Galeri Puisi Agus Gunadin

ilustrasi

Manusia Mudik dalam Penyesalan

Senja melintas dalam hilir
Riwayat hidup berondel hanya sebatas dalam nyeru rindu
Tak mengetahui kompas hidup
Jika pintu telah tertutup dengan hati membeku
Mengempaskan gelak tawa,
lalu rindu ini terbuai dalam kabut pekat
Ditanyai
Sejak kapan berada, mengapa begitu, apa jadinya dunia!
Saat kehidupan manusia berkutat pada “Malum”
Tidak pantas untuk berada
Ini dunia menuntut segelintir kisah “Bonum”
Tinggalkan, segera….
Setitik jawaban
Arah berjalan sesuai harapan
bukan sekedar memojok dan dipojokan
Siapa yang salah?
Jangan lagi tanyakan pada Tuhan, atau pencipta cara berada
Bila manusia tak mengenal esensi kehidupan
Bahwa terlahir mengabdi kebenaran

Gnd: P,Cbl: 12 Maret 2018

ilustrasi

Bukan Gong Hanya Bergeming

Hidup adalah pemburuan
Yang sedang mengantar cerita-cerita dari nama
Dan membaca zaman yang sedang gelisah
Sedang tangisan penyesalan
Hanya mengikis butir-butir kelaliman
Kini, ketakutan mulai bergeming
Saat kita hanya sebagai penonton dalam bioskop
Lagi kita datang dengan pakaian necis dan pikiran melangit
Lalu, mencari tentang konsep
Politik yang validitas lagi sahih
Namun,,,
Pernahkah kita membawa sekujur harapan,
Membawa keyakinan mulai merakyat, tidak melemahkan dan memperbodoh masyarakat
Tentang
Politik jangan lagi berteori banyak tapi praksis dalam kebijakan
Rakyat telah lama terlelap dalam teori
Menjadi bosan pada teori abstrak
Mungkinkah?
Demokrasi tidak hanya mengadu dan melangitkan teori
Ini bukan barter, tapi soal nasib rakyat
Yang memonopolikan kekuasaan dengan sepeser uang
Tak pernah ada penyadaran diri
Bahwa kita sudah terlambat bertransaksi
“Tentang pembangunan belum merata lagi nasib rakyat tertata”

Gnd: Maumere, April 2018

ilustrasi

Pemimpi Atau Pemimpin

I
Meski genang telah menghilir ke seberang
Tapi mata ini masih saja tergelincir pada jemari tenang
Meski suara menggunakan pengeras, berkomentar lewat saran
Rasanya kritikan dan usulan untuk lembaga, justru meninahbobokan nafas panjang
Telah kami lalui pada jalan panjang
Lewat hentakan tertulis pun lalu menuang dalam lembaran kanfas
Terlihat tergesit, namun malah mendiamkan
Ataukah watak Apatis, memang sebagai karakter pemimpin

II
Sekian lama detak jantung hanya mengela nafass
Saat corong kami masih terninahboboh
Katanya “Sibuk kerja, lantas berlibur ke Negeri seberang”
Kami percaya bahwa Bapa itu pemimpin bukan pemimpi
Yang hanya bertajuk mimpi
Melepas ide pemimpi demi kebijakan terpimpin

San Camillo, 20 April 2018

Penyair: Mahasiswa semester V STFK Ledalero dan bergiat Sastra di Rumah Formasi Kamilian-Maumere