Peran Perawat Katolik Dalam Pelayanan Kesehatan di Daerah Bencana

SEBUAH OPINI, OLEH: IDA BERLIANA, Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Surabaya

Ilustrasi perawat membantu lansia di daerah bencana

INDONESIA ditetapkan sebagai salah satu daerah rawan bencana di kawasan Asia. Mengapa? Ada beberapa alasan. Pertama karena faktor alam itu sendiri. Negeri kita ini berdiri di atas pertemuan lempeng-lempeng tektonik itu. Akibatnya negeri ini berada di atas jalur gempa, patahan-patahan kerak bumi yang aktif bergeser sehingga menyebabkan bencana gempa bumi. Korban harta dan nyawa berjatuhan, kerusakan gedung dan infrastruktur terjadi di mana-mana

Kedua, negeri kita ini juga memiliki banyak gunung berapi. Jumlahnya sekitar 140 gunung yang aktif. Pergerakan lempengan kerak bumi mempengaruhi aktivitas di perut bumi. Jika sudah tersumbat, tentu akan menimbulkan energi besar untuk mencari jalan keluar. Jika energi perut bumi berhasil mencari jalan keluar maka akan terjadi ledakan besar disusul lelehan magma atau lahar (lumpur panas) dan awan panas. Ini yang disebut bencana gunung api meletus.

Iklim kita yang tropis juga menyebabkan banyak tanah yang tidak stabil. Banyak tanah yang rusak. Iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi memudahkan terjadi pelapukan. Bencana alam seperti longsor, misalnya, itu karena curah hujan di sini cukup tinggi. Itu dari sisi alamnya.

Kedua dari sisi non alam. Negeri kita berpenduduk padat, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Kalau kawasan timur Indonesia mungkin belum begitu banyak. Infrakstuktur kita tidak didesain sesuai dengan kondisi alam itu. Bangunan rumah, juga bangunan besar seperti gedung, belum banyak disesuaikan dengan kondisi alam ini. Tata ruang juga belum dikelola dengan ramah bencana.

Kebijakan kebencanaan kita juga masih baru. Undang-undang yang mengatur soal ini juga baru terbit tahun 2007. Jadi pelajaran dalam menghadapi bencana, meski semenjak dahulu kala sudah terjadi, kita sangat telat.

Sekarang, pemerintah sedang menggalakkan program daerah siaga bencana. Misalnya, desa siaga bencana, kota siaga bencana dan sebagainya. Program ini tidak saja soal persiapan fisik dan struktur tata ruang untuk menghadapi resiko bencana alam, tapi juga mensyaratkan penyiapan sumber daya manusia dalam menghindari resiko bencana alam termasuk termasuk tindakan kuratifnya.

Banyak aspek pengembangan dan penyiapan SDM untuk melakukan pencegahan resiko bencana alam dan perbaikan (tindakan kuratif) akibat bencana yang sudah terjadi. Saya hanya ingin menyorotinya dari bidang pengembangan SDM bidang kesehatan.

Kita tahu bersama, tenaga medis dan paramedis selalu dilibatkan dalam setiap peristiwa bencana alam, baik gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan yang luas, dan lain sebagainya. Mereka hadir untuk memberikan tindakan medis saat bencana maupun tindakan medis pasca bencana.

Lalu bagaimana peran perawat yang beragama Katolik, ketika ia dilibatkan dalam penanganan medis di lokasi bencana?

Sebagai perawat Katolik, kita diminta melayani dengan iman tanpa syarat yang tidak memperhitungkan untung atau rugi, yang mana hidup orang Katolik adalah pengabdian. Bagaimana kita membantu korban bencana tanpa memandang perbedaan suku, agama ataupun ras. Walaupun kita tidak di gaji maksimal, hidup dalam serba kekurangan, merasakan apa yang saudara kita rasakan saat ini kita tetap melayani dengan setulus hati dan penuh cinta kasih.

Seperti dalam Kitab Roma 12:1 : Karena… kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Allah menghendaki kita menyerahkan hidup kita untuk menyenangkan hati Tuhan. Bagaimana cara supaya kita bisa menyenangkan hati Allah? 1. Menanggalkan Manusia yang lama dalam arti menanggalkan hidup kita yang lama, yang dulu sudah mati dan hidup baru di dalam Roh kudus seperti dalam buah-buah Roh ( Galatia 5:22-24). 2. Meniru Allah yang kudus dan sempurna, melalui teladan Kristus, kita terapkan di dalam perkataan, pikiran dan perbuatan kita. Mempersembahkan hidup kita untuk Tuhan dan sesama.

Bantuan yang tulus akan memberikan semangat buat saudara-saudara kita yang mengalami bencana saat ini. Talenta yang Allah berikan kepada kita dalam hal kesehatan, kita gunakan untuk membantu meringankan beban saudara kita. Selain dalam hal kesehatan sebagai perawat Katolik, kita dukung dan bimbing dalam doa untuk tidak menyerah dan putus asa bahwa di tengah musibah saat ini ada Tuhan yang senantiasa menjaga dan melindungi kita.

Marilah kita sebagai perawat Katolik utusan Allah senantiasa melayani saudara-saudara kita yang membutuhkan dan menjadi berkat buat saudara-saudara kita. (*)