Ferdinan Gantung Diri Karena Tak Kuat Bayar Denda Adat Usai ‘Ukur Badan’ dengan Istri Orang

“Hari Selasa pagi (5/2/2019), dia dan istrinya dihadapkan dalam sidang adat di Kantor Desa Benus. Ia didenda Rp 2,5 juta karena kepergok ‘ukur badan’ dengan orang punya istri. Mungkin karena tidak punya uang, dia pilih gantung diri. Lengkapnya, coba tanya polisi saja,” jelas Sintus Kolo, melalui telepon genggam, Rabu (6/2/2018) malam.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Ferdinandus Nikin Kota Alias Frid, memilih gantung diri di Pohon Asam dengan tali jemuran, Rabu (6/2/2019) pagi, karena tak kuat membayar denda adat sebesar Rp 2,5 juta.

Warga Dusun Saisen, RT 006 RW 002, Desa Benus, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara ini, diperintahkan untuk segera membayar denda adat karena kepergok ‘ukur badan’ dengan istri orang di desa tersebut.

“Hari Selasa pagi (5/2/2019), dia dan istrinya dihadapkan dalam sidang adat di Kantor Desa Benus. Ia didenda Rp 2,5 juta karena kepergok ‘ukur badan’ dengan orang punya istri. Mungkin karena tidak punya uang, dia pilih gantung diri. Lengkapnya, coba tanya polisi saja,” jelas Sintus Kolo, melalui telepon genggam, Rabu (6/2/2018) malam.

Kapolres TTU, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto, yang dikonfirmasi via WhatsApp, membenarkan kejadian tersebut.

“Anggota sudah evakuasi mayat korban untuk dibawa ke RSU Kefamenanu,” tukasnya.

Tentang motif bunuh diri, Kapolres TTU menduga karena korban tidak mampu membayar denda adat karena kepergok tiduri istri orang.

“Mungkin karena malu berat dan tidak mampu bayar denda adat, makanya dia bunuh diri. Kasus ini masih diselidiki untuk diketahui duduk persoalannya,” tandasnya.

Tentang kronologi, Kapolres TTU menuturkan, Selasa (5/2/2019) pagi, korban ditemani istrinya dihadapkan dalam sidang adat di Kantor Desa Benus. Ia disidangkan karena kepergok tiduri istri orang. Sidang adat memutuskan korban harus membayar denda adat Rp 2,5 juta.

“Karena tidak membawa uang yang cukup, korban dan istrinya dipersilahkan pulang ke rumah untuk menggenapi uang denda adat yang masih kurang itu. Deadlinenya jam 11.00 witeng siang, harus kembali ke Kantor Desa Benus untuk menyetor uang denda adat,” jelas Kapolres TTU.

Korban meminta izin istrinya untuk pergi ke Desa Sunsea, guna meminjam uang pada kerabatnya yang bernama Antonius Kolo. Namun hingga malam hari sampai pagi esoknya, korban tidak pulang rumah.

“Lalu istri korban dan dua anggota keluarga lainnya mencari di sekitar rumah. Sebab curiga ada tali nilon yang dipakai untuk menjemur pakaian hilang sekitar 5 meter. Tidak jauh dari rumah, di sebuah Pohon Asam, korban ditemukan istrinya sedang tergantung di seutas tali nilon warna putih dan sudah meninggal dunia,” jelas Kapolres TTU. (ade)

Editor: Julianus Akoit