Marianus Nuban: Dulu Satpam Bergaji Kecil, Kini Jadi Bos Beromset Miliaran Rupiah di Jakarta

Advertisements

Marianus Nuban

Adapun laba bersih diprediksi mencapai 26% hingga 31% per bulan dari omzet. Ia memproyeksi dari lima karyawan per gerobak, bisa mendapatkan omzet antara Rp 75 juta–Rp 90 juta per bulan. Dengan pendapatan per bulan mencapai Rp 6-8 miliar.

JAKARTA,  HALAMANSEMBILAN.COM -Marianus Nuban, pemuda asal Lembata, Flores – NTT ini memiliki kisah hidup bak dongeng 1001 malam yang menakjubkan. Sungguh fantastis dan mencengangkan. Perjalanan hidupnya berputar 360 derajat. Dari seorang Satpam, penjual siomay keliling dan penjual sepatu, kini menjelma sebagai seorang bos yang beromset miliaran rupiah per bulan lewat usaha Jagung Manis Fantastic.

Episode perjuangan hidupnya di setiap babak bak air mengalir, diceritakannya dengan penuh warna. Sosok energik ini, memulai usahanya dari nol. Ketekunannya memperjuangkan mimpi, membuat namanya kian populer di kalangan pelaku bisnis tanah air. Ia addalah diaspora NTT yang membanggakan sehingga menjadi role model bagi anak anak Indonesia timur yang ingin jadi pengusaha mandiri.

Marianus Nuban bukan saja berhasil meraih mimpinya, tetapi menjadi pengusaha dengan ratusan mitra yang tersebar di seantero Jabodetabek. Bahkan mitranya kian menggurita, menyebar ke seluruh kota-kota besar di tanah air.

Anak pasangan petani ladang kering ini, tidak sekadar sukses membesarkan usahanya, namun berperan sebagai roda penggerak ekonomi bangsa, mampu menyerap ratusan tenaga kerja di seluruh Indonesia dan usahanya menjadi saluran berkah bagi banyak orang.

Namun patut dicatat, apa yang dicapai lelaki berkulit hitam kelahiran 27 April 1974 di Pulau Lembata-Flores, NTT, itu bukan semudah membalikan telapak tangan. Tapi melalui perjuangan panjang dan penuh lika liku.

Jagung Manis Fantastic adalah puncak dari usaha yang dibesutnya dan meraih sukses. Namun, Marianus bukan tanpa mencoba. Sudah banyak ragam usaha pernah digeluti, seperti usaha jualan sepatu, dagang somai, menyediakan les kumon dan usaha lainnya dan tidak dilanjutkannya karena merugi. Namun Kerja keras, kerja cerdas dan berani untuk terus mencoba. Ia jatuh dan bangkit lagi serta tidak takut gagal, rupanya menjadi kunci kesuksesan Marianus Nuban di kancah bisnis.

Anak pertama dari tujuh saudara yang semuanya laki-laki, itu, pada tahun 1994 memutuskan untuk merantau ke tanah Jawa. Awalnya Marianus berlabuh di Daerah istimewa Jogyakarta.

Bermodal ijazah STM (sekolah teknik menengah), ia kemudian memutuskan untuk kuliah di jurusan teknik pada sebuah Universitas swasta di kota Gudeg itu. Namun sejurus perjalanan waktu, karena terhambat masalah keuangan, marianus berhenti dari bangku kuliah dan memutuskan hijrah ke Jakarta. Di kota metropolitan rupanya menjadi babak awal perjuangannya.

Ia mau bekerja apa saja untuk bertahan hidup di Jakarta. Pekerjaan awal yang didapatnya adalah menjadi Satpam. Gaji tidak cukup, membuat Marianus sering menjadi buruh kasar apabila ada yang membangun rumah. Namun hari-harinya, selalu diselimuti perasaan bahwa pekerjaan dengan standar gaji yang diterimanya setiap bulan, tidaklah cukup menolong kehidupannya.

“Syarat menjadi satpam adalah orang harus jujur dan baik. Namun gajinya kecil. Saya berpikir betapa murahnya sebuah kejujuran,” ujar Marianus, dalam obrolannya dengan Kormen Barus, wartawan industry.co.id.

Untuk menambah penghasilan dari pekerjaaan sebagai satpam, Marianus nyambi berjualan sepatu dengan memanfaatkan kepercayaan yang diberikan pengrajin sepatu di kawasan Industri kecil Cakung. Sehabis bertugas jaga, Marianus menyempatkan diri ke kawasan sudirman-Thamrin dan Gatot Subroto dan menawarkan model sepatu seperti yang ada dalam brosur. Agar lancar dalam penjualan, Marianus membangun kerjasama dengan para ofiice Boy (Ob) dan Satpam di setiap gedung di Kawasan segi tiga emas itu, dengan cara membagi hasil. “Walaupun penjualannya saat itu tak sedasyat Jagung, saya belajar tentang kerjasama, kemitraan itu dari usaha sepatu,”ujarnya, mengenang.

Selain sepatu, Marianus juga menekuni jualan siomay, namun usaha itu tak diteruskannya karena kurang laku. Marianus juga sempat membantu sang istri untuk memberikan les sempoa, tapi gagal.

Tahun 2009, saat berada di Kawasan ITC Kuningan, Marianus memperhatikan aktivitas orang-orang yang sering menanyakan Jagung manis. Namun jagung manis selalu habis. Ia kemudian bertekad untuk menjalani usaha jagung manis. Apalagi dirinya juga teringat akan kebiasaan sebagian besar orang di kampung halamannya, yang suka sarapan dengan nasi jagung atau produk olahan jagung lainnya.

