Marianus Oki Tewas Dalam Ruang Tahanan, Keluarga Tabur Bunga di Halaman Pospol Manamas

Sudah 3 tahun kakak kami tewas misterius di dalam ruang tahanan Pos Polisi Manamas. Polisi bilang tewas gantung diri. Tapi faktanya, ia tewas dianiaya, bukan bunuh diri. Dan sampai sekarang penyelidikan kasus ini ‘digantung’ saja oleh Polda NTT

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Puluhan kerabat dari almarhum Marianus Oki, melakukan ziarah dan tabur bunga di Halaman Pos Polisi (Pospol) Manamas, di Kecamatan Taebenu, Kabupaten Timor Tengah Utara,Selasa (4/12/2018).

Aksi tabur bunga itu untuk mengenang 3 tahun Marianus Oki tewas dianiaya dalam sel Pospol Manamas. Ia dijebloskan dalam sel dengan tuduhan percobaan pemerkosaan yang tidak pernah dilakukannya.

“Sudah 3 tahun kakak kami tewas misterius di dalam ruang tahanan Pos Polisi Manamas. Polisi bilang tewas gantung diri. Tapi faktanya, ia tewas dianiaya, bukan bunuh diri. Dan sampai sekarang penyelidikan kasus ini ‘digantung’ saja oleh Polda NTT,” kata Victor Manbait, S.H, Direktur Lembaga Anti Kekerasana Masyarakat Sipil, di Pospol Manamas, Selasa siang.

Marianus ditemukan tewas tergantung di besi jeruji kamar mandi tahanan. Dilehernya terlilit sebuah ikat pinggang. Yang diklaim polisi sebagai ikat pinggang milik almarhum sendiri.

“Padahal almarhum selama ini dikenal tidak pernah memakai ikat pinggang. Lalu itu ikat pinggang milik siapa? Tubuh almarhum pun tidak tergantung semestinya sebagaimana kasus orang bunuh diri. Sangat ganjil fakta di TKP,” tambahnya.

Tim Kompolnas dan Polda NTT sudah mengirim tim penyidik independen dan ditemukan dua kesimpulan. Versi pertama, korban bukan bunuh diri tetapi tewas dianiaya lalu digantung pakai ikat pinggang. Versi kedua, korban tewas murni karena bunuh diri.

“Tetapi sampai sekarang kasus ini ‘digantung saja’ oleh polisi. Kasus ini akan diteruskan ke Komnas HAM di Jakarta dan Kapolri,” tandas Manbait.

Manbait menambahkan minggu depan, keluarga korban akan bertemu Kapolda NTT di Kupang untuk menanyakan perkembangan penanganan kasus ini. (*)

Laporan & Editor: Julianus Akoit