Mutilasi Gadis Cantik, Pendeta Sailana Divonis 18 Tahun Penjara

Masih ingat kasus mutilasi gadis cantik di Oepura, Kota Kupang, Provinsi NTT tiga bulan lalu? Dan potongan tubuh korban dimasukkan dalam ember plastik? Pelakunya, Edward Sailana (69), seorang pensiunan guru dan selalu mengklaim dirinya pendeta, telah divonis hukuman penjara 18 tahun di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang, Selasa (4/12/2018) lalu.

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang telah menjatuhkan hukuman penjara 18 tahun bagi Pendeta Edward Sailana (69). Sebab ia telah terbukti secara sah dan meyakinkan membunuh secara sadis gadis cantik bernama Debby Anggreani Balla tiga bulan lalu.

Sidang putusan ini dipimpin Hakim Ketua Yetedi Windiarton, didampingi dua hakim anggota, Prasetio Utomo dan Tjokorda Pastima. Majelis hakim telah mempertimbangkan seluruh keterangan terdakwa dan fakta persidangan serta pembelaan penasuhat hukum, sehingga putusan tersebut lebih ringan dari tuntutan JPU.

Sebelumnya, JPU menjerat terdakwa dengan Pasal 340 KUHP terkait Pembunuhan Berencana jo Pasal 338 KUHP terkait pembunuhan biasa dengan ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.

Dalam sidang dengan agenda pembacaan putusan majelis hakim tersebut, terdakwa didampinggi penasihat hukumnya Albert Ratu Edo.

Putusan ini dianggap terlalu ringan oleh keluarga korban. Mereka menilai, seharusnya pelaku dihukum mati karena telah melakukan pembunuhan sadis terhadap korban.

Sempat terjadi reaksi berlebihan terhadap putusan tersebut. Pelaku langsung diamankan oleh polisi yang berjaga-jaga di luar ruang sidang PN Kelas 1A Kupang.

“Mestinya dia dihukum mati. Bukan dihukum 18 tahun penjara. Jaksa harus banding,” teriak keluarga korban.

Sebelumnya diberitakan Edward Sailana (69) dibekuk polisi di kediamannya karena membunuh seorang gadis cantik bernama Debby Anggreani Balla, 14 Mei 2018 lalu.

Usai menikam leher dan dada korban, pelaku memutilasi tubuh korban lalu menyimpan dalam ember plastik besar berwarna hijau. Kemudian ember plastik itu dibawa pelaku ke rumahnya di Oelomin. Kemudian potongan tubuh korban dilemparkan ke dalam sumur tua di halaman belakang rumah pelaku. (*)

Laporan & Editor: Julianus Akoit