Kisah Penjual Obat Kuat dan Bima Arya

BALAI KOTA BOGOR – Tampak peserta Rakor dari Kabupaten Kupang dan Pemkot Bogor bergambar bersama di depan Gedung Balai Kota Bogor yang telah berusia ratusan tahun. Di gedung ini berkantor Walikota Bogor, DR. Bima Arya Sugiarto
KOTAMADYA Bogor di Provinsi Jawa Barat, tidak asing bagi saya. Dalam beberapa kali tugas jurnalistik atau tugas lain, saya sempat singgah di kota yang indah ini. Terakhir sempat mampir di Bogor tahun 2011, ketika menjalankan tugas jurnalistik di Bandung dan Lembang dalam rangka peliputan Hari Keluarga Nasional.
Ketika diminta meliput lagi ke Balai Kota Bogor bersama tujuh wartawan dari desk Pemkab Kupang dan staf Humas Pemkab Kupang, pekan lalu, saya bertanya-tanya dalam hati. Seperti apa Kota Bogor sekarang? Siapa itu Dr. Bima Arya Sugiarto, Walikota Bogor periode 2014 – 2019?
Sialnya, laptop saya rusak. Saya tidak bisa search di internet untuk mencari tahu siapa itu Bima Arya, Walikota Bogor yang terkenal itu. Saya juga tidak bisa mengandalkan ponsel Blackberry (BB) saya untuk mengintip profil Bima Arya di Wikipedia. Sebab belum sampai 5 menit, sudah ngos-ngosan dan layarnya mati sendiri. Maklumlah, ponsel BB saya kelahiran zaman batu.
Saya berharap di hotel nanti, bisa menggunakan komputer dan Wifi gratis. Namun tamu yang antri banyak. Belum lagi jaringan lola (loading lama). Gagallah saya mendapatkan informasi yang banyak tentang Dr. Bima Arya Sugiarto, Si Walikota Bogor yang populer itu.
Hari Kamis, 12 Mei 2016 siang, kami berada di Balai Kota Bogor, tempat Walikota Bogor, Dr. Bima Arya Sugiarto biasa berkantor. Gedung Balai Kota Bogor ini bersegi empat dan bercat putih terletak di Jalan Ir. Juanda Nomor 10, sekitar 600 meter dari Istana Bogor. Gedung ini dibangun pada tahun 1868 sebagai Kantor Karesidenan Belanda. Berarti usia gedung ini sudah 148 tahun dan masih terawat dengan sangat baik. Luar biasa!
Saya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan bila berjumpa dengan Bima Arya. Sayang sekali, selama 2,5 jam di gedung Balai Kota Bogor, ia tidak muncul. Yang datang cuma Sekda Kotamadya Bogor, Ade Syarif Hidayat. Walikota Bogor, Bima Arya dikabarkan sedang sibuk mengikuti acara di beberapa tempat.
Materi rakor yang disampaikan Kabag Humas dan Protokol Pemkot Bogor, Encep M. Ali Alhamidi, S.H, M.H, maupun Sekda Pemkot Bogor, Ade Syarif Hidayat, tidak seluruhnya saya serap dengan baik. Supaya tidak kehilangan materi rakor, saya rekam saja menggunakan ponsel.
Pasalnya, pikiran saya berada di ruang dan waktu yang lain. Di benak saya meloncat-loncat beberapa pertanyaan: bagaimana sih wujud Kota Bogor tempo doeloe? Siapa itu Bima Arya? Bagaimana sosoknya? Mau dia apakan Kota Bogor 5 tahun ke depan?
Memang Kabag Humas dan Protokol Pemkot Bogor, Encep M. Ali Alhamidi, S.H, M.H, maupun Sekda Pemkot Bogor, Ade Syarif Hidayat, sudah berupaya menggambarkan sekilas sosok Bima Arya. Tapi bagi saya belum cukup memuaskan. Apalagi sosok Bima Arya di ‘mata pejabat’ tentu yang digambarkan yang baik-baik saja. Bagaimana sosoknya di mata seorang wong cilik? Apa kata rakyatnya tentang pemimpinnya itu?
Kamis siang, saya pulang ke hotel di Jakarta dengan perasaan galau. Sebab informasi yang saya dapat tentang Bima Arya terlalu sedikit. Inginnya blusukan sendiri di Kota Bogor, mendengar sendiri warga Kota Bogor bicara tentang pemimpinnya. Sayang niat itu tidak tercapai karena harus mengikuti aturan protokoler. Maklum, saya mengikuti rombongan pejabat. Pergi dan pulang diatur sesuai jadwal.
Kamis malam, usai posting berita dan gambar ke kantor di Kupang, saya bergegas turun dari lantai 7 ke ruang lobby di lantai 1. Saya memutuskan besok pagi kembali ke Bogor. Entah pergi sendiri atau diantar teman. Saya harus mendengar sendiri cerita rakyat Bogor tentang sosok Bima Arya, pemimpinnya yang kharimatik itu. Saya akan menggunakan Commuter Line (kereta listrik) pagi hari. Transportasi massal yang murah dan merakyat.
Kenalan di Jakarta saya hubungi untuk urus tiket ke Bogor. Tapi ponselnya di luar jangkauan. Saya putuskan pergi mencari makan malam di luar. Nanti baru saya kontak lagi kenalan tersebut.
