Mimpi Dina di Lapak Tua

SUATU siang, di sebuah lapak tua beratapkan karung bekas. Seorang gadis berkulit gelap duduk bersila. Sepasang matanya yang bulat hitam menatap nanar orang-orang yang berseliweran di jalan.
“Siang Pak! Beli pinang muda. Murah saja,” suaranya dikeraskan seakan hendak mengalahkan suara klakson mobil dan sepeda motor yang bersahut-sahutan di ruas jalan, di depan lapak tuanya.
Tidak ada yang menggubrisnya. Sekilas ada yang melirik jualannya. Tapi hanya menggelengkan kepala, menanggapi tawarannya.
Dina Banunaek (18). gadis berkulit gelap kelahiran Oenlasi, Amanatun Timur, di sebuah kampung di pedalaman Timor. Begitu pengakuannya saat diajak berbincang-bincang oleh wartawan baru_baru ini.
“Saya jual sirih dan pinang untuk cari ongkos kuliah Om,” kata Nina jujur. Tanpa beban, tanpa basa-basi. Ia mengaku dari keluarga miskin di pedalaman Pulau Timor.
Sejenak obrolan kami terpotong. Seorang pria paruh baya membeli dua tumpuk buah pinang yang digelar di atas karpet plastik berwarna kusam miliknya.
“Sehari saya bisa dapat untung Rp 20.000 sampai Rp 40.000. Kalau hari pasar, bisa lebih sedikit,” akunya. Itu kalau ia menjual pinang satu ember seberat 16 kilogram.
Dina mengaku tidak malu berjualan sirih pinang di tepi jalan raya, di Pasar Oesao, Kupang Timur.
“Mengapa harus malu Om? Cari uang halal itu perintah Tuhan. Apalagi untuk menambah ongkos kuliah, kenapa harus risih?,” sergah Dina. Sorot matanya tajam menatap. Alis matanya bertautan, seakan heran atas pertanyaan itu.
Bungsu dari enam bersaudara ini menegaskan, rejeki dari Tuhan itu sama bagi semua orang. Tinggal bagaimana menggandakannya lewat doa dan kerja keras.
Mahasiswi semester I Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Maranatha Kupang ini mengaku ingin jadi perawat. Sebuah cita-cita mulia yang dirajutnya setiap hari dengan keringat di bawah lapak tua, di Pasar Oesao.
“Sejak kecil ingin jadi perawat atau bidan. Karena itu sejak sekolah dasar, saya sudah mengikuti tante (adik ibunya) ke Oesao. Sekolah hingga tamat SMA Negeri Kupang Timur. Kalau saya tetap tinggal di kampung, mungkin tidak selesai sekolah. Sebab kami sangat miskin,” kisahnya.
Sepulang sekolah, Dina bukannya pelesir sama teman-teman gadis ABG lainnya. Apalagi pacaran sama cowok teman sekolah. Itu tidak sempat terlintas di benaknya. Usai santap siang, ia menyalin pakaian seragam lalu bergegas ke pasar, berjualan sirih dan pinang. Jelang petang baru ia pulang ke rumah.
Hari minggu dan libur, Dina berangkat ke Amarasi, membeli pinang dan sirih di kebun warga. Lalu dijual lagi di lapak tua, usai pulang sekolah.
“Nanti pulang kuliah, kalau sempat, pasti saya datang berjualan di sini. Saya tidak malu,” pungkasnya.
Dina Banunaek, gadis berkulit gelap dari pedalaman Pulau Timor, dengan cita-cita yang sangat mulia. Ia merajut mimpi di sebuah lapak tua, di pinggir jalan, di Pasar Oesao. Ia merajut mimpinya dengan sepenggal doa, cucuran keringat dan tanpa rasa malu sedikit pun.
Ia sangat kuat dan tegar. Bahkan terlalu keras menjalani  hidupnya. Ia merajut mimpinya dari sebuah lapak tua, di tepi jalan sebuah pasar. (*)
Laporan & Editor: Julianus Akoit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here