Dua Tahun Jadi Kades, Arkilaus Beli Truk, Sapi dan Bangun Kios

“Saya menjabat sebagai kepala dusun dan lahir besar di Desa Tubmonas. Jadi tahu duduk berdiri kades dan keluarganya. Bukan iri, tapi kepemilikan aset-aset seperti truk, sapi paron beberapa ekor, serta bangun kios besar itu, duitnya dari mana? Kalau harap gaji dan tunjangan kepala desa, saya dan semua warga desa tidak percaya. Apalagi baru jadi kades 24 bulan. Itu diduga hasil korupsi,” jelas Robby menduga-duga.

SOE, HALAMANSEMBILAN.COM – Baru saja menjabat sebagai Kepala Desa (Kades) Tubmonas, Kecamatan Kuatnana-Kabupaten Timor Tengah Selatan, Arkilaus Sae sudah bisa membeli truk, beli sapi paron beberapa ekor dan membangun kios kelontong yang cukup besar di kampungnya.

“Karena curiga itu hasil korupsi dana desa dan dana Bumdes, makanya hari ini kami datang mengadu ke jaksa di SoE,” jelas Robby Snae, yang menjadi jubir dari utusan delapan warga Desa Tubmonas, usai bertemu Maurits Kolobani, S.H, Kasi Intel Kejari SoE, Senin (4/2/2019) siang.

“Saya menjabat sebagai kepala dusun dan lahir besar di Desa Tubmonas. Jadi tahu duduk berdiri kades dan keluarganya. Bukan iri, tapi kepemilikan aset-aset seperti truk, sapi paron beberapa ekor, serta bangun kios besar itu, duitnya dari mana? Kalau harap gaji dan tunjangan kepala desa, saya dan semua warga desa tidak percaya. Apalagi baru jadi kades 24 bulan. Itu diduga hasil korupsi,” jelas Robby menduga-duga.

Karena isu korupsi dana desa dan Bumdes itu kian kencang bertiup, lanjut Robby, ia dan tujuh warga lainnya diutus para tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk bertemu jaksa dan meminta dilakukan penyelidikan agar bisa diperoleh titik terang dari masalah tersebut.

“Saya ambil contoh. Dana Bumdes per tahun Rp 150 juta. Tapi tidak pernah ada kegiatan apapun juga. Lalu uangnya kemana?”, tanya Robby heran.

Berikutnya pekerjaan yang bersumber dari dana desa, misalnya pembangunan jalan sertu sepanjang 1.500 meter, namun dikerjakan asal jadi. Berikutnya pekerjaan tembok penahan tebing, juga dikerjakan asal jadi dan item pekerjaannya tidak rampung. Termasuk proyek pembangunan embung-embung yang dikerjakan asal jadi.

Telepon genggam Kades Arkilaus tidak aktif ketika wartawan hendak mengkonfirmasi kasus tersebut kepadanya. Ditelepon berkali-kali tidak ada tanggapan. (*)

Editor: Julianus Akoit