Prinsip Etis Seorang Perawat Katolik Profesional (Suatu Bentuk Refleksi Etik Keperawatan)

Oleh : Yeane Fiorola Ire, Mahasiswa Fakultas Keperawatan Program Alih Jenis, Universitas Airlangga Surabaya

Ilustrasi Pelayanan Seorang Perawat

Etika adalah pegangan moral yang harus dimiliki setiap orang ketika menjalankan profesinya. Etika penjadi nilai penuntun ketika seseorang harus mengambil keputusan, terlepas dari prinsip legal yang juga menjadi pegangan ketika mengambil keputusan. Tidak seperti prinsip legal yang memiliki dampak yuridis, prinsip etis berdampak pada suasana batin dan moral.

Seorang perawat profesional tidak lepas dari prinsip etis sebagai panduan batin ketika harus mengambil keputusan dalam melakukan tugasnya. Secara umum, seorang perawat mesti memegang nilai-nilai otonomi, beneficience, keadilan, non maleficience, kejujuran, fidelity, confidentially, dan akuntabilitas. Ini semua adalah prinsip etis-filosofis yang mendasari profesi keperawatan di mana pun; boleh dikatakan berlaku universal.
Sementara, ketika berbicara tentang seorang perawat Katolik, yang basis imannya adalah iman Katolik, ada prinsip-prinsip etis yang berpangkal dari iman Katolik. Ini merupakan etika-teologis, yang sifatnya eksklusif dan mungkin saja bertentangan dengan etika teologis yang dipegang oleh mereka yang berkeyakinan lain.

Dalam bidang kesehatan, ada banyak isu krusial yang harus disikapi dengan seksama, ketika berhadapan dengan ajaran iman Katolik. Isu seperti euthanasia, aborsi, kontrasepsi, fertilisasi buatan, adalah contoh praktis bagaimana prinsip etis teologis Katolik bertentangan dengan prinsip etis teologis agama lain, bahkan bertentangan dengan prinsip etis filosofis mainstream. Pada skala berbeda, hal-hal seperti kerahasiaan pasien, kejujuran informasi, otonomi pasien juga seringkali mengundang perdebatan dan konflik batin ketika berada pada situasi praktis. Maka, sudah sepatutnya kajian etis-teologis Katolik untuk bidang kesehatan ini mendapat perhatian lebih, atau minimal, para perawat Katolik memahaminya dengan baik di bawah terang Sabda Allah, Tradisi dan Magisterium.

Dari Kitab Suci, kita merujuk pada sabda Yesus sendiri,”Aku berkata kepadamu: sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat.25:40) Yesus mendesak umat manusia untuk melihat sesamanya sebagai ‘gambar dan rupa Allah.’

Sejarah Gereja Purba menunjukkan adanya orang-orang yang mendapat tugas khusus untuk melayani orang miskin dan orang sakit (dari sini istilah diakonos berasal). Pelayanan terhadap orang sakit – termasuk di dalamnya pendirian klinik dan rumah sakit – tidak pernah terlepas dari sejarah perkembangan Gereja Katolik. Bahkan, pelayanan misi selalu menjadikan karya kesehatan sebagai bagian integral dari misi.

Dalam Pesan Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan pada Konferensi Internasional ke-31 dewan tersebut di tahun 2016, jelas menyebutkan bahwa Gereja Katolik berada bersama mereka yang terlibat dan bertanggung jawab terhadap isu-isu kesehatan global, dengan berpegang teguh pada Tuhan Yesus Kristus, yang hadir baik dalam diri mereka yang sakit (Christus patiens), maupun dalam diri tenaga medis (Christus medicus).

Sebelumnya, di tahun 2014, ketika berbicara di depan Kongres Federasi Asosiasi Pekerja Medis di Manila, sekretaris Dewan Kepausan tersebut Mgr. Jean-Marie Mupendawatu mengatakan bahwa iman sangat penting untuk dijiwai oleh para tenaga pelayan kesehatan dan menjadi landasan dalam pelayanan mereka. Tenaga kesehatan tidak seharusnya hanya melihat pekerjaan mereka sebagai profesi belaka layaknya pekerjaan lain, melainkan melihatnya juga sebagai panggilan dan kesaksiannya.

Dalam perspektif iman Katolik, tidak sepantasnya hubungan antara perawat dan pasien dilihat hanya sebagai kontrak, transaksi komoditas atau sarana latihan belaka. Kecenderungan ini adalah dampak dari sekularisasi yang luas di masa kini, maupun kemajuan teknologi yang menuntut otonomi, terlepas dari prinsip-prinsip etika tradisional.

Pesan Pastoral KWI “Karya Evangelisasi Gereja Katolik Indonesia di Bidang Kesehatan” (2009) menulis,”Karya kesehatan harus dilakukan sebaik-baiknya, penuh keramah-tamahan, kasih sayang, dan menyeluruh, karena sakit seseorang bukan hanya mengena pada fisiknya melainkan juga keseluruhan eksistensinya. (lihat juga motu proprio Paus Yohanes Paulus II Dolentium Hominum;2). Gereja Katolik memahami bahwa sakti dan penderitaan itu lebih daripada sekadar persoalan medis tetapi langsung menyentuh hakikat manusia (bdk. Gaudium et Spes; 10). Masih dalam pesan tersebut, para uskup menulis bahwa karya kesehatan itu ada karena Gereja Katolik berguru pada Yesus yang menyembuhkan demi pewartaan Kerajaan Allah, dan karya itu strategis karena langsung mewujudkan kasih dan perhatian Allah kepada mereka yang menderita. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Gaudium et Spes menekankan ‘sikap hormat terhadap manusia, sehingga setiap orang wajib memandang sesamanya, tanpa terkecuali, sebagai dirinya yang lain.’ (bdk. Gaudium et Spes; 27). Masih pada artikel yang sama, Gaudium et Spes mendesak manusia untuk melihat isu-isu seperti aborsi, euthanasia maupun bunuh diri sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kehidupan, dan artinya berlawanan dengan Allah sendiri sebagai sumber kehidupan.

Maka, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa seorang perawat Katolik harus menjadikan imannya sebagai prinsip etis ketika menjalankan pelayanannya. Kabar Gembira seharusnya juga bisa diwartakan lewat pelayanan keperawatan. Seorang perawat harus melihat pasiennya sebagaimana ia melihat dirinya sendiri, dan memperlakukannya sebagaimana ia ingin diperlakukan, tanpa adanya diskriminasi.

Pelayanan seorang perawat seharusnya berpangkal pada imannya akan Kristus yang hadir dalam wajah pasiennya. Perawat Katolik harus meletakkan prinsip ‘hormat terhadap martabat manusia’ sebagai pegangan utama ketika menghadapi pasien: bukan sekedar merawat dan menyembuhkan penyakitnya, tetapi melihat pasiennya sebagai manusia utuh dengan segala aspek kemanusiaannya. Segala hal yang berlawanan dengan prinsip kehidupan adalah salah, sebagaimana segala hal yang berlawanan dengan kodrat manusia tidaklah benar. Dari perspektif itulah, perawat dapat mengambil keputusan yang tepat ketika berhadapan dengan isu-isu medis aktual yang bertentangan dengan pandangan iman dan hati nuraninya. Dan hanya dengan demikian, ia menjadi pewarta Kabar Gembira lewat karya pelayanannya.(*)