Buitenzorg dan Mimpi Tentang Taman Eden

BERTUKAR CINDERA MATA – Sekda Kabupaten Kupang, Drs. Hendrikus Paut, M.Pd, dan Sekda Kotamadya Bogor, Ade Syarif Hidayat bertukar cindera mata disaksikan Kabag Humas dan Protokol Kotamadya Bogor Encep M. Ali Alhamidi, S.H, M.H, dan Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Kupang, Stefanus Baha, S.Sos. Saling bertukar cindera mata usai digelar Rakor dan Konsultasi Masalah Kehumasan dan Kerjasama dengan Media Massa di Bogor Green Room, Balaikota Bogor, dua pekan lalu
PADA masa penjajahan Hindia Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (pengucapan: boit’n-zôrkh”, bœit’-) yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”.
Disebut demikian karena pada masa itu, di Bogor dibangun sebuah istana untuk peristirahatan Gubernur Jenderal Belanda dari Batavia (Jakarta). Kini istana peristirahatan itu dinamakan Istana Bogor. Setiap akhir pekan, Kota Bogor menjadi tempat bagi Gubernur Jenderal Belanda dan keluarganya untuk refreshing. Kota Bogor menjadi tempat melepas penat dan meninggalkan semua kesibukan, membuang rasa cemas akibat diburu setumpuk pekerjaan di ibukota Batavia.
Hingga kini Kota Bogor memang menjadi pilihan untuk refreshing. Udaranya sejuk dan bersih, banyak taman dan pepohonan. Kini ada Kebun Raya Bogor, yang juga dibangun sejak pemerintahan Hindia Belanda. Hampir setiap pagi dan sore terjadi hujan. Karenanya juga disebut Kota Hujan.
Tanggal 3 Juni lalu Kota Bogor merayakan hari lahirnya ke-534. Karena  tanggal 3 Juni 1482 merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran. Ibukota Kerajaan Pajajaran ini, di sekitar Batutulis (Bogor) sekarang.
Sejak dilantik tanggal 7 April 2014 lalu, Bima Arya dan pasangannya Usmar Hariman, telah mensosialisasikan visi dan misinya. Visinya menjadikan Bogor sebagai kota yang nyaman, beriman dan transparan.
Sedangkan misinya menjadikan Bogor kota yang cerdas dan berwawasan teknologi informasi dan komunikasi. Berikutnya, menjadikan Bogor kota yang sehat dan makmur. Selanjutnya menjadikan Bogor kota yang berwawasan lingkungan.
Kemudian menjadikan Bogor sebagai kota jasa yang berorientasi pada industri pariwisata dan industri kreatif. Mewujudkan pemerintah yang bersih dan transparan. Dan terkhir mengokohkan peran moral agama dan kemanusiaan untuk mewujudkan  masyarakat madani.
Kemana pun pergi, Bima Arya dan pasangannya selalu mendengungkan slogannya, yaitu ‘Bogor Bisa’. Slogan ini menjadi pelecut semangat untuk merealisasikan visi dan misi kerjanya. Yakni Bogor Bisa Transparan, Bogor Bisa Bersih dan Sehat, Bogor Bisa Teratur, Bogor Bisa Makmur dan Bogor Bisa Kreatif.
Ada hal paling menonjol yang dikerjakan Bima Arya, yakni menjadikan Kota Bogor bersih dan sehat serta teratur.
Dalam dua dasa warsa terakhir, Bogor telah berkembang secara tidak terkendali menuju ciri-ciri kota metropolitan. Kemacetan di mana-mana, PKL berjualan di badan jalan, taman-taman kota semrawut dan kotor.
Persoalan ini yang kini dibenahi terus-menerus oleh Bima Arya. Sejumlah taman kota diperbaiki dan direnovasi. Ada bangku taman untuk pengunjung beristirahat. Hasilnya, baru dua tahun memimpin, banyak orang telah memberikan julukan: Bogor Kota Sejuta Taman.
Ada 12 taman indah di Kota Bogor. Di sini warga Jakarta maupun warga Kota Bogor sendiri melepas penat. Berwisata bersama keluarga dan kenalan. Pertama, Taman Air Mancur. Taman ini baru selesai direnovasi tahun 2015. Selain sebagai taman, juga menjadi ikon dan cagar budaya Kota Bogor.
