Galeri Puisi Penyair Emil dari Bogor

GITAR YANG BELUM MERASA TUA

Menyanyi,
melampaui waktu,
menjauhi benci,
melupakan tenar
menjahit luka,
kembali
ke dalam diri.

Bogor, 19 Juli 2016.

 

PERANG BATIN

Di balik awan gelap
bumi hangus,
seorang janda dan anak laki-laki
melarikan kenyataan
mati di depan mata.

“Aku tak ingin kau menggelap
kejam seperti para algojo itu.”

“Mama, mengapa kita takut dan lari?
Mengapa kita tidak melawan mereka ?”

“Engkau lahir dari kebenaran, lawanlah mereka
dengan mencintai hidupmu sepenuhnya.”

“Ayahmu telah mati dibunuh dalam kebenaran,
namun ia hidup menjagamu dengan cintanya.
Begitu pun dengan aku.”

“Mama, kupegang selalu tanganmu.”

Mereka telah menang
melawan perang batin.

Bogor, 25 Juli 2016

 


POHON SIRSAK DI RUMAH SAKIT

Setiap pagi
almarhum pohon sirsak
berdoa
kepada hujan
agar menari di pucuk-pucuknya.

Setiap senja,
ia berdoa
memohon surya
merenda
kristal hijau
di serat-serat daunnya.

Sekarang,
ia telah
bersemayam
di sebuah rumah sakit

Bogor, 15 Juni 2016

 


PUISI ADA

Menulis
puisi,
menyusup
ke dalam
serat-serat
batin,
memanggil
pulang
para perantau
kesepian.

Ada banyak cinta
di rumah.

Bogor, 11 Juni 2016

BIODATA

Emil (nama pena dari Emmelia), 45 tahun, lajang, Bogor.
Sajak-sajaknya pernah diterbitkan dalam antologi puisi MEMBACA KARTINI – Komunitas Joebawi (April 2016) ; SURAT TENTANG HARAPAN YANG ABADI – UNTUK AHOK (Juni 2017), THE FIRST DROP OF RAIN (ANTOLOGI PUISI BANJARBARU’S RAINY DAY LITERARY FESTIVAL – November 2017), EPITAF KOTA HUJAN – Antologi Puisi Temu Penyair ASEAN 2018 Forum Penggiat Literasi Padangpanjang (Mei 2018).