Ahok dan Vero, Manusia Biasa…

MESRA – Ahok dan Veronica Tan tampil mesra di HUT Perkawinannya yang ke-20, baru-baru ini. Foto: Repro

TAHUN ini diawali dengan berita mengejutkan dari Basuki Tjahaja Purnama dan Veronica Tan, yang selama ini menuai banyak simpati sebagai pasangan yang serasi dan saling mendukung dalam menjalani kehidupan yang penuh cobaan

Caci maki, gosip, bully-an yang ditambah sekilo micin menjadi bahan pembicaraan mulai warung kopi hingga cafe elite di hotel berbintang 5.
Kabar ini menjadi sangat menggegerkan, karena tak ada seorangpun yang menduganya.
Tak seperti waktu Ahok akan ditahan, yang sudah terbaca dari jauh-jauh hari.

Pantaskah kita menghakimi mereka?
Apakah ini tulisan pembelaan dari seorang Ahoker?
Bukan.
Ini tulisan dan opini dari kacamata seorang istri dan ibu rumah tangga biasa

Dari dulu aku sering membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga seorang pelayan masyarakat yang mewakafkan dirinya di Ibu Kota yang sadis ini

Waktu yang sangat terbatas, dibagi untuk bermacam hal.
Sering aku membayangkan bagaimana menjadi seorang Veronica Tan.
Seorang istri yang berbagi suami dengan jutaan orang.
Semua warga Jakarta merasa memiliki Ahok.
Hal remeh-temeh sampai hal besar mangadunya pada Ahok

Mungkin Veronica Tan menghadapi masalah yang lebih kompleks dari warga yang mengadu pada Ahok.
Tapi dia harus berusaha menyelesaikannya sendiri.
Karena dia berbagi suami dengan jutaan orang

Dari ABG, ibu rumah tangga, janda semok sampai nenek renta berebut memeluk suaminya.
Aku menyaksikan bagimana sulitnya mencegah ibu-ibu untuk tidak mencium Ahok.
Saat blusukan di gang sempit Cengkareng, ibu-ibu menunggu Ahok dengan satu tekad: mau cium Ahok.
Saat kubilang Pak Ahok punya Bu Vero, gerombolan ibu-ibu itu tetap pada pendiriannya, “mau cium Ahok”

Ahok melebihi seorang rock star.
Tak ada nenek-nenek yang ingin mencium Ariel ataupun Kaka Slank.
Bahkan saat kondangan pun mempelai wanita memilih menggandeng Ahok tepat di depan mempelai pria.
Veronica Tan mungkin sudah cuek akan hal itu.
Tapi bagaimana dengan sedikitnya waktu, hidup ala single parent karena sang suami mengurus jutaan orang lain?
Belum lagi kesibukannya memimpin PKK dan mengurus warga rusun.
Tapi dia tetap seorang ibu.
Anakku yang sekelas dengan anaknya mengatakan, mamanya Daud sesekali masih menjemput ke sekolah.
Dia tetap seorang ibu

Bagaimana dengan Ahok?
Ingatlah, Ahok itu hanya manusia biasa.
Selama ini dia diidentikkan dengan ekstrim.
Pembencinya menyamakan dia dengan setan, sementara pengagumnya menganggap dia malaikat

Sejatinya Ahok hanya orang biasa.
Dia punya banyak kekurangan seperti kita.
Diluar temperamen nya yang tinggi dia juga bisa lelah.
Lelah fisik ataupun mental.
Diluar tubuh tinggi besar dan suaranya yang mantap kadang arogan, dengan tawa dan semangatnya, dia tetap manusia biasa

Dia tipikal orang yg berkomitmen memenuhi tugas dan tanggung jawabnya.
Dan sang waktu tak pernah cukup.
Sekoper pekerjaan masih dibawanya pulang.
Dan dikerjakan sampai tengah malam

Dalam hatinyapun dia menginginkan kebersamaan dengan istri dan anaknya.
Selama ini mereka hanya bersama saat menjalankan ritual doa pagi bersama.
Sebelum putusan pengadilan, dia berkata akan mengajak keluarganya berlibur setelah masa jabatannya usai.
Dia sempat menanyakan padaku, apa dia bisa ke Bali tanpa dikerubuti orang untuk berfoto bersama?
Betapa dia mendambakan quality time bersama keluarganya.
Betapa dia ingin mencicipi kehidupan normal bersama anak dan istrinya.

