Parade Puisi Penyair Sonny Kelen

Advertisements

Penyair Sonny Kelen, lahir di Leworahang, Larantuka 04 Juli 1997. Ia bergiat di Komunitas Sastra Kotak Sampah Novisiat SVD Timor, Atambua – Kabupaten Belu.

Untuk Dikenang

Rindu menjelma didada
Tentang jemarimu mengelus dadaku
Memberikan bahasa keindahan yang tak ingin kulukai. Seperti halnya amin. Malaikat maut yang terlambat. Doa terakhir yang mati diperjalanan
Atau air mata yang menangis didada seseorang yang mencintaimu karena tak ingin jatuh dari mata runcing matamu. Biar kelak rindu kembali subur seperti hujan diatas gunung. Selebihnya kau akan tersenyum melihat anak-anakmu merebut rindu yang kubawa.

            Nenuk, Januari 2019

Di Hadapan Madona

Senja yang hilang ditikungan rumah
Menjadi doa tanpa amin yang merdu di bibirmu
Kau merasakan sesuatu terjadi dalam hatimu
Seperti hujan yang menjarum kepalamu
Harapan, keinginan, bahkan kekecewaan mendesak seperti awan mendung dilangit
Sekali lagi kau tidak bisa berbohong
Kau sungguh menginginkannya
Sungguh pun kau adalah rapuh dari wanita bermata teduh itu. “E” berdamailah dengan dirimu dan berusaha menerima kenyataan bahwa kau memang telah kutinggalkan. Agar tidak ada pertanyaan melukai hatimu sekali lagi
” Mengapa kita mencintai laki-laki yang sama?”

    Nenuk, Maret 2019

Kopi (yang terakhir)

Aku pernah berdoa
agar kau yang ada dalam cangkir ini
menjadi kopiku yang terakhir

      Nenuk, Maret 2019

Kopi Rindu

Dalam cangkir cantik itu
Kopi sedang memendamkan rindu
Yang belum sempat
Diungkapkan kepada bibir

Advertisements

     Nenuk, Maret 2019
Advertisements