipahami sebagai panggilan suci dari Allah untuk membawa kabar keselamatan, baik dalam tutur kata maupun dalam perbuatan atau tindakan medis lainnya.

Kepada pasien, seorang perawat Katolik bisa menjadi perantara membangkitkan harapan dan iman akan keselamatan (kesembuhan) dari Allah Jesus Kristus. Itu bisa dilakukan saat memberikan dorongan semangat kepada pasien dalam proses penyembuhan. Tutur kata yang lembut dan membangkitkan semangat dan iman, justru menjadi ‘obat paling mujarab’ dalam menyembuhkan pasien. Sehingga pada akhirnya pasien paham bahwa kesembuhan yang diperolehnya, bukan saja dari usaha keras petugas medis tetapi juga karena iman dan harapannya yang kuat kepada Kasih Karunia Allah Jesus Kristus. Dalam surat St. Yakobus: “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni”. (Yak 5:14-15).

Tetapi kesembuhan yang diperoleh pasien, hendaknya itu dimengerti dan dipahami sebagai kesembuhan yang ‘menyelamatkan’.
Kata kerja ‘menyelamatkan’ mempunyai arti yang jauh lebih luas dari sekedar menyembuhkan. Menyelamatkan mengungkapkan sebuah pembebasan dari kematian bahkan mengungkapkan pencapaian sebuah kepenuhan hidup.

Teologi Liturgi Orang Sakit dihadapkan pada Penghargaan terhadap martabat orang sakit. Orang sakit tidak dianggap sebagai orang yang tidak berguna bagi masyarakat. Mereka mempunyai fungsi dalam Gereja sebagai penyaksi Kristus yang menderita, wafat dan bangkit justru untuk menebus manusia. Dimana Sarana penyembuhan manusia, dalam hal ini penyembuhan dimengerti sebagai penyembuhan seluruh diri manusia.

Pertama, penyembuhan badan. Upacara liturgi orang sakit menganjurkan dua hal dimana agar manusia berjuang dengan gigih melawan penyakit dan memelihara kesehatan sebaik-baiknya, supaya ia dapat menunaikan tugas dalam masyarakat dan Gereja. Agar para dokter dan semua yang bekerja di bidang medis dan perawat turut berjuang menanggulangi penyakit dan meringankan penderitaan orang sakit. Kedua, adalah dengan penyembuhan rohani. (*)