Kedua, Taman Perlintasan Bogor. Taman ini menjadi ajang selfie bagi pengunjung dari luar. Sebagai kenang-kenangan. Ketiga, Hutan Kota Ahmad Yani. Meski disebut hutan kota, namun banyak orang menyebutnya taman. Letaknya di Jalan Ahmad Yani. Keempat, Taman Kencana, dibangun tahun 1927 – 1930. Di sini fasilitas sebagai taman lengkap dan indah. Kelima, Taman Peranginan, bentuknya tidak terlalu luas. Namun di sini ada fasilitas berupa bangku taman bagi pengunjung dan ruang beraktifitas bagi pengunjung.
Keenam, Taman Skateboard. Tempat ini menjadi arena bermain skateboard (sepatu roda) bagi anak-anak dan remaja. Ketujuh, Taman Astrid, merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor. Tapi dianggap sebagai taman tersendiri. Delapan, Taman Teijman, juga merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor.
Sembilan, Taman Heulang. Lokasinya di Jalan Heulang. Dilengkapi jalan setapak, bangku-bangku taman dan saung beratap. Menjadi tempat favorit bagi keluarga untuk bersantai. Sepuluh,  Taman Malabar. Taman ini letaknya cuma 100 meter dari pintu gerbang Kebun Raya Bogor dan tersembunyi akibat terhalang bangunan hotel dan plasa. Persis di depan Rumah Sakit PMI atau di sebelah Pangrango Plasza. Taman ini sepi namun menjadi pilihan bagi muda-mudi untuk berkencan.
Sebelas, Taman Ekspresi, letaknya di Kawasan Sempur. Dibuat menyerupai panggung. Di sini orang sering mementaskan teater terbuka, acara kesenian dan budaya. Ada tempat duduk buat penonton. Dua belas, Taman Coret-Coret. Selesai dibangun awal 2016. Taman yang disediakan untuk mengurangi aksi vandalisme yang sering mengotori wajah kota. Anak dan remaja boleh coret-coret di wadah yang disediakan. Silahkan berekspresi di sini.
Selain punya puluhan taman kota, juga ada sedikitnya 27 taman kuliner di Kota Bogor. Warga dari luar maupun warga Kota Bogor sendiri sering ke situ untuk menikmati makanan dan minuman khas Kota Bogor. Tinggal pilih saja, mau dari harga kaki lima atau  harga bintang lima, semua tersedia di situ. Tinggal sesuaikan dengan kantong Anda.
Yang sangat mengesankan, adalah sekalipun taman-taman itu dipenuhi warga, tapi selalu bersih dan rapi. Anda tidak akan menjumpai satu pun puntung rokok atau bekas botol air mineral yang berserakan di sana. Benar-benar bersih dan sehat.
Lalu bagaimana dengan di Oelamasi, Kabupaten Kupang? Bisakah Oelamasi menjadi seperti Bogor? Apa yang bisa dibuat Humas dan Protokol Kabupaten Kupang sebagai ‘juru bicara’ pemerintah dan juru penerang bagi masyarakat?
Sekda Kabupaten Kupang, Drs. Hendrikus Paut, M.Pd dan Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Kupang, Stefanus Baha, S.Sos, dan anak buahnya berkali-kali mengungkapkan rasa kagum terhadap Bima Arya dan jajarannya.
Sebab bisa menggunakan kekuatan media massa dan teknologi digital untuk menyebarluaskan informasi pembangunan yang digalakkan Pemkot Bogor. Bahkan bisa memancing partisipasi masyarakat dan komunitas warga dalam membangun Kotamadya Bogor.
“Kabupaten Kupang juga bisa seperti Kotamadya Bogor. Dengan memaksimalkan potensi lokal dan komponen masyarakat yang ada. Tentunya disesuaikan dengan adat dan budaya setempat,” kata Paut didukung Baha di Bogor Green Room, Balaikota Bogor, saat Rakor di Bogor, bulan Mei 2016 lalu.
Soal pemasangan CCTV di sejumlah fasilitas umum dan tempat pelayanan umum, Paut mengatakan keinginan itu ada. Meski mungkin masih jauh.
