Cerpen: Saat Kisah Jadi Dikenang

 

Karya Agust Gunadin

Seperti kopi yang debunya menyigi malam dan bermimpi seperti kepulan asap yang disesap harap supaya menghilangkan rasa sepi dan kantuk pada malam. Demikian juga kisah kami di kota dingin yang selalu berharap untuk selalu dikenang”

 

KENANGAN adalah cara kita menjinakkan masa lampau. Kaki tangan memori. Sepotong bibir yang kita simpan untuk bercerita di suatu kesempatan nanti. Entah kapan! Dan bila saat itu tiba, seringkali kita sulit untuk percaya. Sebab ada banyak hal yang telah berubah. Sehingga orang bahkan perlu memastikan. Ini kamu ya? Segera saja dijawab, Ia, masa hantu. Tetapi orang bahkan masih perlu memastikan lagi. Sungguh? Mana buktinya? Lantas bisa jadi dicarilah tentang sebuah kenangan!

Seolah tak percaya, demikian suatu sore, di kota yang telah dibencak dingin, kami sibuk dengan sebuah bukti. Kami melihat kembali kumpulan surat yang pernah kami tulis di ujung cerita masa musa saat SMA penuh bercerita. Di kota yang sedang tumbuh kehadiran para pelancong untuk mengisikan kesempatan berlabuh di pulau Komodo. Namun ide bukan kritik tapi hanya sekedar mengkritisi bahwa gara-gara tempat paradiso ini banyak warga lokalnya pelan-pelan tersingkir ke tepian kota pariwisata. Banyak tanah dijual ke pemodal untuk suatu saat nanti orang lokal menjejali pinggir-pinggir kali. Sejenak lupakan kota itu.

Saat itu kami masih lazim surat-menyurat. Hand phone belum sebanyak sekarang. Pada surat pertama kami tak pernah lupa menyertakan biodata. Nama lengkap, sapaan, mikes (minuman kesukaan), makes (makanan kesukaan), hobi dan sederetnya disertakan. Yang juga tak pernah dilupakan ialah TTL (tempat tanggal lahir). Kesanya memang sangat administratif, pake TTL segala. Tapi ini sebuah kearifan. Tertib administrasi ‘cinta’.

Itu tahap pertama. Setelahnya ada surat-surat yang menyusul. Isinya bisa berupa puisi. Curahan rasa kangen yang dibiarkan terlihat pada selembar kertas. Ada juga perjumpaan-perjumpaan kecil setelahnya. Saat itu kami tak menyebutnya kencan. Kami cukup menyebutnya, berkuncar. Rasanya setiap pertemuan tak pernah cukup untuk menumpahkan rasa rindu. Selalu ada yang tak terucap oleh bibir yang lalu kami sampaikan dalam kata. Lantas lahirlah surat.

Surat menjadi cara kami menampung segala yang luput dari percakapan. Tengah malam, lepas dari jangkauan pamong asrama, ada saja yang menyalakan lilin di suatu pojokan. Orang mengayun pena, menulis surat untuk sahabatnya (hmm kadang kami menyebutnya pacar).

Cerita sore itu, memisahkan kami untuk mengemas diri masing-masing, bersatu hanya lewat cerita tentang doa, karena gaib doa telah mengantar kehidupan saya dalam melayani Tuhan. Dan untuk pertama kalinya saya berani menulis cerita itu dalam bentuk puisi. Goresan puisi untuk mengingat dan melupakan.

Kadang ia hanya menyalin dengan lebih apik dari buraman yang dibuatnya pada jam belajar. Lilin yang bernyala itu akan padam setelah lembar-lembar surat itu diselubungi amplop. Lembar-lembar itu dilipat dengan teknik origami yang canggih. Setelah dilipat, surat itu digosok-gosok dengan kertas mandom. Wangi yang dibiarkan semerbak di balik amplop akan segera menyapa dia yang akan membacanya. Surat dibuka, semerbak wangi tercium. Rindu pun mekar.