Ternyata kisah orang yang suka mencari jagung manis di kawasan ITC Kuningan itulah, menjadi salah satu titik penting perjalanan hidupnya.

Menyadari usaha berbasis jagung memiliki prospek yang cerah. Dia pun memperkenalkan brand Jagung Manis Fantastic dengan aneka rasa yang bisa disesuaikan dengan selera konsumen.

Memulai usaha dengan uang Rp 4 juta, ia membuka gerai di Hero Bekasi. Setiap harinya selalu ramai dipadati pembeli. “Jagung manis susu keju aneka rasa ini masih disukai sebagian besar masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” ujarnya bangga.

Penikmatnya selalu ramai dan mencakup semua segmen, ternyata menyedot perhatian seorang supervisor di tempat itu dan berminat untuk membeli Rp 12 juta apabila Marianus menjualnya. Marianus pun menjualnya karena dengan menjual senilai Rp 12 juta, dia bisa membuka tiga gerai baru.

Tekadnya bulat dan fokus di jagung manis. Marianus kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaan sebagai satpam Kimia Farma. Padahal BUMN Farmasi itu, tengah mempromosikan tugas baru Marianus ke bagian Maintenance.

Rupanya jagung manis racikan Marianus diminati pasar. Usahanya menggelinding cepat. Dalam tempo yang tak lebih dari 6 tahun, Kemitraan yang dibangun membuat gerai dan gerobak Marianus membengkat. Sampai dengan tahun 2014 jumlah gerai usahanya sudah mencapai 700 unit di seluruh Indonesia, baik milik sendiri maupun mitra. Sementara jumlah gerobak dorong sampai dengan tahun 2015 mencapai 400 unit di Jabodetabek.

Ada enam menu yang dia tawarkan yakni jagung manis original, pedas, mayonais, barbeque, coklat dan strawberry. Jasuke tersebut disajikan dalam cups (gelas plastik yang digunakan sebagai kemasan untuk menjual jagung manis).

Untuk bahan bakunya, Marianus bekerjasama dengan supplier jagung asal Cirebon, Jawa Barat. Komoditas lokal itu dipilihnya lantaran menurutnya punya rasa yang khas dan kualitas yang baik. Dalam menjual, Marianus selalu memberikan pesan kepada mitra, agar meyakinkan konsumen bahwa Fantastic Sweet Corn merupakan camilan sehat.

Kendati pesaingan dalam jagung manis (Jasuke) ketat karena banyak pemain, menurut Marianus Jasuke meraih market share 50 persen di jagung manis sekaligus sebagai market leader.

Jumlah pemainnya pun kata dia sudah banyak dengan rasa jagung manis yang hampir mirip, membuat dirinya melakukan ragam inovasi agar sukses.

Menurut Marianus, faktor lokasi penjualan adalah salah satu kunci sukses yang penting tanpa mengesampingkan kualitas bahan baku, kemasan, serta kebersihan produk.

Adapun, lokasi yang paling baik menurutnya adalah di kawasan yang ramai seperti pasar, rumah sakit, sekolah, atau pusat perbelanjaan.

Saat ini, cabang Jagung Manis Fantastik yang ia kelola sendiri ada sembilan gerai yang berada di kawasan Jabodetabek, seperti di Bekasi, Cikarang, Cikeas.

Dia sengaja menyasar lokasi pinggiran tetapi mengambil lokasi strategis seperti di depan minimarket seperti di depan Giant, Hero maupun di area perumahan seperti Villa Nusa Indah.

Menurut Marianus, untuk mendapatkan lokasi itu biasanya tanya dulu ke kepala toko masing-masing apakah bisa menyewa , baru nantinya dilaporkan ke pusat. Faktor lokasi yang strategis itu, kata Marianus, membuat penjualannya terbilang tinggi, yakni rata-rata 1.800 cup per gerai per bulan.

Dengan harga jual sekitar Rp7.000 per cup, dari sembilan gerai jagung manisnya, Marianus bisa mengantongi omzet sekitar Rp113 juta setiap bulan.

“Keuntungannya terbilang lumayan, HPP satu cup sekitar Rp3.200 dan keuntunganya berarti Rp2.800 per cup,” terangnya.

Marianus mengaku saat ini fokus pada mitra gerobak dorong di Jabodetabek, Karawang, dan Bandung. Kedepan Marianus akan membidik kota Surabaya atau Medan, Kalimantan untuk ekspansi gerobak dorong. Ia menargetkan hingga 2020 nanti bisa memiliki 2.000 gerobak dorong.

Marianus mengaku, ia sudah mengembangkan konsep baru kemitraan memakai gerobak dorong sejak 2015. Adapun nilai paket kemitraan gerobak dorong sebesar Rp 64 juta. Dengan nilai tersebut, mitra akan mendapatkan lima gerobak dorong, peralatan lengkap, bahan baku jagung, termasuk lima pekerja di satu wilayah.

Ia tidak mengutip biaya royalti. Hanya saja, mitra harus membeli bahan baku jagung darinya. Selain itu, mitra juga harus menyiapkan mess dan menggaji karyawan.

Adapun laba bersih diprediksi mencapai 26% hingga 31% per bulan dari omzet. Ia memproyeksi dari lima karyawan per gerobak, bisa mendapatkan omzet antara Rp 75 juta–Rp 90 juta per bulan. Dengan pendapatan per bulan mencapai Rp 6-8 miliar.

Saat ini boleh dibilang, sukses berada dalam genggaman Marianus. Toh, keinginannya mengajak sebanyak mungkin orang menjadi pengusaha terutama anak anak muda NTT untuk menjadi pengusaha mandiri tidak pernah pupus. (kormensius barus/industry.co.id).

Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven + fourteen =