Membaca Fakta Lewat Teater Singkat

ilustrasi pentas teater (tidak terkait isi berita)

Agust Gunadin (22) sebagai sutradara, secara genital mengonstruksi logika cerita secara masuk akal. Dia mentransformasikan sebuah fakta ke dalam plot teatrikal sederhana, namun memberikan suguhan menarik bagi penonton (Filosofan dan seluruh penghuni rumah Biara Camilians-Maumere).

MAUMERE, HALAMANSEMBILAN.COM – Seminaris Biara Camilian-Maumere mementaskan sebuah teater singkat bertema Melampaui Sebuah Cermin, Sabtu (20/10/2018) malam dalam rangka mengenang Sumpah Pemuda 1928.

Tema melampaui sebuah cermin sesungguhnya berangkat dari kisah para pemuda yang menghabiskan waktu untuk meminum arak, tuak di sebuah wilayah.

Tema ini dikombinasikan dengan kisah heroik seorang pemuda Sdr. Ema Dego yang memanfaatkan waktunya untuk menanam sayur sebagai penopang kehidupan rumah tangga di kampung Pau, Manggarai.

Pementasan lakon Melampaui Sebuah Cermin oleh kelompok Sastra Minus Kata, Biara Camilians-Maumere memberikan sebuah rujukan bahwa generasi muda masih diperhitungkan, di tengah asumsi publik yang semakin memojokan kaum milenial.

Teater singkat yang berdurasi 25 menit ini, dilakonkan oleh Sinto Ogur (Pemabuk yang memiliki gagasan perubahan) sehingga menjadi pemuda berguna di tengah masyarakat. Sinto Ogur bersama kedua rekannya (Dar Seso dan Marsel Hapi) membawa penonton dalam sebuah adegan kegelisahan, di mana hari-hari hidup mereka selalu diisi dengan trend sebagai pemabuk deker. Namun, tiba pada suatu kesadaran diri, mereka akhirnya sebagai agent of change di tengah masyarakat.

Mereka berbekal gitar untuk memanggil kaum muda bersama-sama membentuk kelompak penjaga kampung sekaligus agen perubahan. Melalui kelompok yang telah dibuat bersama, Sinto Ogur sebagai pemandu mengadakan sebuah gerakan Duat Dodo (kerja gotong-royong) untuk mengasah kembali semangat kaum muda yang berjiwa kerja.

Sterategi yang dibuat oleh mereka, akhirnya membuahkan hasil panen yang memuaskan sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja dalam hidup bertani di wilayah mereka. Dari gerakan Duat Dodo juga membantu meningkatkan persaudaraan di wilayah kampung.

Agust Gunadin (22) sebagai sutradara, secara genital mengontruksi logika cerita secara masuk akal. Dia mentransformasikan sebuah fakta ke dalam plot teatrikal sederhana, namun memberikan suguhan menarik bagi penonton (Filosofan dan seluruh penghuni rumah Biara Camilians-Maumere).

Di samping alur cerita yang linear suguhan kelompok Minus Kata San Camillo, Sdr. Yuven Atabau mendeklamasikan puisi “Kau Ini Bagaiman” karya Gus Mus untuk memudahkan realisme penonton dalam menyimak fakta-fakta hangat yang seringkali membawa adrenalin anak bangsa dalam ruang Kecemasan dan Kegelisahan. Dengan puisi Gus Mus sesungguhnya mengajak anak bangsa untuk mempertanyakan ke mana eksistensi dan esensi dari para pemuda kekinian.

Roh semangat dan tubuh yang menggerakan oleh kelompok Minus Kata menjadi semakin menggairahkan ketika nyanyian “Rumah Kita” oleh Iwans Fals yang dibawakan Sdr. Ento Nalut menambah kekayaan teatrikal melalui musikalitas pencerahan dalam kebereksistensian kaum muda. “Nyanyian, “Rumah Kita” oleh Iwan Fals sesungguhnya memberikan makna yang mendalam untuk anak bangsa terlebih khusus kaum muda agar selalu melihat dan memperhatikan Negara Indonesia sebagai pijakan untuk keberadaan.

Dengan demikian, tugas kita sebagai pemuda seharusnya melampaui sebuah cermin yang selalu menatap dan ditatap. Menatap artinya pemuda harus mulai merubah diri dan ditatap seharusnya diberi apresiasi bahwa pemuda selalu ditatap oleh semua orang sebab di dalam diri mereka ada roh “perubahan”, Kata Fr. Engel Klau, MI sebagai koordinator kelompok setelah pementasan berakhir. (*)

Laporan Kontributor: Agus Gunadin. Editor: Julianus Akoit