Pasukan Cyber versus Wartawan Bodrex

KEBUN RAYA BOGOR – Walikota Bogor, DR. Arya Bima Sugiarto dikenal sangat peduli lingkungan hidup. Ia membangun taman dan fasilitasnya di mana-mana. Ada banyak taman di Kota Bogor sehingga Bogor diberi julukan Kota Sejuta Taman. Tampak peserta rakor dari Kabupaten Kupang mengunjungi Kebun Raya Bogor yang kini makin bagus tertata indah.

JARUM jam menunjukkan pukul 22.00 wita. Semakin larut, obrolan  Si Atong dengan saya mulai terganggu. Banyak pengemudi sepeda motor atau wanita berdandan menor dan teman prianya singgah di kios Si Atong. Saya jadi paham dan segera pamit pulang ke hotel dengan berjalan kaki saja.

 “Saya wartawan Bang,” tukas saya sebelum meninggalkan kios Si Atong. Saat saya membayar nasi bebek bakar dan teh hangat, ia sempat bertanya apa pekerjaan saya. Kenapa berkeliaran di Jakarta, meninggalkan kampung halaman di Timor, NTT.
“Kang Bima Arya, Walikota Bogor juga mantan wartawan,” seru Si Atong. Saya terperanjat bukan main. Wah, pasti ada banyak ilmu yang saya bisa dapat darinya kalau sempat berjumpa kelak dengan Bima Arya.
Ternyata Walikota Bogor periode 2014 – 2019 adalah mantan Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah Rakyat Merdeka tahun 2009 – 2010. Rakyat Merdeka didirikan tahun 1999, merupakan bagian dari Jawa Pos Group. Memberitakan soal peristiwa politik dan sosial. Oplahnya 150.000 exemplar setiap hari. Kini dalam versi daring diberi nama Rakyat Merdeka Online dan berhasil merebut 50 juta klik per bulan.
Bergelut di dunia jurnalistik pasti menempa Bima Arya menjadi sosok yang paham sekali dan terampil soal psikologi massa. Bagaimana strategi menggiring opini publik dan bagaimana ‘mengendalikan’ para wartawan agar mengikuti garis politik yang dianutnya dan seabrek program kerjanya sebagai Walikota Bogor.
Ini hal yang wajar di era sekarang, yang setiap detik dikepung dan dikuasai informasi serba instan dan kuat melalui media sosial maupun media massa cetak dan elektronik. Bahkan kini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi seorang pemimpin daerah. Terlebih bagi seorang Walikota Bogor, yang jaraknya cuma ‘satu helaan nafas’ dari Jakarta, ibukota negara.
Saat menyimak materi rakor, Kabag Humas dan Protokol Pemkot Bogor, Encep M. Ali Alhamidi, S.H, M.H, tidak sama sekali memberitahu kalau Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto adalah mantan wartawan.
Encep cuma mengatakan kalau Bagian Humas yang dipimpinnya dibantu oleh beberapa staf ahli. Mereka pakar dalam ilmu komunikasi massa, jurnalistik, media online, psikologi massa bahkan intelijen. Karena keahliannya, mereka digaji lebih besar dari staf biasa. Mereka bekerja atas dasar kontrak. Setiap tahun dilakukan pembaruan kontrak kerja.
Tugas utama staf ahli ini adalah menyusun program kerjasama informasi dengan media massa. Meliputi strategi penyebarluasan informasi, menyusun strategi membangun opini publik serta bagaimana strategi menyampaikan informasi kepada publik.
Mereka juga mengelola media publikasi milik humas, membuat filem dokumenter, dan membuat dokumentasi. Yang terakhir adalah memonitoring dan mengevaluasi ‘lalu lintas’ informasi di media online, media cetak, media elektronik dan media sosial seperti facebook, twitter, Instagram, Path, dan sebagainya.
Yang terakhir ini adalah pekerjaan intelijen. Ini tidak terkait strategi militer. Tetapi tugas mereka adalah menghadapi para haters (pembenci, Red) dan hacker. Termasuk menghadapi wartawan Bodrex.
Maklumlah dendam dari lawan politik saat pilwakot Bogor dua tahun masih berkobar-kobar. Bima  Arya setiap hari diserang  di media massa yang dikomandani wartawan bodrex. Belum lagi para haters tidak bosan-bosannya mengirim status yang melecehkannya di media sosial.
Bayangkan saja, ada 38 media massa cetak dan elektronik yang beroperasi di Kota Bogor. Hampir 300 berita yang harus ‘diintip’ dan didokumentasi secara digital oleh tim intelijen. Mana berita yang mendukung program kerja Bima Arya, mana berita yang membuat kritikan dibarengi tawaran solusi dan mana berita yang isinya cuma main hantam kromo, melecehkan, menghina dan tanpa konfirmasi apalagi menawarkan solusi.
Saya tertarik dengan kerja tim intelijen ini. Sebelum waktu jamuan makan siang dihidangkan, saya mencuri waktu berdiskusi dengan salah satu staf humas di halaman belakang Balai Kota Bogor. Saya minta ia menjelaskan lebih rinci soal ini.