Ada yang selalu siaga mengantarkan surat itu. Juga ada yang akan mengantar pulang balasannya nanti. Dia diberi gelar jembatan. Di masa kami cukup banyak surat yang kandas di jembatan. Dan kerap kali bukan surat balasan yang nantinya diterima. Tetapi jawaban singkat, dia tida terima e! Lantas ada saja yang membuang sisa “kertas surat”nya ke tempat sampah. Kertas surat adalah frasa yang kerap kami gunakan saat itu untuk menyebut lembaran kertas yang memang khusus untuk menulis surat (cinta). Pemilik toko di depan asrama kami sangat mengerti dengan kebutuhan kami. Mereka menyediakannya dalam aneka rupa pilihan warna dan gambar.

***

Tentang saya dan seseorang. Kami punya cara berbeda untuk memudahkan dokumentasi surat-surat. Kami surat-menyurat lewat mengisi secara bergantian sebuah binder yang agak kusam. Kami mencari yang berbeda dari sekadar ‘kertas surat’. Jembatan tetap mengantar binder itu. Dia tidak mungkin mengintip isinya karena didahului janjian untuk bergantian sebagai jembatan penyambung surat. Lagi pula yang melanggar janji itu akan disingkirkan sebagai jembatan dan tidak layak disebut sebagai teman setia. Hanya

Sore itu, dia bergidik ketika membaca kembali salah satu surat yang saya tulis di binder itu. Kata pembuka untuk orang yang menjadi pemula berpacaran, biasanya langsung dengan sentuhan kalimat I love you forever dan I dont forget you diks! Gombal di akhir sebuah surat. Di pojokan paling bawah surat itu ada sepenggal penanda waktu.

SMANSA CIBAL, di Kemarau Juni 2014. Dekat dengan sepotong waktu matematis itu tertera sebuah kutipan. “Bagi mereka yang mencintai, waktu itu abadi”. Saya tak lagi ingat persis darimana kata-kata itu saya comot.

Tiga tahun berpisah. Tiga tahun hilang kabar. Kami kebetulan bertemu di kota dingin. ketika sama-sama telah bergelar sarjana tahun 2017. Saat itu, kelesuan dingin menyigi busanaku. Rerumputan pun kaku, kehijauannya pun begitu kaku ketika ingin ditatap oleh para pejalan. Jika saja kamu di sana saat itu, matamu akan menangkap segalanya yang tidak bertahan dingin. Warna kehijauan muda rerumputan, menyela di antara trotoar yang tidak berbasis ekologis, menampakkan warna hitam kecoklatan akibat tidak dijaga dengan baik oleh orang kota apalagi masyarakat biasa. Kami bertemu di penghujung kemarau yang panjang tahun 2017.

Kami sepakat bertemu di sebuah kafe. Seingat saya Kafe Woleng Salang. Kami tak punya banyak waktu untuk membahas isi binder secara keselurahan, pada kisah abu-abu. Kami lebih senang berbincang lepas, berganti tema. Tentang kuliah yang baru rampung. Kami berbagi cerita tentang lelahnya menunggu panggilan untuk masuk kerja di penghujung tahun.

Percakapan kami mengalir bagai air. Cipiki-cipika di awal perjumpaaan seperti membuat kami tak sungkan berkisah. Kami tumpahkan semuanya hingga akhirnya kami harus kembali berpisah di ujung senja saat gelap mulai merayapi Golo Lusang, sebuah bukit yang cukup tinggi d kota dingin.

Di Kota dingin ini saya mampir semalam saja. Saya hanya memiliki satu sore untuk bertemu dengannya di kota ini. Saya dalam perjalanan menuju Maumere sebagai tempat sandaran hidup saya untuk mengabdi di ladang Tuhan. Kami keluar dari angkot yang mengantar kami dari kafe itu. Setelah itu kami menempuh jalan sendiri-sendiri. Ia menuju rumah mama kecilnya di Nekang. Di sana, ia menetap selama menjalani studi di kota dingin. Saya mengarahkan tukang ojek ke tempat penginapan di Langgo rumah Formasi Ordo Camilians. Saya sempat berpikir ke arah lain ketika tukang ojek menawarkan rute yang lain menuju Langgo.

