Jualan Teh Botol di Stadion GBK, Mantan Atlit Nasional Asal NTT Dikeroyok Security

Korban penganiayaan dan pengeroyokan, Ny. Martha Kase (41) adalah mantan atlet lari Nasional asal NTT (1980 – 2000). Ia sudah 20 tahun berjualan teh botol di sekitar Stadion GBK Jakarta, setelah pensiun dari atlit lari dan tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah. Ia terpaksa berjualan teh botol untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Ny. Martha Kase pernah meraih Medali Perak Sea Games 1997 dan 3 kali PON meraih emas untuk NTT.

Korban Ny. Martha Kase didampingi Eduardus Nabunome. Foto Ist.

HALAMANSEMBILAN, JAKARTA – Ny. Martha Kase (41), mantan atlet lari nasional asal NTT, dikeroyok belasan Security Gagak Rima (SGR) yang bertugas di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Sabtu (27/10/2018). Ia dikeroyok ketika habis mengikuti rapat bersama para mantan atlit di GBK dalam rangka persiapan Lomba Lari Marathon.

Kasus ini diungkapkan Eduardus Nabunome, juga mantan atlit lari asal NTT (peraih medali perak Olimpiade Seoul, Korsel 1988) dan Tobias Ndiwa, S.H, penasihat hukum korban dari Kantor Hukum TOV & Rekan, via email ke Redaksi Halaman Sembilan, Kamis (1/11/2018) sore.

“Korban sudah membuat laporan polisi di Polsek Tanah Abang dengan nomor LP : 0609/K/X/2018/Sek.TRO.TA,” jelas Ndiwa.

Tentang kronologinya, Ndiwa menjelaskan sebelumnya para security SGR itu melarang Martha Kase dan rekan-rekannya berjualan di sekitar Stadion GBK. Namun Martha Kase Cs, menolak. Alasannya sudah 20 tahun mereka berjualan teh botol di lokasi tersebut namun tidak ada larangan dari Pemprov DKI Jakarta maupun institusi Kemenpora RI.

Korban Martha Kase didampingi penasihat hukum melapor ke Polsek Tanah Abang. Foto Ist.

“Para personil SGR itu khan baru ditempatkan manajemen ketika ada perhelatan Asian Games dan Asian Paragames baru-baru ini. Jadi mereka belum mengenal korban dan aktivitasnya sehari-hari,” tambah Ndiwa.

Karena menolak larangan tersebut, tulis Ndiwa, Sabtu (27/10/2018) dini hari tiga mobil berisikan personil SGR datang mencegat Martha Kase Cs yang baru habis rapat persiapan lomba marathon. Mereka lalu mengeroyok Martha Kase Cs hingga babak belur. Mereka memukul pakai pentungan, diinjak-injak dan diseret bahkan nyaris ditelanjangi.

Para personil SGR itu juga berteriak-teriak dan mengeluarkan caci maki bernada rasis, “Mana itu Ambon. Hajar Ambon itu!” tulis Ndiwa mengutip pengakuan korban.

Korban langsung melapor ke Polsek Tanah Abang dan diarahkan untuk membuat visum ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Setelah mendapatkan hasil visum, korban kembali ke Polsek Tanah Abang namun diarahkan untuk kembali Minggu pagi guna diambil BAP-nya.

“Tapi ketika datang besok pagi, korban tidak dimintai keterangan untuk mengambil BAP. Justru polisi mengambil BAP dari para pelaku yang melapor balik, seakan-akan mereka yang jadi korban pengeroyokan. Korban pun pulang ke rumah karena sangat kecewa akan pelayanan diskriminatif polisi,” tulis Ndiwa.

Korban curhat kepada sesama mantan alit lari Nasional, Eduardus Nabunome. Setelah mendengar curhat Martha Kase, Nabunome menghubungi perkumpulan diaspora NTT di Jakarta untuk membantu. Lalu ditunjuk penasihat hukum untuk mendampingi korban dan rekan-rekannya selama kasus ini dalam proses hukum.

“Penasihat hukum sedang memfollow up kasus ini agar berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku,” pungkas Ndiwa.

Salah satu warga Kota Kupang, NTT, Pendeta Aner A. Runesi, meminta Pemprov NTT maupun warga diaspora NTT di Jakarta supaya mengawal kasus ini sehingga berjalan sesuai aturan yang berlaku.

“Sebab Ny. Martha Kase adalah pahlwan olahraga asal NTT. Ia telah berjasa mengharumkan nama NTT di dunia olahraga tingkat nasional maupun tingkat regional. Jangan tinggalkan dia sendiri dalam perjuangannya mencari keadilan hukum di negeri ini,” pinta Runesi. (*)

Laporan & Editor: Julianus Akoit