Ia menjelaskan tim intelijen di humas itu ibarat ‘Pasukan Cyber’. Tapi bukan Army Cyber (Tentara Cyber) dan tidak bernaung di bawah Indonesian National Cyber Security (INCS). INCS bekerja untuk keamanan Indonesia. Tetapi pasukan cyber bekerja untuk humas dan Pemkot Bogor.
“Tapi pasukan cyber di humas kerjanya hanya untuk menghadang informasi para haters dan wartawan bodrex yang tujuannya menjatuhkan martabat pemerintah dan Walikota Bogor, Bima Arya. Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta, Ahok punya pasukan cyber untuk melawan para haters di medsos maupun media massa yang dipimpin wartawan bodrex,” jelasnya panjang lebar.
Apa itu wartawan Bodrex, tanya saya pura-pura tidak mengerti. Ia mengatakan wartawan bodrex itu wartawan bodong, wartawan abal-abal. Tahun 1990-an, obat/pil bodrex dijual bebas di warung dan kios-kios hingga pelosok desa dan dusun. Obat ini untuk meringankan keluhan sakit kepala, demam, batuk/pilek.
“Ada oknum wartawan bertemu pejabat, mengeluh istrinya sakit kepala, anaknya demam atau dia sendiri yang sakit flu. Lalu si pejabat beri uang dengan pesan supaya beli obat bodrex di kios untuk diminum. Sejak itu dikenal istilah Wartawan Bodrex. Jika pejabat tidak beri uang, si wartawan setiap hari menulis yang jelek-jelek tentang si pejabat tanpa konfirmasi. Itulah kenapa Wartawan Bodrex paling ditakuti,” jelasnya seraya tertawa terbahak-bahak.
Tim intelijen ini juga dibantu staf ahli di humas membuat website, majalah digital, membuka akun di twitter dan facebook untuk menghadang para haters dan wartawan bodrex. Isinya soal informasi kegiatan, program kerja maupun prestasi yang dibuat Walikota Bogor, Bima Arya dan para kepala SKPD.
“Maka dibuatlah website www.kotabogor.go.id; www.bogorkabogor.kotabogor.go.id; Majalah Digital Djuanda 10. Ada Akun Facebook: Bogor City dan Twitter/Instagram: @pemkotabogor. Ada juga Call Center Aspirasi Warga 1500411 dan SMS Center Aspirasi Warga 08118500411,” jelasnya.
Tim intelijen dan staf ahli juga membuat filem dokumenter untuk dikirim ke youtube. Namun yang kini sedang digalakkan adalah pemasangan ratusan CCTV di berbagai sudut kota. Misalnya di persimpangan jalan yang ramai, terminal, stasiun kereta api, pusat perbelanjaan, rumah sakit, Kantor Dispenduk, memantau ketinggian air di bendungan dan sebagainya.
Untuk memantau rekaman CCTV, dipasanglah sebuah layar monitor raksasa di sebuah ruang. Kemudian ruang ini diberi nama Bogor Green Room. Ruangan ini
dipasang beberapa perangkat vehicle tracking via GPS diintegrasikan dengan semua monitor di tiap SKPD. Masing-masing SKPD ada admin-nya, memantau di layar monitor.
“Pak Walikota bisa memantau situasi Kota Bogor melalui perangkat Iphone pribadinya. Atau disebut ‘Blusukan Digital’. Pak Walikota tidak harus turun ke lokasi. Dan tiap kepala SKPD langsung terkoneksi dan segera turun ke lokasi. Misalnya ada sampah berserakan, maka Dinas Kebersihan, Tata Kota dan Pertamanan terjun untuk menyelesaikan,” tambah Encep, Kabag Humas dan Protokol Pemkot Bogor.
Semua informasi keluar maupun informasi masuk dikemas secara digital didukung perangkat komunitasi yang canggih. Baik masalah kebersihan, tata kota, lalulintas, pariwisata, kesehatan, pelayanan publik, ekonomi dan budaya.
“Bogor Green Room dibangun untuk memuluskan kebijakan dan program pemerintah bagi perubahan Kota Bogor yang lebih baik lagi,” kata Encep.
Lalu berapa biaya yang dihabiskan dalam setahun? “Tidak tanggung-tanggung, Pemkot Bogor mengalokasikan dana untuk pekerjaan staf ahli ini hampir Rp 2 miliar dari total anggaran untuk humas sebesar Rp 4.923.597.481,00 (Rp 4,9 miliar). Itu belum termasuk biaya pembelian perangkat digital di Bogor Green Room,” cerita Encep.
Lalu apa hasilnya? Hasilnya, kata Encep, yaitu Pemkot Bogor baru saja mendapat penghargaan Indonesia Digital Economic Award (IDEA) 2016 dalam hal kemampuannya mengelola informasi digital guna memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di wilayahnya.
“Tapi hasil lain yang jadi target utama kami, yakni meningkatnya partisipasi masyarakat untuk membangun Kota Bogor. Lewat perangkat digital seperti telepon genggam, warga sudah bisa mengirim pesan dan gambar via SMS Center atau Call Center, melaporkan kemacetan dan sampah berserakan. Atau pelayanan yang buruk di rumah sakit dan Kantor Dispenduk, dan sebagainya. Ini yang kini sedang jadi trend,” jelas Encep. (Advertorial: Kerjasama dengan Humas Pemkab Kupang & Kodya Bogor. Bagian Kedua) 
Laporan & Editor: Julianus Akoit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here