Oh ya, Hotel 88, tempat saya menginap di Kawasan Mangga Besar. Daerah ini dikenal ‘Kawasan Merah’ di Jakarta. Di sini ribuan pelacur, waria, geng narkoba, preman, begal, bandar judi dan copet berkeliaran 24 jam. Kawasan ini hidup 24 jam. Paling ramai di THR Loka Sari.
Yang unik di kawasan ini, warung makan dan warung penjual obat kuat hampir sama banyak. Penjual obat kuat menjual barang dagangannya secara bebas. Mereka menggunakan kios kecil, yang didirikan di pinggir jalan, di atas trotoar. Kios ini dibuka dari pukul 17.00 wita sore hingga pukul 05.00 pagi.
Di pintu kios terpampang jelas tulisan: DIJUAL OBAT KUAT. Ada juga yang menulis nama-nama obat kuat pakai tinta merah dan hitam di pintu kios. Mirip papalele di Kupang yang jual rokok di kios kecil di pinggir jalan.
Saya hitung ada 27 kios penjual obat kuat, mulai dari simpang Stasiun Kereta Api Mangga Besar hingga depan pintu THR Loka Sari. Itu baru lajur kiri. Saya belum hitung di lajur kanan, di seberang jalan. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala saja. Semakin tua dunia, tapi bisnis esek-esek tidak pernah lekang oleh waktu.
Saya hendak masuk warung bebek bakar. Di samping warung ada kios yang jual obat kuat. Saya urung masuk karena disapa seorang pria berkulit bersih dengan lagak sok akrab. Namanya Atong. Nama khas orang Sunda. Atong dari kata Atang. Dalam bahasa Sunda artinya: juragan. Jangan-jangan orang ini juragan atau mucikari di Loka Sari. Insting jurnalistik saya terusik.
Atong mengiyakan ketika saya tanya apakah berasal dari Kota Bogor? “Saya dari Desa Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah. Rumah saya cuma 200 meter dari Balai Kota Bogor. Itu anak gadis saya,” katanya sambil menunjuk seorang gadis cantik berambut lurus sedang sibuk melayani makan malam seorang pria. Di samping warung, seorang pria sedang membakar daging bebek.
Saya pesan nasi bebek bakar dan teh kental tanpa gula. Tapi saya tidak masuk ke dalam. Lebih senang ngobrol sama Si Atong. Obrolan belum 10 menit, ketahuan belang Si Atong. Ternyata benar ia juga mucikari, selain penjual obat kuat.  Ia menawarkan gadis-gadis di Loka Sari yang bisa dipakai. Ditunjukkan pula foto para gadis di grup BBM. Lengkap dengan no hape dan no pin. Saya menolak secara halus dengan alasan sedang ditunggui istri di kamar hotel.
“Sudah pernah ke Bogor? Sudah ke Balai Kota Bogor? Sudah ketemu Kang Bima, Walikota kami yang pintar itu?” tanya Atong kemudian,  berganti topik obrolan. Saya berbohong, bilang belum pernah ke Bogor apalagi ke Balai Kota. Dan kepingin sekali bertemu Bima Arya.
Si Atong pun berceritera kalau dulu ia pernah satu kampus dengan Bima Arya, di Fisip Universitas Pajajaran Bandung. Bima satu tingkat di atasnya. Sayang, Atong hanya sampai semester 3 karena ketiadaan biaya kuliah. Ia lebih banyak mangkal di Pasar Baru Bandung untuk berjualan baju dan sepatu dari pada berada di ruang kuliah.
“Kang Bima itu mahasiswa cerdas dan kritis. Sibuk di organisasi mahasiswa. Bakat memimpinnya sudah diasah sejak bangku kuliah,” cerita Atong dengan nada bangga soal pemimpinnya itu. Terbukti, lanjutnya, masih usia muda sudah meraih gelar Doktor di Australian National University. Dan akhirnya  terpilih jadi Walikota Bogor.
Atong juga bilang ia bergabung di Paguyuban Bogor, yang dipimpin Bima Arya. Paguyuban ini beranggotakan warga dengan latar belakang dan profesi beragam. Tujuannya ingin berbuat sesuatu bagi kemajuan Kota Bogor melalui profesi dan kerja kreatif.
Apa program kerja Bima Arya yang paling menonjol? “Dia usir ribuan PKL yang berjualan di pinggir jalan, yang sering mangkal di Jembatan Merah dan Pasar Bogor. Beking tentara dan uztad maupun habib dia sikat dan lawan. Sekarang Kota Bogor tidak macet lagi dan mulai bersih dan tertata bagus,” kisah Atong.
Diakui, ia juga tergusur dari Jembatan Merah dan terpaksa migrasi ke Jakarta dan berjualan obat kuat di Mangga Besar. Pagi sampai siang hari narik bajaj. Sore sampai tengah malam jual obat kuat.
Meski diusir dan kehilangan sumber penghasilan, Atong mengaku tidak dendam. Bahkan rasa hormatnya kepada Bima Arya semakin bertambah.
“Kota yang kumuh, kini bersih. Macetnya mulai berkurang. Taman-taman mulai dibenahi,” puji Atong. (Advertorial: Kerjasama dengan Humas Pemkab Kupang & Kodya Bogor/Bagian Pertama)
Laporan & Editor: Julianus Akoit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here