Jangan bilang Ahok tidak penyabar.
Hanya seorang penyabar yang bisa melayani begitu banyak aduan warga.
Orang-orang yang sebagian besar pendidikannya rendah, panik, menangis dengan tata bahasa yang berantakan.
Semua dilayani satu persatu.
Pernahkan kita menempatkan diri sebagai seorang Basuki Tjahaja Purnama?
Cukup sabarkah kita kalau harus menghadapi pengaduan seperti itu setiap hari?

Tekanan politik luar biasa dan ancaman keselamatan keluarga.
Matipun dia tak takut.
Dia hanya tau dia memperjuangkan kebenaran dan memenuhi amanat ayahnya untuk menjadi pejabat yang bisa melayani dan membantu masyarakat

Bagaimana rasanya menjadi anak-anak Ahok?
Saat Papa mereka seolah bukan milik mereka lagi.
Papa mereka milik anak-anak rusun, pengemudi gojek dan warga bantaran kali.
Betapa mereka ingin bermanja dengan Papa mereka

Aku menyaksikan Ahok datang saat wisuda Natania.
Dia datang agak terlambat, dan duduk di barisan belakang.
Dia tak beda dengan Ayah lainnya.
Pun saat menonton anaknya ballet performance

Mendapat sorotan luar biasa, menyaksikan demo besar untuk memenjarakan Ayah mereka, menonton siaran dan membaca berita dimana orang-orang berteriak akan membakar, membunuh, menyate Ayah mereka.
Darah Ayah mereka halal.
Rumah mereka dijaga sekompi polisi saat demo besar berlangsung untuk menumbangkan sang Ayah.
Terbayangkah seberapa trauma dan luka batin anak-anak itu?

Daud yang kebingungan saat banyak orang di sekolah menepuk bahunya memberi simpati dan memintanya untuk bersabar.
Dia tak tau saat itu Papanya sudah berada di dalam sel Cipinang.
Anakku bercerita Daud tak masuk sekolah selama beberapa hari kemudian.
Panas demam

Pernahkah kita membayangkan kehidupan yang dijalani Basuki Tjahaja Purnama, Veronica Tan, Nicholas, Natania dan Daud?

Mereka hanya sekumpulan manusia biasa.
Yang kebetulan berayahkan seseorang yang bertekad mengabdi untuk negri ini, dengan prinsipnya yg kuat untuk menjalankan pemerintahan yang bersih dan siap bertaruh nyawa untuk membela nilai-nilai yang dia yakini.
Sekali lagi mereka manusia biasa, termasuk Basuki Tjahaja Purnama

Kita tak pernah tau sesungguhnya sebesar apa ancaman dan tekanan yang mereka hadapi.
Bahkan mungkin tak bisa membayangkannya.
Kita tak pernah tau apa yang terjadi di dalam keluarga mereka.
Apa yang berkecamuk di hati mereka.

Ahok bukan seorang aktor.
Dia pantang pencitraan.
Dia pantang bersandiwara.
Tersenyum bahagia bersama keluarga di depan publik, tapi kisruh di dalam dan bergelimang perempuan di belakang layar, bukan gaya seorang Ahok

Dia tak pernah malu menunjukkan kekurangannya.
Dia sosok yang apa adanya.
Sosok yang sangat langka di negri ini.
Dia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang luar biasa, dan Tuhan menghadiahkannya untuk negeri ini

Jangan hakimi Ahok, jangan hakimi Vero.
Kejadian yang menimpa mereka bisa menimpa setiap pasangan di bumi ini karena kita, Ahok dan Vero hanya orang biasa

Kita doakan Tuhan memberi yang terbaik bagi mereka.
Bagaimanapun jalanan terjal penuh hujan, petir dan badai sudah mereka lalui.
Semoga mereka tetap bisa bergandeng tangan mencapai garis finis dan menyongsong cahaya, pelangi dan cerahnya hidup bersama anak-anak tersayang. (Wanda Ponika @wandaponika. Penulis seorang ibu rumah tangga).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here