***

Malam itu saya diganggu oleh perjumpaan di kafe itu. Perjumpaan itu menjelma kunci yang menguak habis isi binder kenangan. Semuanya datang mengganggu tidur malam. Saya tak mudah melepaskan ingatan ketika duduk minum kopi bersama di kafe itu. Sampai-sampai kami bercanda lepas tidak memikirkan orang di sekitar kafe itu.

Masihkah suatu saat nanti kami tiba lagi di kota ini dan mengulangi lagi canda-tawa seperti itu! Batinku mendesak. Ingin rasanya kisah sore itu tak pernah hilang dalam ingatanku, namun batas otakku tak memadai untuk meramunya.

Hati kecilku selalu berujar bahwa sesungguhnya kenangan itu milik kami berdua. Dan selalu saja adrenalinku berbisik, barangkali ada jejak yang tertinggal, membekas di kota itu, tapi sekaligus saya sadar itu sebuah kekonyolan. Sebab sebuah kenangan tak ada yang berwujud kekal. Dinginnya kota Ruteng membuat mata berkedip dan berusaha menemukan selimut tebal di rumah penginapan malam itu dan akhirnya bayangan wajahnya mampu disenyap empun malam saat kota dingin memanjakan dirinya.

Ada satu hal yang membantu saya memejamkan mata malam itu tentang sebuah pengalaman yang telah terdefinisi dalam otakku saat masih berkelakar dengan bapa epistemologi bahwa jejak sang Seseorang yang telah mengopi bersama di kafe itu sesungguhnya mengabadikan langkah saya untuk selalu mengenang sebuah kenangan.

Sekaligus keindahan parasnya terus terbayang menjadi sosok yang sungguh ada saat itu, namun berharap akan terus berlanjut sampai kini. Saya pun bertekad suatu saat nanti, di kota ini juga, saya masih diberi kesempatan bertemu dengannya. Dan yang lebih pentingnya lagi, saya telah dicecap harap masa lalu bahwa menjadi pelayan kebun Anggur.

Pada saat itu, harapan saya Ia telah menemukan pasangan yang cocok untuk hidup berkeluarga layaknya keluarga Nazaret. Pergumulan itu pun terus saya jaga sampai bertahun-tahun dan akhirnya entah dengan mantera apa, Saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan sosok itu.

Pertama-tama ia heran, “Ko sendiri?”.

Saya belum menjawab ketika ia menunjuk, “Inikah jejakmu. Dulu dan sekarang sama saja, tidak ada yang berbeda, seorang diri yang belum mampu menemukan pasangan.”

Saya terkekeh dengan ocehannya itu dan berusaha menjawab “Ini memang suatu rencana Tuhan dalam diri saya bahwa selama-selamanya saya seorang diri saja, karena sesungguhnya saya telah dipilih dan dipagari untuk melayani Tuhan dan orang yang membutuhkan bantuan untuk dilayani”.

Mungkin Ia mengerti perkataan itu, lalu membalasnya dengan senyuman manis dan berguman “Oh…Berarti engkau telah menjadi Imam dan kini saatnya untuk menjadi selibat, Aku hanya berpesan jangan jadikan janjimu sebagai ocehan semata atau penghianat atas dirimu sendiri. Tetapi jadikan seutas tali di pinggangmu untuk mengikat engkau dalam berhasrat dengan dunia luar dan menahan godaan duniawi yang semakin menelanjangkan diri untuk digoda”.

Kata-katanya yang keluar dari bibirnya terasa pedas namun menguatkan saya untuk tetap berlanjut meniti panggilan Tuhan.

Cerita sore itu, memisahkan kami untuk mengemas diri masing-masing, bersatu hanya lewat cerita tentang doa, karena gaib doa telah mengantar kehidupan saya dalam melayani Tuhan. Dan untuk pertama kalinya saya berani menulis cerita itu dalam bentuk puisi. Goresan puisi untuk mengingat dan melupakan.

Kami berpisah di bundaran itu saat pendar lampu jalan mulai berbinar. Kami menempuh jalan masing-masing. Ia kembali dengan pasangannya sedangkan saya pulang dengan kisah dan mulai bergulat untuk hidup selibat namun harus terlibat di tengah masyarakat.

San Camillo, Maret 2018.

Agust Gunadin, Pengagum Sastra dan Pegiat Kata di San Camillo.