“Yang paling mendesak, saya akan pasang CCTV di depan pintu gerbang Civic Center, setelah pagar keliling selesai dibangun. Saya akan pantau staf yang terlambat masuk kantor maupun staf yang menghilang sebelum jam pulang kantor,” jelas Paut.
Untuk saat ini, ‘blusukan digital’ belum bisa diterapkan oleh Pemkab Kupang mengingat keterbatasan dana dan SDM. Namun inspeksi mendadak (sidak) dan kunjungan kerja (kunker) untuk menemui staf dan warga masyarakat diperbanyak dan diperkuat intensitasnya.
“Apel kekuatan, rapat kerja dan monitoring dan evaluasi terus diperbanyak. Sehingga etos kerja dan semangat pelayanan kepada masyarakat dapat ditingkatkan dan diperkuat,” kata Paut.
Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, lanjutnya punya semangat tinggi untuk blusukan di desa, dusun dan kampung terpencil. Jarang ada bupati di NTT yang kerap tidur di alam terbuka, di tepi hutan, di ladang dan pondok warga. Tapi ini sudah dilakukan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki selama 7 tahun terakhir.
“Itu semua dilakukan Pak Titu Eki agar bisa menyampaikan pesan pembangunan maupun program kerjanya. Dengan menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu, Red) Timor, Pak Titu Eki bisa menyentuh hati, rasa, pikiran dan karsa. Ia juga bisa menjadi pendengar yang setia, bisa memahami keinginan dan aspirasi orang tua di kampung-kampung. Ini keunggulan blusukan tradisional dibandingkan dengan menggunakan metode blusukan digital,” jelas Paut didukung Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Kupang, Stefanus Baha, S.Sos.
Soal pelestarian alam dan penyelamatan lingkungan hidup, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki sudah memulainya selama tujuh tahun terakhir.
Program Tanam Paksa dan Paksa Tanam menjadi yang paling favorit dari sejumlah program di Kabupaten Kupang. Sudah jutaan anakan pohon dan tanaman komoditi umur panjang yang bertebaran dari halaman rumah warga hingga kebun dan ladang.
Para PNS diwajibkan menanam di halaman kantor. Satu PNS wajib tanam satu pohon. Civic center Oelamasi mulai menghijau oleh pohon-pohon.
Kini Titu Eki mewajibkan setiap sekolah membuat kebun sekolah. Sejak awal tahun 2016 Titu Eki mewajibkan setiap desa membuat kebun desa atau disebut Taman Eden minimal seluas 2 Hektar. Di Taman Eden ini, warga desa bisa bercocok tanam aneka sayuran, buah dan tanaman palawija. Kemudian dijual bagi kesejahteraan warga itu sendiri.
“Saya bermimpi kelak akan ada 160 Taman Eden di Kabupaten Kupang, sesuai dengan jumlah desa di Kabupaten Kupang. Silahkan menggunakan sedikit dana desa untuk membuat Taman Eden,” pinta Titu Eki.
Mimpi Titu Eki ini, kini mulai direspons beberapa desa. Misalnya di Desa Baumata, sudah ada Taman Eden seluas 2 hektar lebih. Warga desa setempat menanaminya dengan aneka sayuran, buah dan palawija. Warga menjual hasil Taman Eden ke Kota Kupang.
“Dalam sebulan lebih dari 30 juta dipanen oleh warga dari Taman Eden. Coba kalikan dengan 160 desa. Berapa uang yang diraup warga? Ini mimpi saya tentang Taman Eden di Kabupaten Kupang. Manfaatnya, selain untuk pelestarian lingkungan hidup juga untuk mendongkrak perekonomian warga desa setempat,” papar Titu Eki.
Ia juga melarang warga desa menjual lahan kepada pengusaha dari kota. Lahan boleh disewapakaikan atau dikontrak tetapi tidak boleh dijual.
“Biar dari lahan itu warga bisa hidup. Biar ada kehidupan yang lebih layak dari potensi tanah yang ada. Biar dipakai untuk membangun Taman Eden,” pungkas Titu Eki. (Advertorial: Kerjasama dengan Humas Pemkab Kupang & Kodya Bogor/Bagian Terakhir)
Laporan & Editor: Julianus Akoit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here